Ceramah Harry A. Poeze
Tan Malaka: Petualangannya Antara Fakta dan Fiksi
Senin, 18 Oktober 2010, 16:00 WIB
Serambi Salihara
Terbuka untuk umum & gratis

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka adalah sosok pejuang kemerdekaan 
Indonesia yang militan, radikal, dan revolusioner. Selama hidupnya dia pernah 
aktif di Partai Komunis Indonesia dan menjabat wakil Komintern di Asia yang 
berkedudukan di Canton. Ia bukan hanya pengecam yang keras untuk pemerintah 
kolonial Belanda, tetapi juga pemerintahan Soekarno-Hatta. Meski seorang 
komunis ia tidak sepenuhnya cocok dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).  Ia 
pernah mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) dan Partai Murba.

Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional berdasarkan 
Keputusan Presiden RI No. 53/28 Maret 1963. Meskipun begitu, selalu ada yang 
misterius dalam hidupnya. Sebagaimana kata-katanya, “Bergelap-gelaplah dalam 
terang, dan berterang-teranglah dalam gelap.” Detik-detik kematiannya tetaplah 
sebuah misteri. Setidaknya ada lima versi kematian Tan Malaka. Sejarahwan 
Belanda Harry A. Poeze meyakini bahwa Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 
1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. 
Mayatnya kemudian dikuburkan di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, 
Jawa Timur. Pada 12 September tahun silam, atas petunjuk Poeze, makam yang 
diduga sebagai tempat peristirahatan Tan Malaka itu dibongkar oleh tim forensik 
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Dalam ceramah ini, Harry A. Poeze selain akan memberikan hasil-hasil 
penelitiannya yang terbaru tentang Tan Malaka, ia akan menunjukkan beberapa 
foto dan film, serta rekaman komposisi orang Belanda, Peter Schat, yang 
diinspirasi oleh Tan Malaka.


Kirim email ke