Bedah Buku
MATINYA JIHAD: PENGALAMAN MENJADI ISLAMIS DI BARAT
 
Hari/ Tanggal  : Rabu, 27 Agustus 2008
Pukul            : 16.00-18.00 WIB
Tempat         : Wisma Paramadina, Pondok Indah Plaza III, Blok F 4-6, Jakarta 
Selatan.
Pembicara
·         Ihsan Ali-Fauzi (Ahli Teori Gerakan Sosial)
·         Burhanudin Muhtadi (Penulis Tesis tentang PKS dari sudut teori 
Gerakan Sosial)
·         Novriantoni Kahar (Meminati Doktrin Islamisme)
·         Hikmat Darmawan (Pemerhati Gerakan Tarbiyah di Jakarta)
Catatan: Bagi peserta aktif, kami menyediakan bingkisan dari Penerbit Mizan dan 
Penerbit Alvabet, dan Majalah MADINA.
 
Dasar Pemikiran
Buku Ed Husen, Matinya Semangat Jihad: Catatan Perjalanan Seorang Islamis, yang 
diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Alvabet merupakan kisah nyata seorang 
muslim Inggris yang terlibat masuk gerakan Islamisme lalu keluar. Ia mendapat 
pendidikan di lingkungan Islam spiritual. Kakeknya seorang ulama yang 
mengharamkan Islam menjadi alat politik. Ketika, ia beranjak dewasa, kemudian 
ia berkenalan dengen orang-orang yang tak hanya mengkampanyekan Islam sebagai 
sistem sosial, tapi juga Islam harus menguasai dunia dengan sistem khilafah. 
Islam adalah solusi bagi kekacauan di Bosnia dan palestina. Islam adalah solusi 
untuk kesemrawutan dunia. Saat itulah ia masuk lingkaran Hizbut Tahrir. Usia 
Husen semakin matang. Ia kemudian mulai sadar bahwa apa yang dilakukan oleh 
kawan-kawannya di Hizbu Tahrir tidak realistis dan terkadang melanggar norma 
sosial. Mislanya, dia menunjukan bahwa anggota Hizbu Tahrir seringkali tidak 
bayar pajak mobil. Mereka beralasan,
 Inggris adalah kuffar atau musuh. Mereka mendasarkan diri pada doktrin bahwa 
tidak ada moral. Baik dan buruk tergantung ada-tidaknya perintak dari Tuhan 
dalam al-Quran.
Di lain pihak, Mizan menerbitkan novel The Reluctant Fundamentalist: Lelaki 
yang Terbuang. Novel ini memiliki semangat yang sama: pembalikan identitas. 
Novel ini berkisah tentang Changez, seorang imigran Pakistan yang berhasil 
menggapai mimpinya di Amerika. Ia tergolong imigran yang sukses. Betapa tidak, 
ia berhasil mendapat posisi yang bagus di firma hukum terkenal. Namun, 
kenyamanan yang ia rasakan di Amerikaberubah perlahan seiring peristiwa 11 
September. Perang melawan teroris yang semakin menyudutkan Islam mendorongnya 
untuk masuk ke dalam gerakan Islamis. Pembalikan identitas yang semula ia 
cintai menjadi musuh utama. 
Dua kisah ini menarik untuk kita perbincangkan. Di Indonesia belakangan ini 
gerakan Islamisme tumbuh subur. Sangat relevan kita membincang kemungkinan masa 
depan kaum Islamis yang kini ada di indonesia. Dan, apakah kelak pada saat 
anggota gerakan Islamis sudah dewasa dalam berpikir akan meninggalkan gerakan 
ini atau malah lebih kuat?
Untuk memahami gerakan seperti ini, kita perlu mengkaji kisah ini dari dua 
sudut pandang: Islamisme sebagai doktrin dan Islamisme sebagai gerakan sosial. 
Dari sudut pandangan doktrin bagaimana kita memetakan genealogi pemikiran 
Islamisme dan di mana letak perpecahan mereka dalam doktrin keagamaan? 
Kemudian, dari sisi gerakan sosial, bagaimana kita memahami orang yang keluar 
dari gerakan seperti ini pada saat ia mengenal lebih dalam? Dan sejauh mana 
gerakan ini akan bertahan?
Untuk itulah Yayasan wakaf Paramadina, Majalah MADINA, Penerbit Mizan dan 
Penerbit Alvabet menyelenggarakan diskusi dengan tema: Matinya Jihad: 
Pengalaman menjadi Islamis di Barat.


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/

Kirim email ke