Bentengilah Diri Dengan Sabar

By: M. Agus Syafii

Ketika kenyataan yang tak terelakkan, orang yang menjadi tempat kita bersandar 
telah tiada, terenggut dari sisi kita karena kematian atau perceraian maka kita 
merasakan sedih, duka, gelisah, takut, khawatir, benci, dendam, risau, 
sekaligus resah, campur aduk tak menentu dan tak tahu apa yang harus dilakukan, 
tentunya hal itu sangatlah manusiawi. Sepanjang anda tidak larut dalam 
kesedihan tak kunjung usai. Bersyukurlah bahwa perasaan itu normal karena 
respon dari apa yang sedang terjadi.

Takut dan khawatir merupakan kondisi yang layak dimiliki oleh setiap orang yang 
dalam proses penyesuaian dari arah kehidupan tanpa teman hidup. Anda tidak 
selamanya selalu dibantu dan dibimbing oleh pasangan hidup anda dan kini anda 
harus berjalan seorang diri, tentu saja merasa takut dan khawatir. Namun 
perasaan semacam itu tidak menjadi langkah anda terhambat.  Kita adalah makhluk 
Allah yang dimuliakan olehNya. Setiap orang dari kita adalah pribadi yang 
berharga. Di dalam diri anda ada sumber untuk mengontrol kehidupan anda. Anda 
berhak memutuskan dan memilih apa yang hendak anda kerjakan. Anda juga berhak 
untuk menjadi bahagia, damai dan hidup mulia.

Kita patutlah menyadari bahwa kita tidak dapat mengontrol orang lain dan 
tindakannya, apapun yang dikerjakan olehnya, anda dapat menyarankan namun tidak 
bisa mengendalikan hati, pikiran dan keinginannya. Meski orang tersebut adalah 
anak, istri, suami bahkan orang tua anda sendiri bahkan orang yang bekerja 
dengan kita, yang menggaji kita, kita juga tidak berkuasa atas hati dan 
pikirannya. Memang benar bisa menyuruh pembantu atau bawahan, mereka mau 
melakukan apa yang kita minta tetapi kita tidak bisa mengendalikan hati dan 
pikirannya. Ada satu hal yang harus kita garis bawahi bahwa cinta dan kasih 
sayang tidak dapat dipaksakan. Dalam kasus perceraian atau perpisahan bekas 
pasangan hidup bisa saja tidak memberikan jaminan hidup sebagaimana yang 
diputuskan pengadilan, tidak menjenguk anak, seperti yang dijanjikannya, 
menyebarkan fitnah, kabar buruk tentang anda, berbagai hal yang membuat anda 
marah dan sakit hati. Cobalah untuk mengatasi dan keluar dari
 prasangka buruk dengan segala daya dan upaya agar tidak membuat kita semakin 
terpuruk. 

Benteng satu-satunya adalah kesabaran. Sabar berarti memusatkan diri untuk 
melihat kekuatan di dalam diri anda. Tak perlu menengok kanan dan kiri, siapa 
kira2 yang dapat menolong diri anda karena sesungguhnya yang bisa menolong 
adalah anda sendiri orangnya. Anda sendiri dengan segala kemampuan dengan 
pribadi anda yang kokoh dan mengagumkan dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa 
Ta'ala anda dapat menyelamatkan hidup anda. Orang lain hanyalah faktor 
pendukung. Pusatnya adalah diri anda sendiri dan anda akan menemukan suatu 
kekuatan yang mengagumkan dalam diri anda yang selama ini anda tidak sadari 
yaitu kemampuan berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada apapun yang 
telah menjadi kehendakNya.

'Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, 
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira 
bagi orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah, 
mereka mengucapkan, 'Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan 
kembali kepadaNya' Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan 
rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan 
petunjuk.' (QS. al-Baqarah : 155-157).

Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Teman. Yuk, hadir pada kegiatan 'Amalia Berqurban' (AMAR) di Rumah Amalia, Jl. 
Subagyo IV Blok ii, No. 23 Komplek Peruri, Ciledug. pada hari Rabu, tanggal 17 
November 2010. Jam 9 s.d 11 Pagi. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda 
dihttp://agussyafii.blogspot.com/,http://www.twitter.com/agussyafiiatausms di 
087 8777 12 431




      

Kirim email ke