Diguncang Prahara

By: M. Agus Syafii

Dalam kehidupan tidak ada orang yang pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa 
mendatang. Seringkali kita tenggelam dalam kebahagiaan kemudian terhenyak 
disaat diguncang prahara. Maka disaat itulah mengubah cara pandang seseorang 
memahami kehidupan. Demikian halnya terjadi pada seorang bapak yang tidak 
menyadari, karena dianggapnya semua baik-baik saja sampai terjadi perpisahan. 
kesepian itu hadir setelah perceraian dengan seseorang yang semula diharapkan 
menjadi teman dalam perjalanan hidup ternyata menimbulkan berbagai perasaan 
lain yang mengiringinya. Rasa menyesal atas keputusan yang tergesa-gesa hanya 
terdorong rasa jengkel, marah dan benci, merasa dikhianati oleh perbuatan istri 
yang dinilai menjatuhkan harga dirinya. Timbul kesulitan demi kesulitan menerpa 
hidupnya. 

Merasa bersalah karena keputusannya telah membuat diri dan anak-anaknya jatuh 
ke dalam keadaan yang lebih menderita. Pandangan keluarga, masyarakat, problem 
keuangan dan berbagai pertentangan batin membuat dirinya menjadi lebih 
tertekan. Namun beruntunglah ketekunannya dalam mendekatkan diri kepada Allah 
Subhanahu Wa Ta'ala membuat ia lebih tahan terhadap berbagai derita yang datang 
dan dalam menghadapi penilaian negatif dari siapapun juga. Justru dalam 
kesepian dan kesendirian , ia makin mengenal dan menemukan dirinya, makin 
mengenal hakekat hidup dan berusaha mengisinya dengan hal-hal yang positif bagi 
dirinya sendiri, bagi anak-anak dan bagi masyarakat sekitarnya. Semua itu tidak 
diperoleh begitu saja. Tetapi berkat ketekunan dan usahanya mendekatkan diri 
kepada Allah. 

Kesempatan berbagai kegiatan, perkenalan dan berkumpul bersama di Rumah Amalia 
membuat dirinya semakin menyadari bahwa masih banyak yang bisa dilakukanna 
untuk kebaikan bagi sesama. Ia menyadari cobaan dan penderitaan di dalam hidup 
masih akan dijumpainya, namun berharap bisa melewati semua itu sampai saat 
akhir tiba. Tidak ada lagi rasa benci, dendam dan penyesalan, tidak ada lagi 
rasa sepi dan sendiri atau tertekan batin seperti dulu lagi. Pada akhirnya 
derita itu mengubah cara pandangnya dalam memahami kehidupan bahkan lebih 
mencerahkannya dalam menilai kehidupan. Senantiasa berpikir positif yaitu 
dengan bersyukur dan bertawakal kepada Allah. 

'Katakanlah, 'Apa yang menimpa kami ini telah Allah gariskan. Dialah pelindung 
kami. Hanya kepada Allah semata, semestinya orang-orang beriman itu bertawakal' 
(QS. al-Taubah : 51).

Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Yuk, hadir di kegiatan 'Amalia Bersyukur' Ahad, 20 Maret 2011, di Rumah Amalia. 
Bila  berkenan berpartisipasi dg menyumbangkan buku2, Majalah, Komik, Novel, 
Cerpen,Kaset VCD, CD, DVD ( ISLAMI ), IPTEK, buku Pelajaran, peralatan sekolah, 
baju layak pakai. silahkan kirimkan ke Rumah Amalia.  Jl. Subagyo IV blok ii, 
no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda 
sangat berarti bagi kami. Info: [email protected] atau SMS 087 8777 12 
431,http://agussyafii.blogspot.com/






      

Kirim email ke