Indahnya Keharmonisan

By: M. Agus Syafii

Sungguh indahnya bila di dalam keluarga terlihat harmonis. Rukun dan bahagia 
selalu. Keharmonisan di dalam rumah tangga sangat ditentukan dengan komunikasi 
diantara anggota keluarga. Belum lama ini ada seorang ibu bersama dua anaknya 
datang ke Rumah Amalia. Pernikahannya selama delapan tahun dengan suami yang 
baik dan memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Menurut penuturannya, saking 
baiknya rumah masih tinggal ngontrak, perabotan seadanya, bahkan tidur dibawah, 
terima tamu dibawah, semua dibawah karena tidak memiliki meja dan kursi. Jika 
istri minta dibeliin meja kuri, suami selalu menolak dengan alasan untuk 
keperluan yang lain. Tetapi jika untuk keperluan temannya yang butuh uang, 
suami biasanya memberikan dengan mudah.

Pernah kakaknya terkena masalah keuangan, suami mengurusnya, membayar semua 
hutang kakaknya, entah suami dapat uang dari mana. Awalnya istri bisa menerima 
tetapi ketika uang sekolah anak terpakai, istri mulai marah dan kecewa. Sudah 
setahun suami digrogoti oleh ibu dan kakaknya. Semua apapun yang diminta oleh 
ibu dan kakaknya selalu saja suami mengabulkan. Bahkan ketika istri mengatakan 
'tidak.' Ibu mertua marah dan berteriak, menyalahkan dirinya karena menghalangi 
anaknya berbakti pada ibunya. Padahal ia tidak bermaksud buruk, tetapi bila 
sudah terus menerus meminta bantuan keuangan, sementara keluarga keteteran, 
apakah sebagai istri harus diam saja?

Sampai suami kemudian berhenti untuk tidak memberi bantuan kepada Ibu dan 
kakaknya karena sudah memiliki rasa tanggungjawab kepada keluarga sehingga 
mampu mengatakan 'tidak' kepada ibu dan kakaknya.  Sekarang yang menjadi 
ganjalan adalah pada dirinya sebagai istri, bukan kepada suami melainkan kepada 
Ibu mertua dan kakak suaminya.  Dirinya menjadi malas berbincang & bertemu 
dengan ibu mertua. 'Mas Agus, bagaimana saya harus bersikap agar kami 
sekeluarga kembali hidup tenteram bersama keluarga besar suami?

Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa sepatutnya hidup ini disyukurinya. 
Bersyukur kepada Allah karena dengan adanya berbagai masalah justru suami 
berperan sebagai penyelamat ibu dan kakaknya dan masalah itu bisa diselesaikan 
dengan baik. Daripada pikiran hanya tercurah pada ganjalan rasa marah dan 
kecewa pada mertua yang menghabiskan banyak energi lebih baik memfokuskan 
untuk  upaya mempertahankan keterbukaan komunikasi dengan suami agar suami 
tidak terhambat untuk bercerita padanya atau meminta pendapatnya tanpa harus 
merasa berbicara kepada istri hanya akan membuat diri suami menjadi susah. 
Masalah keuangan di dalam keluarga memang topik yang sensitif untuk banyak 
pasangan karena sikap adil seorang suami menjadi penting antara kebutuhan untuk 
rumah tangga dan memberi dukungan keuangan orang tua, saudara atau untuk 
kepentingan pribadinya sehingga keterbukaan dan komunikasi lebih memudahkan 
terjadinya kesepakatan bersama. 

Termasuk membangun komunikasi dengan keluarga besar suami. Bila tidak ada 
komunikasi dengan mereka yang terbentuk kemudian adalah prasangka dan opini dan 
biasanya penuh dengan hal-hal negatif. Sekali waktu berbincang bersama dengan 
ibu mertua dan kakak ipar di rumah. Keadaan rumah bisa dilihat dengan nyata, 
agar mengerti kalo rumah masing ngontrak, tidak ada kursi, meja dan yang lebih 
baik lagi untuk membangun empati. Makin banyak informasi tentang kita, makin 
realistis gambaran diri kita dipahami oleh orang lain. Makin terbuka diri kita, 
makin besar peluang untuk merasa dekat satu dengan yang lainnya. Dan dalam 
proses seperti ini mungkin saja dirinya juga akan menjadi berpandangan yang 
berbeda tentang ibu mertuanya, yang awalnya kecewa dan marah berubah menjadi 
sayang dan kasihan ternyata kehidupan ibu mertua memang membutuhkan 
pertolongan. Saya berharap agar dirinya tidak menghindari bila ibu mertua 
menghubunginya, hadapi, bicara, dengarkan sehingga
 suami juga bisa melihat bahwa dirinya punya itikad baik kepada ibunda 
tercinta, setelah komunikasi dengan suami menjadi lebih baik dengan hilangnya 
prasangka. Hal inilah yang menjadikan kebahagiaan kembali hadir dalam keluarga. 
Tidak ada lagi prasangka kepada suami, Ibu mertua, kakak ipar, demikian juga 
sebaliknya keluarga besar suami juga memahami kondisi batin gejolak hati yang 
dirasakannya sebagai seorang istri.

Ibu bukan hanya keluar dari depresinya namun juga bisa membangun keharmonisan 
dalam keluarga. ia bersyukur untuk memahami keadaan suami dan keluarganya serta 
lebih menyayangi suami & keluarga besarnya. Disisi yang lain dengan adanya 
masalah dan kesulitan telah membuatnya lebih mendekatkan diri kepada Allah 
Subhanahu Wa Ta'ala dengan sabar dan sholat. 'Hai orang-orang yang beriman, 
mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, Sesungguhnya Allah 
bersama orang-orang yang sabar.' (QS. al-Baqarah : 153).

Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Yuk, hadir di kegiatan 'Amalia Bersyukur' Ahad, 20 Maret 2011, di Rumah Amalia. 
Bila  berkenan berpartisipasi dg menyumbangkan buku2, Majalah, Komik, Novel, 
Cerpen,Kaset VCD, CD, DVD ( ISLAMI ), IPTEK, buku Pelajaran, peralatan sekolah, 
baju layak pakai. silahkan kirimkan ke Rumah Amalia.  Jl. Subagyo IV blok ii, 
no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda 
sangat berarti bagi kami. Info: [email protected] atau SMS 087 8777 12 
431,http://agussyafii.blogspot.com/







      

Kirim email ke