An archive of all of the messages sent to the UNAIR List is available at:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
From: "W P" <[EMAIL PROTECTED]>
Rupanya ada kelompok atau orang-orang yang ingin Indonesia menjadi negeri
barbar, negeri yang dihuni dan diperintah kaum barbar.
Buktinya, pikiran bebas individu mau diberangus (ada tokoh pemuda yang
diancam dan diacungi golok oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai wakil
dari suatu masyarakat daerah tertentu), buku-buku yang dianggap berisi
ideologi terlarang diberangus dan dibakar (mungkin para pembakar itu sendiri
nggak pernah baca buku itu atau dibaca tapi nggak ngerti isinya karena
otaknya nggak nyampe', sementara terbitan porno yang lebih mudah dibaca dan
dilihat gambarnya bebas beredar luas dan diam-diam mungkin dibaca oleh para
pembakar itu di dalam kamar-kamar kecil mereka...;-((...).
Wass,
W P
``````
From: "F.Magnis-Suseno"
Teman-teman yang baik,
Bersama ini saya ini membagi keprihatinan saya tentang perkembangan
di tanah-air/ibukota yang memang juga langsung menyangkut saya. Persis tiga
minggu yang lalu, "Aliansi Anti-Komunis" - persekutuan beberapa organisasi
dan kelompok yang juga sudah beberapa kali membuat "Posko Anti-Komunis" di
mana a.l. mereka membagi brosur para "penyebar komunisme" di mana juga
"Mudji Sutrisno" dan "Franz Magnis-Suseno" "dari Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara" disebut sebagai penyebar komunisme - mengadakan pembakaran
"buku-buku komunis". Saya sendiri tidak melihatnya di TV, tetapi banyak
melihatnya dan saya sudah banyak dihubungi karena itu. Yang dibakar secara
mencolok adalah buku saya "Pemikiran Karl Marx. Dari Sosialisme Utopis ke
Perselisihan Revisionisme" terbitan Gramedia 1999.
Sementara ini saya mendengar bahwa "Aliansi Anti-Komunis" pada tgl.
20 Mei akan mengadakan sweeping ke toko-toko buku mencari buku-buku
kiri-sosialis-marxis-komunis. Alasan yang mereka kemukakan adalah (1) bahwa
"masyarakat masih trauma dengan komunis" dan (2) buku-buku itu terbit
padahal TAP MPRS nr. 25 1996 secara hukum masih berlaku. Menurut saya
perkembangan ini gawat betul, bukan sekadar ekses, melainkan mengancam
sendi-sendi demokrasi.
(1) Kebebasan mencari dan memberikan informasi diancam, dioadakan
sensor tanpa dasar hukum apa pun, diciptakan suasana ketakutan (namun saya
mencukuri bahwa untuk sementara yang mereka bakar hanya buku, bukan penulis
buku2 itu) dan disabotase pencerdasan kehidupan bangsa yang justru
memerlukan informasi tentang hal "kiri". Menurut saya masyarakat memerlukan
informasi tentang segala kenyataan di dunia, termasuk tentang sosialisme,
Marxisme, Marxisme-Leninisme dll. Buku adalah realitas intelektual dan perlu
ditanggapi, seperlunya: dilawan, secara intelektual. Membakar buku ini,
tindakan fisik untuk membungkam pikiran yang tidak mampu dilawan secara
pikiran di abad ke-20 menjadi ciri khas fasisme dan nazi.
(2) Yang juga gawat adalah bahwa apa saya yang "kiri", "sosialis",
"sosial-demokrat", "Marxian", "Marxis", dan tentu juga "teologi pembebasan"
disamakan dengan "komunis" (perbedaan itu a.l. saya jelaskan dalam buku
saya). Itu secara objektif salah, dan secara etis fatal karena dengan
demikian sikap yang berpihak pada orang yang tertindas dan diperlakukan
dengan tidak adil disamakan dengan "komunisme". Padahal komunisme justru
begitu gawat karena dalam kenyataan membuat orang tertindas, kelaparan,
tidak berhak, terinjak. Kecerdasaran kehidupan bangsa termasuk kemampuan
untuk menyadari bahwa menuntut keadilan sosial itu bukan "komunis" -
sebagaimana diindoktrinasikan oleh Orde Baru, di mana para pembakar buku
kelihatan sesemangat dengan Orde Baru - melainkan justru cara untuk
membongkar komunisme.
(3) Khususnya tentang buku saya saya berpendapat bahwa kalau yang
punya alasan untuk membakarnya paling-paling kaum komunis dan Marxis karena
di dalamnya saya justru memberikan kritik mendalam terhadap dasar-dasar
ajaran Karl Marx. Mengapa buku - yang berusaha secara objektif memaparkan
apa itu sosialisme abad ke-19 dan apa pokok-pokok ajaran Marx, apa
perkembangan Marxisme (uraian mana berhenti dengan perselisihan revisionisme
di permulaan abad ke-20, jauh sebelum komunisme mulai), lalu memberikan
tanggapan terinci - harus dibakar. Melalui kenalan yang berkenalan dengan
orang-orang Aliansi itu saya sudah minta untuk bertemu, tidak untuk
bertengkar melainkan saya mau bertanya "mengapa Anda membakar buku saya",
tetapi sampai saat ini tidak ditanggapi.
Nah, teman-teman yang baik, ini ceritera agak panjang yang ingin
saya sampaikan. Menurut saya perkara ini menyangkut perdamaian dalam
masyarakat. Adakah gagasan bagaimana menanggapinya?
Salam
Franz Magnis-Suseno
"What sets worlds in motion is the interplay of differences, their
attractions and repulsions; life is plurality, death is uniformity."
- Octavio Paz
__________________________________________
Unsubscribe: mailto:[EMAIL PROTECTED]
with "unsubscribe UNAIR" in the body of message
Admin: mailto:[EMAIL PROTECTED]