Bahagianya Menjadi Penyelamat Keluarga

By: M. Agus Syafii

Sungguhnya bahagianya di dalam hidup ini apabila kita bisa menjadi penyelamat 
bagi keluarga kita. Ditengah bahtera keluarga kita yang mengarungi samudra 
kehidupan dihempas badai, kita merasa tak sanggup menanggung beban yang menekan 
diri kita. Kita sakit, terluka dan menderita akibat pengkhianatan, penghinaan 
dari pasangan hidup kita, kita ingin segera semua berakhir dengan cara 
meninggalkannya. Begitulah banyak orang yang lebih suka mengambil jalan pintas. 
Bukankah hidup ini jauh lebih indah dan membahagiakan apabila kita menjadi 
penyelamat bagi keluarga kita dengan memaafkan, menguatkan dan memberikan 
semangat agar tidak terperosok pada lubang yang sama, karena kekuatan cinta 
sanggup memulihkan orang yang kita cintai dari keterpurukan.  Itulah yang 
dialami seorang ibu. Pernikahannya diujung tanduk. Hatinya menjadi galau dan 
gundah namun tak larut dalam kesedihan. Berkat kerja kerasnya kebutuhan 
anak-anaknya yang ditinggal suaminya bisa diatasinya.
 Seolah berjalan dengan terseok-seok perlahan-lahan kondisi ekonomi keluarganya 
bisa bangkit membaik.  Usaha yang dirintisnya berkembang pesat mengalami 
kemajuan. 

Sampai pada suatu peristiwa yang membuat hatinya terkejut, putranya yang bungsu 
jatuh sakit kejang-kejang dan paru-parunya infeksi. Pada saat itu juga 
dilarikan putranya ke rumah sakit. Dalam keterpurukan dirinya terasa sakit, 
menyesakkan. Wajahnya memerah berlinangan air mata. Hatinya begitu hancur, 
remuk redam. Suaminya pergi, anak sedang sakit sementara ia harus juga terus 
mencari nafkah untuk anak-anaknya. 'Ya Allah, begitu berat cobaan hidupku ini,' 
ucapnya lirih. Dia sedang putus asa karena masalah tiada kunjung berakhir.  
Pada saat itu kedatangannya ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh, memohon kepada 
Allah untuk kesembuhan putranya dan keutuhan keluarga.

Keajaiban itu terjadi ketika dirinya sedang menjaga putranya di Rumah Sakit, 
dokter mendatanginya dan mengatakan, 'Besok putra ibu boleh pulang.' Ia 
merasakan bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah. Anugerah Allah tidak 
sampai disitu. Suami yang meninggalkan dirinya dan anak-anaknya tiba-tiba 
pulang, bersimpuh dipangkuannya meminta maaf karena telah meninggalkannya 
pergi. Buah ketakwaannya kepada Allah membuat dirinya memaafkan kesalahan 
suami. Sejak itu kehidupan rumah tangga mereka berubah. Kesabaran ia sebagai 
seorang istri membuahkan hasil, anak-anak dan suaminya telah berubah menjadi 
lebih baik dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Banyak orang bersyukur 
pengorbanan dirinya terutama mampu memaafkan suami yang telah menyakiti hatinya 
telah menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Wassalam,
M. Agus Syafii
---

Yuk, raih kebahagiaan di hari kemenangan dg hadir pada kegiatan "Hari Nan Fitri 
Bersama" (HANIF), Ahad, 23 Oktober 2011 Jam 9.sd 12 siang di Rumah Amalia. Bila 
berkenan berpartisipasi Paket sembako, baju baru untuk anak2, Buku dan alat2 
tulis, konsumsi. Kirimkan ke Rumah Amalia Jl. Subagyo IV blok ii, No. 24 
Komplek Peruri, Ciledug, Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda sangat 
berarti bagi kami. Info: [email protected] atau SMS 087 8777 12 431

 

Kirim email ke