Selamat Dari Kehancuran

By:  agussyafii

Di Rumah Amalia seorang bapak bertutur kepada saya, pertengkaran demi 
pertengkaran mewarnai rumah tangga kami, tak terelakkan lagi. Sampai pada suatu 
hari istrinya mengancam, memaksa minta cerai. Dalam keadaan emosi dirinya 
menjawab tantangan itu, 'Siapa takut? Ayo kita urus..!' Meskipun orang tua dan 
saudaranya menahan agar bersabar, toh istrinya tetap memaksa malam itu juga 
pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa anak laki-lakinya yang baru berumur 
satu tahun, sementara anak laki-laki yang sulung berumur empat tahun tetap 
bersamanya. 

Setelah bepergian istrinya, terasa betapa repotnya harus memasak, mengurus 
rumah tangga, mencuci, membersihkan lantai, memandikan anak, memakaikan baju, 
menyuapi. Padahal dirinya juga harus membuka toko yang ada di depan rumah. Rasa 
sepi, marah, dendam, kecewa, kesal atas semua yang terjadi bercampur aduk dalam 
pikirannya. Hidupnya menjadi kacau, rumah dan tokonya lama-lama tak terurus, 
anaknya dan dirinya terbengkalai, mulailah terseret oleh pengaruh judi dan 
kehidupan malam. Makin lama usahanya semakin habis. Orang tuanya marah atas 
semua kelakuaan dan cara hidupnya.

Matanya nampak berkaca-kaca, wajahnya terlihat letih. Malam itu di Rumah Amalia 
terasa hening. Tidak lama kemudian istri saya menyuguhkan teh manis dan kue. 
Beberapa kali terlihat tangannya menyeka air mata yang sudah berjatuhan 
dipipinya. Saya kemudian mempersilahkan untuk mengambil air wudhu dan 
mengingatkan bahwa apapun yang terjadi pada dirinya untuk mengembalikan semua 
masalah hidupnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menerima dengan ikhlas 
apapun yang telah terjadi. 'Jemputlah istri dan meminta maaf adalah tindakan 
mulia agar semuanya berkumpul kembali,' pesan saya padanya sebelum akhirnya 
pamit pulang.

Tidak peduli akan harga diri atau kesombongan. Dirinya dan anaknya membutuhkan 
sosok istrinya dalam segala hal, meski dia tahu bagaimana kelakuan dan 
sifatnnya. Berkali-kali menjemput istrinya meskipun orang tua melarang untuk 
merendahkan diri sedemikian rupa. Akhirnya sang istri mau kembali ke rumah. 
Hari-hari berlalu jauh lebih indah dibanding sebelumnya. Keadaan ekonomi 
semakin membaik, kata-kata pahit yang biasa keluar sudah dilupakan. Suara 
lantunan ayat suci al-Quran senantiasa terdengar setiap sehabis sholat maghrib. 
Ujian dan cobaan yang Allah berikan pada keluargannya telah mampu dilewatinya 
dengan baik. Keluarganya selamat dari kehancuran dengan memohon pertolongan 
kepada Allah.  

Di hari kemenangan, bersama istri dan anak-anaknya, beliau hadir dengan wajah 
penuh senyuman, senyum penuh keberkahan dan kemuliaan di Rumah Amalia. Hari 
yang indah terasa syahdu disaat berkumandang takbir menyentuh kalbu. Saya juga 
bisa merasakan kebahagiaan yang begitu indah. 'Terima kasih Mas Agus, 
Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah. Allah begitu sangat menyayangi kami 
sekeluarga yang telah menyelamatkan kami dari kehancuran,' ucapnya penuh syukur 
kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Subhanallah..

Wassalam,
agussyafii
--
Yuk hadir pada kegiatan 'Amalia Nan Fitri' (MANAF), di Rumah Amalia, Jl. 
Subagyo IV Blok ii, No. 23 Komplek Peruri, Ciledug. pada hari Ahad, tanggal 10 
Oktober 2010. Jam 9 s.d 11 Pagi. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di 
http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 
087 8777 12 431. 




      

Kirim email ke