Zaitun, Hapuslah AIr Matamu

By: M. Agus Syafii

Malam ini dingin terasa menusuk tulang. Anak-anak Amalia berkumpul dan berbagi 
cerita. Terdengar suara yang sedang bertutur, nampak anak-anak Amalia 
mendengarkan. Suasana riuh berubah menjadi hening. 'Mamahnya Zaitun berhenti di 
depan pintu menghalangi ayahnya jangan pergi namun ayahnya tetap meninggalkan 
rumah. Kemudian mamahnya juga pergi meninggalkan rumah.' 

Suara itu bergetar. Zaitun menangis terisak-isak. Teman-temannya ikut menangis. 
'Zaitun kangen ayah dan mamah.' Kata Zaitun lirih. Hati terasa perih. Bagaimana 
mungkin ada seorang ayah dan ibu yang tega meninggalkan anaknya dalam 
kesendirian. Diasuh oleh tetangganya, tanpa saudara dan kerabat.

'Kenapa anak sekecil Zaitun harus menanggung derita itu Ya Allah?' Hati kami 
bagai teriris dalam kesunyian. Merasakan betapa sakitnya hati Zaitun dalam 
kesendirian tanpa ayah dan ibu entah pergi kemana. 'Hapuslah air matamu Zaitun, 
masih ada kami yang menemani Zaitun.' Kata Riska memeluk Zaitun.  Udara malam 
ini dingin terasa menusuk tulang, di Rumah Amalia terbanjiri air mata. Satu 
persatu anak-anak Amalia memeluk Zaitun seolah tak ingin berpisah karena kami 
bersama dalam suka maupun duka.

Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Teman. Yuk, hadir pada kegiatan 'Amalia Berqurban' (AMAR) di Rumah Amalia, Jl. 
Subagyo IV Blok ii, No. 23 Komplek Peruri, Ciledug. pada hari Rabu, tanggal 17 
November 2010. Jam 9 s.d 11 Pagi. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda 
dihttp://agussyafii.blogspot.com/,http://www.twitter.com/agussyafiiatau SMS di 
087 8777 12 431






      

Kirim email ke