Hati Yang Tersakiti

By: M. Agus Syafii

Pernah di Rumah Amalia ada Ibu muda mengeluhkan perkawinannya yang terbilang 
muda sedang dihadapkan masalah. Semasa gadisnya adalah orang yang mendiam, 
merasa memiliki banyak kekurangan, berasal dari keluarga 'broken home.' Sampai 
kemudian mengenal seorang pemuda yang mampu membuatnya menjadi periang sampai 
kemudian menikah. Di awal perkawinan terasa indah, dengan dihiasi canda & tawa 
bersama-sama. Namun semua itu perlahan menjadi berubah, ditengah kesibukan 
masing2 bekerja, jarang ada percakapan, apalagi sampai bercanda. Bukan karena 
cinta telah hilang tetapi lebih karena berhati-hati agar tidak melukai perasaan 
suami. 

Terkadang suami melontarkan kata-kata kasar.  Sampai istrinya takut salah 
ngomong atau menyinggung perasaan pasangan hidupnya. Pernah dulu sewaktu belum 
menikah, Ibu mertuanya mengingatkan agar bersabar karena suaminya adalah orang 
yang temperamental karena itu istri lebih memilih diam daripada berlarut2 dalam 
pertengkaran.  Sang istri mengerti maksud suami mengingatkan atau menasehati 
tetapi seringkali istri tersakiti hatinya oleh ucapan suami yang kasar. Disaat 
seperti itulah istri merasa bersalah & berdosa karena telah membuat marah 
suami. Tak bisa memberikan support, tak bisa menjadi yang terbaik sebagai 
pendamping hidup bagi suaminya. Ditengah kebingungan, terlontar pertanyaan, apa 
yang harus saya lakukan Mas Agus? Kenapa terasa berat saya menjalani hidup ini?'

Saya kemudian menjelaskan kepadanya, umumnya didalam perkawinan muda banyak hal 
yang harus disesuaikan, ketidaknyamanan karena hambatan komunikasi antara suami 
istri seringkali terjadi karena perbedaan karakter. Perbedaan karakter dapat 
menjadi indah bila kita mampu mengolah, memadukan, meski tak jarang juga dapat 
membuat sakit hati yang tiada terobati. Perkawinan memang penuh kejutan. Inilah 
yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya terutama bagi mereka yang tidak 
pernah mempersiapkan diri atau salah persepsi tentang makna perkawinan. 
Persiapan mental & pisik adalah hal yang mutlak sebelum seseorang masuk dalam 
gerbang perkawinan. kekokohan dalam agama juga menentukan seberapa sanggup 
menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah. 

Kebanyakan orang ketika sedang menghadapi permasalahn dalam rumah tangga mudah 
sekali untuk mengucapkan kata 'pisah,' meninggalkan pasangannya atau bercerai. 
Tentu saja hal itu bukan sebuah penyelesaian. Perkawinan yang begitu indah 
dengan mudah sekejap runtuh. Hanya terkadang masalah2 yang sederhana. Mendorong 
untuk memulihkan kembali hubungan & mempersatukan kembali keluarga yang retak 
harus tetap diupayakan. Tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang 
sempurna karena setiap pasangan hidup kita bisa melakukan kesalahan tanpa 
disadarinya, tugas kitalah yang meluaskan hati, memaklumi & memaafkan. 
Kemampuan untuk memaafkan hanya akan kokoh bila dilandasi bahwa setiap masalah 
kita bersandar kepada Allah, Sang Pemilik kehidupan. Itulah sebabnya penting 
untuk kita setiap masalah apapun sebagai wujud kasih sayang Allah. 

Kebahagiaan di dalam keluarga, pasangan suami istri bisa mengarungi bahtera 
kehidupan dalam menghadapi badai & gelombang kehidupan hanya dengan 
menyandarkan diri kepada Allah. Komunikasi, saling menyesuaikan diri dengan 
pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi, memaklumi & memaafkan hanya akan 
hadir bila di dalam hati kita ada keimanan pada Allah maka Allah melimpahkan 
keindahan dalam keluarga kita. 'Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan 
kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuarngan harta, jiwa dan 
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu 
orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Inna lillahii wa innaa 
ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami 
kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah & rahmat 
dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk.' (QS. 
al-Baqarah : 155-157).

Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Yuk, hadir di kegiatan 'Amalia Bersyukur' Ahad, 20 Maret 2011, di Rumah Amalia. 
Bila  berkenan berpartisipasi dg menyumbangkan buku2, Majalah, Komik, Novel, 
Cerpen,Kaset VCD, CD, DVD ( ISLAMI ), IPTEK, buku Pelajaran, peralatan sekolah, 
baju layak pakai. silahkan kirimkan ke Rumah Amalia.  Jl. Subagyo IV blok ii, 
no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda 
sangat berarti bagi kami. Info: [email protected] atau SMS 087 8777 12 
431,http://agussyafii.blogspot.com/
 




      

Kirim email ke