---------- Forwarded message ----------
Date: Feb 13, 2007 12:21 PM
Subject: [smokingcorner] Artikel - Heart Work (Bekerja dengan Hati)

Heart Work (Bekerja dengan Hati)
  *Rhenald Kasali*

Orang-orang dulu mengajarkan kita kerja keras (hardwork), tetapi para pakar
sekarang mengatakan hardwork saja tidak cukup. Dibutuhkan heartwork (bekerja
dengan hati) untuk mencapai keberhasilan. Hari-hari ini saya sedang
menikmati liburan di Jepang, dan saya lihat sendiri bagaimana orang-orang di
Jepang bekerja sengan sepenuh hati. Mereka menegur anak-anak saya di
Universal Studio dengan tutur kata yang halus dan penuh senyum, berbeda
sekali dengan petugas yang memarahi saya di stasiun Gambir atau membentak
sopir saya di Bandara Soekarno-Hatta. Seorang pria Jepang berusia 30-an yang
ditugasi mengantar dan menjemput saya selama di sini menunjukkan kesungguhan
hatinya. Datang tepat waktu, mengerjakan apa saja yang diminta dengan penuh
senyum. Bahasanya halus, sesekali ia berbahasa Indonesia dan Bali.

Layanan yang saya terima jelas berbeda dengan apa yang pernah saya alami di
atas pesawat terbang milik Armada Amerika. Mereka bergerak cepat dan bisa
memerintah kami sebagai penumpang kalau ada hal-hal yang mereka anggap
kurang pas. Dalam perjalanan dari Cleveland menuju Orlando seorang teman
pernah tergoda dengan tulisan di sebuah toko penjual oli mesin mobil yang
bunyinya: "Serve With Smile". Ternyata setelah bertransaksi yang muncul
seorang pria berwajah dingin yang melihat dengan keangkuhan. Mereka semua
adalah pekerja keras, yang rela bangun di malam hari, melayani dengan cepat,
tetapi maaf, bekerja tanpa hati, tanpa interkoneksi antar batin, tak ada
senyum dan perhatian, selain memenuhi perntah dan tugas.

Di hari-hari pelaksanaan pemilu saya merenungi nasib bangsa saya ke depan.
Di meja kerja saya ada beberapa poster dan kalender yang dicetak oleh
beberapa orang caleg yang menyerahkan kepada saya lewat berbagai cara.
Adayang dititipkan di rumah, di kantor, di ruang seminar, di pintu
tempat
ibadat atau lewat sanak keluarga. Salah satunya datang dari keluarga dekat
di kampung. Masya Allah, saya terkejut sekali, si Polan, memajang
panjang-panjang gelarnya: Prof. Dr. ......, Ph.D.,SH,MA. Kapan dia
sekolahnya? Kalau orang tidak mengerti, ia pasti akan dipilih karena
disangka seorang profesor, intelektual bangsa. Wajahnya juga oke, tapi maaf,
dari ucapan-ucapannya saya tahu persis yang keluar cuma uang dan uang
melulu. Uang untuk menjadi caleg nomor satu, uang gaji DPRD, dan tentu saja
uang pesangon kalau nanti berhenti jadi wakil rakyat.

Di salah satu kabupaten, seorang teman bertengkar dengan
keponakan-keponakannya yang mengamuk karena tidak berhasil masuk sebagai
caleg nomor satu. Ia marah-marah lalu pergi meninggalkan kampung. Ciri-ciri
orang kampung /desa yang kata Sumilan (lewat bukunya yang berjudul Mandor
Kawat) sebagai ikhlas pupus sudah dalam politik. Orang bisa berubah karena
politik, kekuasaan dan uang. Padahal semua itu bisa diperoleh tanpa
melakukan cara-cara itu asalkan orang mau bekerja dengan keikhlasan.

Chan Chin Bok, mantan petinggi EDB (Economic Development Board) di Singapura
mengakui hal ini. "Singapura hari ini bukanlah hasil dari sebuah pergumulan
kerja keras belaka," katanya. "Melainkan sebuah heartwork". Ketika Lee Kuan
Yew memenangkan pemilu pada tahun 1959, partai yang dikuasainya (PAP),
bukanlah sebuah kekuatan yang ditakuti. Bagaimana orang mau bekerja untuk
uang kalau uang yang mau dibagikan saja tidak ada. Rakyatnya terbagi-bagi
dalam kampung-kampung etnik dengan dialog masing-masing. Orang-orangnya
jorok dan membuang sampah sembarangan. Pantainya tidak ada yang bagus
sehingga tak ada teroris yang mau datang. Pertanian tidak memadai karena
tanahnya kurang subur dan lahannya terbatas. Kalau seluruh lapangan sepak
bola di Singapura saat itu dikonversikan menjadi sawah, maka mereka hanya
cukup menghasilkan padi untuk 40.000 orang.

EDB memulainya dengan merencanakan sebuah taman industri, tapi mereka tak
punya bahan baku dan buruh yang trampil. Siapa yang harus direkrut untuk
membangun Singapura? Haruskah kita memberi insentif besar untuk merekrut
para wakil rakyat mengawasi pemerintahan? Benar, Singapura memberi insentif
yang tidak tanggung-tanggung. Tetapi itu adalah buah dari sebuah proses,
bukan merupakan iming-iming di muka. Chin Bok direkrut karena pengalamannya,
bukan karena uangnya. Ia adalah mantan salesman mobil yang
tulisan-tulisannya sering muncul di media massa. Sebagai salesman ia sudah
terbiasa melayani calon pembeli dan mempertahankan hubungan. Ia bukanlah
seorang lulusan sekolah tinggi yang tahu banyak teori, tetapi ia adalah
pembelajar yang mencintai profesinya.

Kata Kowzes dan Posner, Anda memerlukan "great team" untuk menang. Anda bisa
saja kalah dengan tim ini, tetapi tanpanya, Anda pasti tidak bakalan bisa
menang. Dan kata John MAXWELL, sebuah great team tidak harus terdiri dari
orang-orang luar biasa, cukuplah orang-orang biasa saja. Orang-orang biasa
yang bekerja sepenuh hati akan bekerja dengan komitmen dan mereka akan
menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kata Jim Collins, jangan gegabah dalam
rekrutmen. Kalau tidak dapat hari ini, jangan memaksakan diri harus ada.
Staf-staf Anda yang tidak sabar pasti akan mendesak Anda agar buru-buru
mengambil orang. Tetapi kalau Anda mau sedikit sabar, Anda mungkin akan
mendapatkannya, yaitu orang-orang yang bukan cuma sekedar harus bekerja,
tetapi memang mau bekerja sepenuh hati.

-- 
*"A Civilized, Professional, Modern Biker"*

TRiC - 077
InBIKE - 031
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
----------------------------------------
http://dickydewa.multiply.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke