--- In [email protected], hellaz hellaz <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > hmm... saya tunggu kelanjutannya bung..!! > > > > > > > > > > > > Tidak seperti sebagian Ilmu yang lain disiplin Ilmu Filsafat mengawali lakon perjalanannya dengan berlandaskan dan bertumpu pada kaidah-kaidah subtil dan asas yang terjelaskan. Ilmu ini menolak konsep "ujug-ujug" , ia juga mencegah hadirnya falasi dan kesalahan berfikir didalalm istinbat dan berargumentasi dengan melambarinya dengan kaidah-kaidah dasar Ilmu logika. > > Ilmu logika memainkan peranan yang sangat penting menjadi mitra setia filsafat bahkan ketika ilmu ini masih mewadahi sejumlah Ilmu yang lainnya semacam matematika, fisika, ilmu retorika, bait-bait syair dan puisi > > Namun pada sisi yang berbeda Filsafat layaknya seperti rumpun ilmu yang lain memiliki cabang dan madzab yang cukup beragam, dan menamai aliran pemikirannya dengan sebutan yang tak kalah seru dan banyaknya. Namun demikan sekali lagi pemikiran spekulatif adalah area terlarang untuk bersanding dengan filsafat. > > Pertanyaannya adalah apakah semua aliran pemikiran filsafat memenuhi criteria demikan? Jawabnya adalah Tidak! Tidak semua system berfikir logika falsafi menjadi ladasan utama, alih-alih membawa kepada pemahaman yang lebih kokoh dan bergairah yang terjadi justru adalah abrasi terhadap arus utama filsafat dan menjadi mutan dan virus aditif baru yang sangat redukttif. > > Salah satu isyu dan dan tema dasar fisafat adalah Maujud dan ketergori sifat yang disandangnya, filsafat Islam sekali lagi telah melesat jauh meninggalkan rekan-rekan mereka dibarat sana. Pada saat saya katakana fisafat Islam yang saya maksudkan adalah periode dan paska Filsafat Eksistensialism Ibnu Sina yang dikenal cukup luas didunia barat, namun hanya dikenal sebagai Tabib dan dokter justru dilingkuangan intelektual Islam. Aneh memang! Itulah yang menjadikan kegerahan orang semcam Prof Mulayadi kertanegara yang sempat berbincang dengan saya beberapa waktu yang lalu. Saya juga seolah bisa menyelami keagalauan yang sama yang diraskan Prof Abdul Hadi wb dan Prof Aflatun dalam kunjungannya yang sempat berbincang lama dengan saya. > > Filsafat Sadraiyan itulah yang sebenarnya sering saya rekomendasikan, sebuah system filsafat yang berhasil menyudahi probelmatika serius dikalangan tiga arus utama pemikiran didalam tradisi ilmu dan Agama, > > Sadr al-Din Muhammad Ibn Ibrahim Shirazi in his "Transcendental Philosophy" tries to come closer to Irfan ( Islamic mysticism ). One of occasions of such a conversion is in the debate over the subject matter for his philosophy. By suggesting "unconditional existent" as the subject matter of transcendent philosophy, he aims a kind of harmony and conversion with theoretical `irfan'. Of course of them approaches the issue with its unique methodology, namely, rational argument in transcendent philosophy, and intuition and heart-illumination in theoretical `irfan'. > > Marilah sejenak kita kembali pada diskusi sebelumya, dikatakan bahwa dua kuiditas memiliki personality yang khas dan mengurung semua maujud yang ada, -mengikuti alur berfikir Derrida dan audi- ( enakkan saya sandingkan ) bahwa kwalitas " sesuatu " adalah sebuah potensialitas atau sebuah mafhum mumkin, yang keberadaannya bertumpu pada adanya sebuah realitas lain sebagai sebuah eksistensi, yang disebut sebagai mumkin bil ghair dalam istilah filsafat islam. > > Sementara `tanda' adalah sebuah entitas pula yang menyandang sebagai maujud mumkin, yang keberadaannya baru disadari ketika ada korpus dan maujud yang disebut dengan `sesuatu' hadir disekitar kemaujudannya. > > Kenyataan demikian melahirkan kemusykilan definitive berkaitan dengan wujud azali, mengapa bisa demikian karena sangkaan kita bahwa adanya `sesuatu' adalah absurd mengingat kita tak akan pernah mampu mengatakan apapun tentangnya selagi `tanda' tak pernah bersekutu dengan kata `tanda' yang anda rekomendasikan. > > Bagaimana kita mampu mendiskripsikan tentang `sesuatu' sementara sesuatu sendiri adalah ketiadaan murni didepan `tanda'. Sewaktu kita mengabstraksi sebuah `maujud' (nama lain dari `sesuatu') sejatinya didetik yang sama adalah `tanda' seperti yang anda yakini. > > > Korelasi eksistensial antara `sesuatu' dan `tanda' pada akhirnya akan menemui kegagalan epistemology yang cukup akut karena kesalahan peletakan dan bangunan kohesi diantara keduanya, kenapa? Karena keduanya adalah wujud potensialiti. > > Bagaimana jika dikatakan bahwa `sesuatu' saking mahanya sehingga tak mungkin memperkenalkan dirinya tanpa melewati tanda-tanda sebagai atrefak keberadaannya? > > Jika keyakina tersebut ada maka sekali lagi kata `sesuatu' yang saking mahanya adalah kalimat yang sama yang diujarkan sbb karena sesuatu+tanda saking mahanya maka ia memperkenalkan dirinya melalui `sesuatu+tanda' . jika tidak demikian untuk yang kesiakan kalinya saya katakana bahwa `sesuatu' yang terpisah dengan `tanda' adalah absurditas tak tak terkenali dengan apapun. Ia adalah adam atau ketiadaan. Semua yang kita bayangkan tentang sesuatu adalah `sesuatu' yang telah tertandai atau tertandakan. > > Inilah peoblematika eksistensialisme, lalu bagaimana memecahkan kasus dan tema filosofis diatas. Filsafat Iluminatif Syaikh Israq memberikan sebuah alur jawaban paradoksial diatas dengan sangat meyakinkan, problematika ontologism menjadi titik acuan dalam menjelaskan argumentasi yang dibangunnya. Namun demikian keterdahuluan mahiyah atas lokus maujud yang direkomendasikannya mendapat tantangan yang cukup serius dari Mutalihin Mulla Sadra yang memberikan sebuah abstraksi baru yang sangat brelian didalam menjawab serangakian persoalan filosofis ini. > > Bahkan bukan hanya itu dalam Theosofi yang dibangunnya puluhan tema-tema besar filsfat mendapatkan sebuah jawabannya dengan sangat mengagumkan, dialah yang berhasil meneguhkan sebuah konsep taskikul wujud bahkan yang tak pernah sekalipun ada manusia yang memikirkan dan memberikan penjelasan sebelumnya. > > > maaf saya terburu-buru mau pergi ni.. > bersambung >
------------------------------------ ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
