Pak Tua, Penarik Gerobak Sampah
By: M. Agus Syafii
Entah kenapa pagi ini saya teringat seorang bapak penarik gerobak sampah.
Setiap kali bertemu saya selalu menyapa dengan senyuman pada wajahnya yang
keriput. 'Mas Agus, tindak (berangkat)?' sapanya. 'Inggih pak, udah agak
terlambat nih..' kata saya. Sepuluh tahun lalu saya mengenal beliau karena suka
berjamaah dimasjid, biasa selepas sholat maghrib berjamaah suka mengajak
ngobrol tentang kehidupan. Terkadang saya diajak ke rumah beliau. Kata
istrinya, bapak ini suka sekali menyenangkan hati orang lain, setiap ada
pedagang yang ke rumah selalu saja dibelinya, padahal bapak belum tentu butuh
barang itu. Itulah kata istrinya yang selalu saya ingat tentang beliau.
Setelah sekian lama tidak bertemu sampai akhirnya saya mendapatkan kabar bahwa
bapak pengangkut sampah itu meninggal dunia, saya menyempatkan untuk berdoa
sebagai penghormatan terhadap beliau. Rupanya yang ikut mengantarkan jenazahnya
begitu banyak. Sampai dijalanan panjang sekali. Saya sempat berpikir, tentunya
bapak ini bukan orang sembarangan begitu banyak orang yang merasa kehilangan.
ternyata yang saya perkirakan benar, menurut penuturan salah satu putra,
pelayat yang banyak turut mengantar jenazahnya adalah para pedagang yang setiap
hari selalu mampir ke rumahnya dan juga para tetangga yang merasa dekat dengan
beliau.
Subhanallah ternyata sungguh mulia bapak yang pekerjaannya menarik gerobak
sampah bukan hanya mampu membina keluarganya dan mendidik anak-anaknya menjadi
sholeh namun juga membuat hidupnya menjadi bermakna bagi orang lain, hal itulah
yang membuat banyak orang merasa kehilangan. Tak terasa air mata saya menetes
mengenang beliau disaat pagi hari yang selalu menyapa saya dengan senyumannya
yang khas.
Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Terima kasih atas dukungan dan partisipasi teman2 semua untuk kegiatan 'Amalia
Berqurban' di Rumah Amalia, Ciledug. Teriring doa semoga Allah melimpahkan
keberkahan, rizki dan kesehatan selalu untuk teman2 semua. Amin ya robbal alamin