Tidak seperti sebagian Ilmu yang lain disiplin Ilmu Filsafat mengawali lakon 
perjalanannya dengan berlandaskan dan bertumpu pada kaidah-kaidah subtil dan 
asas yang terjelaskan. Ilmu ini menolak konsep “ujug-ujug” , ia juga mencegah 
hadirnya falasi dan kesalahan berfikir didalalm  istinbat dan berargumentasi 
dengan melambarinya dengan kaidah-kaidah dasar Ilmu logika.
 
Ilmu logika memainkan peranan yang sangat penting menjadi mitra setia filsafat 
bahkan ketika ilmu ini masih mewadahi sejumlah Ilmu yang lainnya semacam 
matematika, fisika, ilmu retorika, bait-bait syair dan puisi
 
Namun pada sisi yang berbeda Filsafat layaknya seperti rumpun ilmu yang lain 
memiliki cabang dan madzab yang cukup beragam, dan menamai aliran pemikirannya 
dengan sebutan yang tak kalah seru dan banyaknya. Namun demikan sekali lagi 
pemikiran spekulatif adalah area terlarang untuk bersanding dengan filsafat.
 
Pertanyaannya adalah apakah semua aliran pemikiran filsafat memenuhi criteria 
demikan?  Jawabnya adalah Tidak! Tidak semua system berfikir logika falsafi 
menjadi ladasan utama, alih-alih membawa kepada pemahaman yang lebih kokoh dan 
bergairah yang terjadi justru  adalah abrasi terhadap arus utama filsafat dan 
menjadi mutan dan virus aditif baru yang sangat redukttif.
 
Salah satu isyu dan dan tema dasar fisafat adalah Maujud dan ketergori sifat 
yang disandangnya, filsafat Islam sekali lagi telah melesat jauh meninggalkan 
rekan-rekan mereka dibarat sana. Pada saat saya katakana fisafat Islam yang 
saya maksudkan adalah periode dan paska Filsafat Eksistensialism Ibnu Sina yang 
dikenal cukup luas didunia barat, namun hanya dikenal sebagai Tabib dan dokter 
justru dilingkuangan intelektual Islam. Aneh memang! Itulah yang menjadikan 
kegerahan orang semcam Prof  Mulayadi kertanegara yang sempat berbincang dengan 
saya beberapa waktu yang lalu. Saya juga seolah bisa menyelami keagalauan yang 
sama yang diraskan Prof Abdul Hadi wb dan Prof Aflatun dalam kunjungannya yang 
sempat berbincang lama dengan saya.
 
Filsafat Sadraiyan itulah yang sebenarnya sering saya rekomendasikan, sebuah 
system filsafat yang berhasil menyudahi probelmatika serius dikalangan tiga 
arus utama pemikiran didalam tradisi ilmu dan Agama, 
 
Sadr al-Din Muhammad Ibn Ibrahim Shirazi  in his “Transcendental Philosophy” 
tries to come closer to Irfan ( Islamic mysticism ). One of occasions of such a 
conversion is in the  debate over the subject matter for his philosophy. By 
suggesting “unconditional existent” as the subject matter of transcendent 
philosophy, he aims a kind of harmony and conversion with theoretical ‘irfan’. 
Of course of them approaches the issue with its unique methodology, namely, 
rational argument in transcendent philosophy, and intuition and 
heart-illumination in theoretical ‘irfan’. 
 
Marilah sejenak kita kembali pada diskusi sebelumya, dikatakan bahwa dua 
kuiditas memiliki personality yang khas dan mengurung semua maujud yang ada, 
-mengikuti alur berfikir  Derrida dan audi- ( enakkan saya sandingkan ) bahwa 
kwalitas “ sesuatu “ adalah sebuah  potensialitas atau sebuah mafhum mumkin, 
yang keberadaannya bertumpu pada adanya sebuah realitas lain sebagai sebuah 
eksistensi, yang disebut sebagai mumkin bil ghair dalam istilah filsafat islam. 



      

Kirim email ke