Berselimut Air Mata

By: agussyafii

Malam temaram, udara dingin terasa menusuk tulang. Rumah Amalia kedatangan 
tamu, seorang ibu bersama dua putranya. Terdengar lantunan ayat suci al-Quran 
anak-anak Amalia. 
Beliau dan kedua putranya turut membaca Yasin. Memanjatkan untuk suaminya yang 
tercinta. Hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk mengabdi kepada suaminya. 
Perjalanan hidupnya terjal dan berliku, penuh onak dan duri. Luka perih dihati 
tak tertahankan. Hidupnya bagai berselimutkan air amata.

Kisah yang dituturkan berawal dari sebuah kesuksesan yang diraih suaminya 
membuat hidup keluarga menjadi lebih baik. Anak-anak yang ke sekolah jalan kaki 
menjadi diantar pakai mobil. Rumah yang dulu panas kemudian ada pendingin. 
Kebutuhan hidup yang serba sulit menjadi tercukupi bahkan melimpah. 'Hidup kami 
bahagia Mas..'tutur beliau. Dipuncak kariernya sang suami terlihat lebih sayang 
kepada keluarga. Sampai kemudian dikejutkan oleh kenyataan pahit datang 
tiba-tiba. Suaminya meninggalkan rumah bersama perempuan lain yang justru 
dikenalnya. Hatinya hancur karena harus banting tulang untuk menghidupi 
anak-anaknya. 'Hanya pada Allahlah saya memohon dan berserah diri..' ungkap 
beliau. Sampai batas titik nadir Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji dirinya.

Bertahun-tahun suami pergi meninggalkan dirinya dan anak2nya. Tiba-tiba 
suaminya datang kembali ke rumah dengan membawa dua anak dari istri mudanya. 
Suaminya bercerita bahwa istri mudanya telah meninggal dunia, usahanya 
mengalami kebangkrutan dan menjadi pengangguran. Dipeluk suaminya dengan 
tertumpah semua air mata. Didekap erat tubuh suaminya, dia bersedih sekaligus 
gembira karena suaminya telah kembali. Air matanya tak terbendung. Seolah 
penderitaan yang dialami selama ini tak sebanding dengan penderitaan yang 
dialami oleh sang suami.

'Rumah menjadi ramai karena anggota keluarga bertambah, biasa kami bertiga 
sekarang menjadi berenam,' kata beliau. 'Saya mengajarkan kepada anak-anak 
bagaimana mengubah benci menjadi cinta karena begitulah Nabi Muhammad 
mengajarkan kepada kita sampai akhirnya anak-anak saya menerima dengan baik, 
saudara-saudara dari istri muda ayahnya. Mereka berkumpul dan bermain bagai 
saudara sekandung.' tutur sang Ibu terlihat wajahnya yang telah termakan usia. 
Setiap hari suaminya pergi mencari nafkah, berangkat pagi sampai pulang malam. 
Pada suatu hari suaminya sakit terkena Bronchitis dan muntah darah. Dua bulan 
kemudian sang suami meninggal dunia dipangkuannya. Dielus dan dibelai rambut 
sang suami yang telah memutih. Meninggal dengan senyuman dengan kasih sayang 
seorang istri. Semua anak-anaknya menangisi kepergian ayahnya. Ayah yang 
dicintai oleh anak-anak dan istrinya.

'Mas Agus, Puluhan tahun saya benci, marah dan kesal. Allah menyentuh hati saya 
agar saya bisa memaafkan, mengasihi dan menyayangi kepada orang-orang yang 
telah menyakiti hati saya bahkan tiada kenal lelah saya berdoa memohon kepada 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar keluarga kami diberkahi dan Allah mengabulkan 
doa  saya, memberikan kami dan keluarga sebuah kebahagiaan' Ucap beliau dengan 
air mata yang bercucuran. Subhnallah...

---
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan 
dalam urusannya. (QS Ath-Thalaq 4).

Wassalam,
agussyafii
--
Teman. Yuk, hadir pada kegiatan 'Amalia Berqurban' (AMAR) di Rumah Amalia, Jl. 
Subagyo IV Blok ii, No. 23 Komplek Peruri, Ciledug. pada hari Rabu, tanggal 17 
November 2010. Jam 9 s.d 11 Pagi. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di 
http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafiiatau sms di 
087 8777 12 431




      

Kirim email ke