Menguatkan Hati

By: M. Agus Syafii

Di dalam keluarga, pasangan hidup senantiasa saling menguatkan hati. Bila suami 
sedang bersedih maka tugas istri untuk menguatkan hati suami, demikian juga 
sebaliknya. Pernah ada seorang ibu yang menuturkan bahwa disaat suaminya 
memiliki jabatan di kantornya sehingga kondisi keuangan keluarga baik dan tidak 
kekurangan. Namun belakangan ini suaminya bercerita kalo dia mendengar desas 
desus dirinya segera dipindahtugaskan bahkan ada kemungkinan akan dirumahkan,  
hal inilah yang membuatnya uring-uringan terus. Sampai istri sudah berusaha 
menghibur dengan mengatakan bahwa semua itu adalah bagian dari resiko 
pekerjaannya. Namun semakin hari sepertinya suami semakin tambah stress. Bahkan 
istri juga ikut-ikutan tegang karena setiap pulang kantor selalu bertanya-tanya 
apalagi yang akan menjadi obyek kemarahannya, 'Mas Agus, bagaimana saya harus 
bersikap untuk menghibur suami agar tidak selalu uring-uringan?'

Siang itu di Rumah Amalia saya menjelaskan padanya bahwa tugas kita senantiasa 
mendampingi pasangan hidup kita dalam suka maupun duka, menjadi penghibur suami 
ketika bersusah hati dan menjadi penopang suami ketika sedang limbung atau 
merasa kehilangan kepercayaan diri. Reaksi suaminya yang sering uring-uringan 
merupakan reaksi yang sangat manusiawi karena siapapun yang menghadapi ancaman 
kehilangan jabatan atau PHK cukup memberikan tekanan yang berat pada suami 
sekaligus seorang ayah yang bertanggungjawab terhadap keluarganya. Rasa 
tanggungjawab itulah yang memberikan tekanan psikologis yang berat bagi dirinya 
sehingga bila istri menghibur dengan tutur kata yang lembut masih dirasa belum 
cukup maka cobalah dengan tindakan seperti berhemat atau sudah mulai dengan 
berpikir mencari alternatif usaha mandiri atau berwirausaha sebab dengan cara 
ini menjadi kegiatan yang bisa menghibur suami bahwa masa depan dan rizki yang 
mengatur Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Ketakutan akan kehilangan pekerjaan tentu saja akan berimbas pada semua anggota 
keluarga, tentu saja perlu didiskusikan bersama dengan suami dan harus diingat 
jika suami sedang sensitif, bila tidak bijak mengkomunikasikan tentunya malah 
hanya menimbulkan pertengkaran maka istri harus menjadi tegar dalam menerima 
kemungkinan yang terburuk suami bila sampai dirumahkan dari kantor tempatnya 
bekerja. Jadikanlah kondisi yang dialami ini sebagai momen untuk mendekatkan 
diri kepada Allah dengan banyak bersyukur atas semua nikmat dan anugerahNya 
dengan lebih giat melaksanakan sholat fardhu dengan tepat waktu. Mengajak suami 
dan anak-anak agar sabar & ikhlas menerima ketetapan Allah bahwa apapun yang 
terjadi, Allah senantiasa memiliki rencana yang terindah bagi keluarganya 
sehingga kebahagiaan dan ketenteraman hadir ditengah keluarga ketika dilanda 
guncangan hidup yang hebat. 

Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Yuk, hadir di kegiatan 'Amalia Bersyukur' Ahad, 20 Maret 2011, di Rumah Amalia. 
Bila  berkenan berpartisipasi dg menyumbangkan buku2, Majalah, Komik, Novel, 
Cerpen,Kaset VCD, CD, DVD ( ISLAMI ), IPTEK, buku Pelajaran, peralatan sekolah, 
baju layak pakai. silahkan kirimkan ke Rumah Amalia.  Jl. Subagyo IV blok ii, 
no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda 
sangat berarti bagi kami. Info: [email protected] atau SMS 087 8777 12 
431,http://agussyafii.blogspot.com/




      

Kirim email ke