---------- Forwarded message ----------
Date: Feb 13, 2007 12:23 PM
Subject: [smokingcorner] Gede Prama - Kaya Karena Sederhana


Kaya Karena Sederhana
  *Gede Prama*

Menjadi orang kaya, itulah cita-cita banyak sekali orang. Hal yang sama juga
pernah melanda saya. Dulu, ketika masih duduk di bangku SMU, kemudian
menyaksikan ada rumah indah dan besar, dan di depannya duduk sepasang orang
tua lagi menikmati keindahan rumahnya, sering saya bertanya ke diri sendiri
: akankah saya bisa sampai di sana ?. Sekian tahun setelah semua ini
berlalu, setelah berkenalan dengan beberapa orang pengusaha yang kekayaan
perusahaannya bernilai triliunan rupiah, duduk di kursi tertinggi
perusahaan, atau menjadi penasehat tidak sedikit orang kaya, wajah-wajah
hidup yang kaya sudah tidak semenarik dan seseksi bayangan dulu.

Penyelaman saya secara lebih mendalam bahkan menghasilkan sejumlah ketakutan
untuk menjadi kaya. Ada orang kaya yang memiliki putera-puteri yang bermata
kosong melompong sebagai tanda hidup yang kering. Ada pengusaha yang menatap
semua orang baru dengan tatapan curiga karena sering ditipu orang, untuk
kemudian sedikit-sedikit marah dan memaki. Ada sahabat yang berganti mobil
termewah dalam ukuran bulanan, namun harus meminum pil tidur kalau ingin
tidur nyenyak. Ada yang memiliki anak tanpa Ibu karena bercerai, dan masih
banyak lagi wajah-wajah kekayaan yang membuat saya jadi takut pada kekayaan
materi.

Dalam tataran pencaharian seperti ini, tiba-tiba saja saya membaca karya
Shakti Gawain dalam jurnal Personal Excellence edisi September 2001 yang
menulis : *'If we have too many things we don't truly need or want, our live
become overly complicated'*. Siapa saja yang memiliki terlalu banyak hal
yang tidak betul-betul dibutuhkan, kehidupannya akan berwajah sangat rumit
dan kompleks. Rupanya saya tidak sendiri dalam hal ketakutan bertemu hidup
yang amat rumit karena memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul
diperlukan. Shakti Gawain juga serupa. Lebih dari sekadar takut, di
tingkatan materi yang amat berlebihan, ketakutan, kecemasan, dan bahkan
keterikatan berlebihan mulai muncul.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana tidur saya amat terganggu di hari
pertama ketika baru bisa membeli mobil. Sebentar-sebentar bangun sambil
melihat garasi. Demikian juga ketika baru duduk di kursi orang nomer satu di
perusahaan. Keterikatan agar duduk di sana selamanya membuat saya hampir
jadi paranoid. Setiap orang datang dipandang oleh mata secara mencurigakan.
Benang merahnya, kekayaan materi memang menghadirkan kegembiraan (kendati
hanya sesaat), namun sulit diingkari kalau ia juga menghadirkan keterikatan,
ketakutan dan kekhawatiran. Kemerdekaan, kebebasan, keheningan semuanya
diperkosa habis oleh kekayaan materi.  Disamping merampok kebebasan dan
keheningan, kekayaan materi juga menghasilkan harapan-harapan baru yang
bergerak maju. Lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Demikianlah
kekayaan dengan amat rajin mendorong manusia untuk memproduksi harapan yang
lebih tinggi.

Tidak ada yang salah dengan memiliki harapan yang lebih tinggi, sejauh
seseorang bisa menyeimbangkannya dengan rasa syukur. Apa lagi kalau harapan
bisa mendorong orang bekerja amat keras, plus keikhlasan untuk bersyukur
pada sang hidup. Celakanya, dalam banyak hal terjadi, harapan ini terbang
dan berlari liar. Dan kemudian membuat kehidupan berlari seperti kucing yang
mengejar ekornya sendiri.

Berefleksi dan bercermin dari sinilah, saya sudah teramat lama meninggalkan
kehidupan yang demikian ngotot mengejar kekayaan materi. Demikian tidak
ngototnya, sampai-sampai ada rekan yang menyebut saya bodoh, tidak mengerti
bisnis, malah ada yang menyebut teramat lugu. Untungnya, badan kehidupan
saya sudah demikian licin oleh sebutan-sebutan. Sehingga setiap sebutan,
lewat saja tanpa memberikan bekas yang berarti.

Ada sahabat yang bertanya, bagaimana saya bisa sampai di sana ? Entah benar
entah tidak, dalam banyak keadaan terbukti kalau saya bisa berada di waktu
yang tepat, tempat yang tepat, dengan kemampuan yang tepat. Ketika ada
perusahaan yang membutuhkan seseorang sebagai pemimpin yang cinta kedamaian,
saya ada di sana. Tatkala banyak perusahaan kehilangan orientasi untuk
kemudian mencari bahasa-bahasa hati, pada saat yang sama saya suka sekali
berbicara dan menulis dengan bahasa-bahasa hati. Dikala sejumlah kalangan di
pemerintahan mencari-cari orang muda yang siap untuk diajak bekerja dengan
kejujuran, mereka mengenal dan mengingat nama saya. Sebagai akibatnya,
terbanglah kehidupan saya dengan tenang dan ringan. Herannya, bisa sampai di
situ dengan energi kengototan yang di bawah rata-rata kebanyakan orang.
Mungkin tepat apa yang pernah ditulis Rabin Dranath Tagore dalam The Heart
of God : *'let this be my last word, that I trust in Your Love'.* Keyakinan
dan keikhlasan di depan Tuhan, mungkin itu yang menjadi kendaraan kehidupan
yang paling banyak membantu hidup saya.

Karena keyakinan seperti inilah, maka dalam setiap doa saya senantiasa
memohon agar seluruh permohonan saya dalam doa diganti dengan keikhlasan,
keikhlasan dan hanya keikhlasan. Tidak hanya dalam doa, dalam keseharian
hidup juga demikian. Ada yang mau menggeser dan memberhentikan, saya tidak
melawan. Ada yang mengancam dengan kata-kata kasar, saya imbangi secukupnya
saja. Ada sahabat yang menyebut kehidupan demikian sebagai kehidupan yang
terlalu sederhana dan jauh dari kerumitan. Namun saya meyakini, dengan cara
demikian kita bisa kaya dengan jalan sederhana.

-- 
*"A Civilized, Professional, Modern Biker"*

TRiC - 077
InBIKE - 031
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
----------------------------------------
http://dickydewa.multiply.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke