salam,
maaf jika posting berikut ini tidak terkait dengan sastra. tapi menurut saya
penting karena sastra di dalam Islam akan tergerus jika daya fun di dalam
masyarakat muslim sudah hilang.
salam,
Husni
DISKUSI TERBATAS
Are Moslems Humorless people?: Islamism and the Politics of Fun
Slogan “masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh” (udkhuluu fissilmi kaaffah)
seringkali diartikan bahwa seluruh gerak langkah umat Islam sudah diatur dalam
syariat Islam. Doktrin Islam mengatur mulai dari ritual, hubungan sosial,
hingga tata cara keluar-masuk toilet. Ungkapan tersebut membuat seorang muslim
sedemikian rigid dalam berktifitas. Bahkan, di beberapa tempat, alat musik
tidak boleh. Demikian juga dengan gambar dan film. Misalnya, novel The Kite
Runner karya Kholed Hosseini memperlihatkan betapa pemerintahan Thaliban
menghilangkan beberapa tradisi kesenangan anak-anak di Afganistan: main
layangan. Apakah umat Islam kini sudah kehilangan rasa—dalam Istilah Asef
Bayat—funnya? jika demikian, apakah itu terjadi karena doktrin atau konteks
sosial budaya? Dan apa hubungan Islamis dengan politik fun itu?
Untuk itulah, Majalah Madina, Internasional Center for Islam and Plu-ralism
(ICIP), dan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) menyeleggarakan
diskusi terbatas bersama Prof. Dr. Asef Bayat, direktur ISIM, Belanda dengan
tema Are Moslems Humorless people?: Islamism and the Politics of Fun. Tema di
atas diangkat bedasar artikelnya berjudul Islamism and the Politics of Fun yang
dimuat di Public Culture Journals Vol 19, No. 3, tahun 2007.
Diskusi akan dilaksanakan pada:
Hari/Tgl : Jumat, 11 Juli 2008
Waktu : Pukul 14.00-16.00 WIB
Tempat : Paramadina Plaza I,Jl. Metro Pondok Indah, Kav UA 21-22,
Jakarta Selatan.
Pembicara : Prof. Dr. Asef Bayat (Direktur ISIM, Belanda)
CP: Husni Mubarok (021-98585175)
___________________________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/