Hay....Mas Kikiy dewa....!!! sehat mas...? Btw mau nga kalo mas Kikiy saya panggil dengan sebutan nama Joan Van Hoorn, pasti Mas Kikiy jadi agak ke londo-londoan...
bira keren mas...nanti org kira mas kikiy turunan INDO lo...!!! ya..ya..mas ya....Ta panggil Joan.. ----- Original Message ---- From: dicky.dewa <[EMAIL PROTECTED]> To: ForBas <[email protected]>; HORNETERZ <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, March 1, 2007 7:39:35 AM Subject: [ForBas] Gouverneur Generaal van Netherlandsch Indie Part XVI ---------- Forwarded message ---------- From: Hatmanto SN <[EMAIL PROTECTED]> Date: Feb 28, 2007 5:09 PM Subject: [SahabatMuseum] Gouverneur Generaal van Netherlandsch Indie Part XVI To: [EMAIL PROTECTED] Joan van Hoorn (1705 - 1709) Salah satu Gubernur Jenderal yang dikenal cukup baik namanya bagi pemerhati sejarah Kota Jakarta adalah Joan van Hoorn. Di berbagai literatur sejarah Jakarta sering namanya disebut sebagai pendiri balaikota Batavia yang sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta. Keluarga van Hoorn Joan (kadang ditulis Johan) van Hoorn lahir di Amsterdam pada tanggal 16 November 1653. Ayahnya adalah Pieter Janszoon van Hoorn dan Ibunya bernama Sara Bessels. Sedikit cerita mengenai Pieter Jansz ini, yang batu nisannya masih bisa dilihat di Museum Prasasti, adalah seorang pengusaha pertambangan batubara di Amsterdam yang kemudian bangkrut. Dikarenakan koneksinya yang luas dan juga karena pengaruh kuat istrinya, akhirnya Pieter merantau ke Indonesia. Di Indonesia, karir Pieter mulai menanjak dan menjadi anggota dari Dewan Hindia (Raad van Indie). Antara tahun 1666 hingga 1668, Pieter menjadi duta besar VOC di Beijing. Pieter kemudian dikeluarkan dari Dewan Hindia dikarenakan nasihatnya kepada para bos VOC supaya tidak membuat koloni di tempat yang jauh dari tanah airnya, sebab akan menimbulkan biaya yang sangat mahal. Selain Pieter dan Joan masih ada di keluarga van Hoorn ini yang mempunyai peran penting dalam catatan sejarah Bangsa Indonesia, yaitu saudara ipar Joan van Hoorn yang bernama Francois Tack (1649-1686), kita lebih mengenalnya sebagai Kapten Tack. Tack adalah seorang tentara yang membela VOC di Srilangka (Ceylon) dan Indonesia. Sempat menjadi pimpinan dari badan urusan umum dan pernikahan di balaikota Batavia. Saat terjadi clash antara pejuang Bali, Untung Suropati dengan VOC, pada tahun 1686 Francois Tack dikirim oleh Gubernur Jenderal Camphuijs untuk pergi ke ibukota Mataram, Kartasura, dengan misi menjemput Suropati. Misi penjemputan berubah menjadi misi bunuh diri, Tack dijebak oleh pasukan Mataram dan menyebabkan dirinya beserta 75 tentara VOC lainnya tewas di dalam keraton yang terbakar. Mayat Tack sendiri ditemukan dengan lebih dari 20 luka tusukan. Versi lain kematian Francois Tack diceritakan oleh Babad Tanah Jawi, menurutnya Tack tewas disebabkan oleh tombak keramat Kyai Plered yang dilemparkan oleh Pangeran Puger saat pertempuran Kartosuro. Pangeran Puger sendiri akan banyak berhubungan dengan saudara ipar Tack yaitu Joan van Hoorn saat kisruh Mataram antara P. Puger dengan Amangkurat III. Kembali ke kisahnya Joan van Hoorn, saat keluarga van Hoorn pindah ke Indonesia tahun 1663, usia Joan masih belia yaitu baru 10 tahun. Tetapi usia belia tidak membuat ragu-ragu untuk merekrutnya menjadi anggota VOC. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1665 Joan sudah menjadi asisten yunior di VOC, dan setahun kemudian pada bulan Juli 1666 Joan menemani ayahnya bertugas di Tiongkok hingga bulan Agustus 1668. Sepulangnya dari Tiongkok, tidak lama bagi Joan untuk menunggu pangkatnya naik. Tahun 1671 dia diangkat sebagai asisten kemudian tahun 1673 sebagai onderkoopman (saudagar rendah), tahun 1676 sebagai koopman (saudagar) dan clerk utama bagi sekretaris umum di Batavia, tahun 1678 menjadi sekretaris di Hoge Regering (High Government). Pada tanggal 11 Agustus 1682 diangkat menjadi anggota kehormatan Konsul Hindia dan bertugas di Banten. Pada tahun yang sama Joan van Hoorn menjabat sebagai Presiden Rumah Yatim Piatu Batavia. Tahun 1684, Joan ditunjuk sebagai Ketua Heemraaden (Lembaga yang mengurusi pengairan dan polder). Pada tahun 1685, Joan ditunjuk sebagai anggota dewan dan ditugaskan ke Banten untuk kedua kalinya. Joan van Hoorn menikah dengan Anna Struis dan mempunyai anak perempuan bernama Petronella Wilhelmina, yang kemudian menikah dengan Jan Trip - anak dari walikota Trip. Petronella tidak lama menikah dengan Jan Trip, setelah bercerai dengan Jan dia kemudian bertemu dengan Adolf Torck seorang bangsawan dari Roozendaal dan kemudian menikahinya. Pada tahun 1691, Joan van Hoorn diangkat sebagai Direktur Jenderal, sebuah jabatan kedua tertinggi setelah Gubernur Jenderal. Pada saat menduduki jabatan ini Joan memerintahkan Dewan Kota untuk membangun gereja bagi bangsa Portugis Mardijker di luar benteng dan pada tanggal 19 Oktober 1693 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan gereja ini.Tanggal 20 September 1701, oleh Willem van Outhoorn Joan diusulkan menjadi Gubernur Jenderal menggantikan dirinya. Tetapi Joan menolak penunjukkan ini, kecuali tiga orang temannya (Mattheus de Haan, Henricus Zwaardecroon dan De Roo) masuk ke dalam dewan pemerintahan, hal ini dikarenakan ketidakcocokan Joan dengan anggota dewan lainnya terutama Abraham van Riebeek dan Christoffel van Swoll. Kemelut ini terus berlarut-larut hingga akhirnya Heeren XVII menyetujui permintaan Joan dan secara resmi mengangkat Joan van Hoorn menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 15 Agustus 1704. Tempat Tinggal Joan van Hoorn Semasa memerintah di Indonesia, van Hoorn tinggal tidak di Kastil Batavia, melainkan di sebuah rumah besar dengan tanah yang luas di selatan Batavia yang bernama Struiswijk. Sedikit penjelasan tentang rumah dan tanah van Hoorn ini, bagi masyarakat Jakarta sekarang, istilah struiswijk mungkin kurang atau bahkan tidak dikenal lagi. Tetapi bagi veteran Perang Dunia ke II yang pernah mengalami masa internir di Jakarta, nama Struiswijk merupakan tempat yang menyeramkan. Struiswijk atau sekarang dikenal dengan nama Salemba sekarang, merupakan sebidang tanah yang luas sekali. Pemilik pertama adalah seorang bintara VOC bernama Abraham Struis yang beristrikan seorang wanita kaya bernama Cornelia yang juga kerabat dari salah seorang anggota Raad van Indie dan juga tuan tanah yaitu Hendrik de Moucheron. Luas Struiswijk ini batasnya adalah S. Ciliwung di sebelah barat, Meester Cornelis di sebelah selatan dan Paviljoensveld (tanah milik Cornelis Chastelein) di sebelah utara. Struiswijk kemudian dibeli oleh Joan van Hoorn, kemudian sempat dijadikan sebagai tempat tinggal seniman Belanda Cornelis de Bruijn (1652-1727) waktu melakukan perjalanan ke Indonesia pada tahun 1705-1706. Luas tanah ini makin lama makin menyusut dan pada akhir abad 18, yang disebut Struiswijk adalah Salemba sekarang. Pada tanggal 12 Agustus 1811, Struiswijk sempat menjadi pusat pertahanan tentara Belanda saat menahan gempuran tentara Inggris. Kemudian pada akhir abad 19, nama Struiswijk dikenal sebagai pabrik candu terbesar di Indonesia yang lokasinya di sekitar Fak. Kedokteran UI sekarang. Pada masa PD II, Struiswijk lebih dikenal sebagai penjara dan kamp internir bagi tawanan dari Belanda dan Sekutu yang lokasinya sekarang adalah LP Salemba. Istilah struiswijk masih digunakan hingga tahun 1960-an terutama saat menyebut penjara Salemba, kemudian nama tersebut pudar dan sekarang lebih dikenal dengan nama Salemba. Semasa menjabat Gubernur Jenderal Walaupun Joan van Hoorn memegang jabatan sebagai Gubernur Jenderal tidak lama, tetapi banyak peristiwa yang terjadi sepanjang masa pemerintahannya. Untuk urusan internal kota Batavia, Joan memerintahkan untuk membangun balaikota (stadhuis) yang baru dan menghancurkan balaikota lama yang terletak di Jl. Kalibesar Timur sekarang. Pada tanggal 23 Januari 1707 dilakukan peletakkan batu pertama oleh Joan van Hoorn dan selesai pada tahun 1712. Stadhuis ini sendiri diresmikan dua tahun lebih awal oleh penerus Joan van Hoorn yaitu Abraham van Riebeek. Balaikota ini sendiri dirancang oleh WJ Van de Velde dengan mengadaptasi bentuk bangunan Paleis op de Dam di Amsterdam, sedangkan pengerjaannya diawasi langsung oleh mandor kepala J. Kemmer. Stadhuis ini masih berdiri tegak hingga sekarang dan sekarang bernama Museum Sejarah Jakarta Perang Jawa I 1705-1708 (VOC-PB I vs Amangkurat III-Surapati) Untuk urusan politik, Joan van Hoorn lebih serius mengamati perkembangan konflik keluarga di Mataram yang merupakan warisan dari gubernur jenderal sebelumnya. Seperti diceritakan sebelumnya bahwa konflik Mataram bermula dari perseteruan antara Amangkurat III dengan pamannya sendiri yaitu Pangeran Puger. Kekacauan bertambah rumit saat Amangkurat III hendak mengambil istri orang yaitu istri dari penguasa Madura, Cakraningrat II. Cakraningrat yang marah kemudian bersekutu dengan Pangeran Puger untuk menjatuhkan Amangkurat III. Mengingat kekuatannya yang tidak sebanding, maka Pangeran Puger meminta bantuan dari VOC (masa pemerintahan van Outhoorn). VOC bersedia membantu P. Puger dengan syarat menyerahkan Demak dan wilayah pantura lainnya kepada VOC. Setelah P. Puger menyetujui syarat-syarat yang diberikan oleh VOC, maka pada tanggal 18 Maret 1705, Willem van Outhoorn menunjuk P. Puger sebagai raja baru Mataram dengan gelar Pakubuwono I. Bersamaan dengan penunjukkan itu, VOC mengirimkan tentaranya ke Semarang. Tanggal 19 Juni 1705 P. Puger resmi diangkat sebagai Raja Mataram yang baru yaitu Pakubuwono I dan proses inagurasi ini dilakukan dibawah penjagaan ketat VOC di Semarang. Tidak lama setelah diangkat menjadi raja, pasukan PB I bersama pasukan VOC melakukan misi membebaskan anak PB I - Raden Surya Kusuma yang disandera oleh Amangkurat III. Serangan yang dilakukan oleh pasukan koalisi VOC-PB I berhasil merebut Salatiga dan membebaskan Rd. Surya Kusuma, sementara itu di Kartosuro, Amangkurat III beserta Untung Suropati berhasil melarikan diri dengan membawa serta berbagai pusaka dan harta kerajaan. Untuk dapat terus menggempur kekuatan Amangkurat III - Untung Suropati, maka PB I meminta kekuatan yang lebih banyak kepada VOC. Atas permintaan ini maka Joan van Hoorn bertemu dengan PB I pada tanggal 5 Oktober 1705 dan antara PB I dengan VOC keluarlah perjanjian sebagai berikut: - Segala hutang VOC kepada Mataram dihapuskan, - Madura Timur berada dibawah kontrol VOC - Semarang sepenuhnya menjadi kota milik VOC - Cirebon menjadi wilayah protektorat VOC - Hak dagang VOC di P. Jawa diperluas - Para pelaut dari Jawa hanya berhak berlayar di perairan sekitar P. Jawa. - Mataram harus mensuplai beras sesuai permintaan VOC dengan harga yang diatur oleh VOC. - Catatan tambahan : Kedua belah pihak setuju bahwa tidak boleh ada bangsa Eropa lain yang membangun factory dan benteng di seluruh P. Jawa. Pakubuwono I menyetujui dan menandatangani perjanjian ini pada tanggal 11 Oktober 1705. Dan sebagai konsekuensi dari perjanjian tersebut maka van Hoorn mengirimkan Kolonel Harman de Wilde untuk membantu Mataram. Tahun 1706 pasukan koalisi VOC-PB I berhasil merebut Kediri dari Amangkurat III, walaupun luka parah Suropati berhasil lolos dari sergapan dan meninggal di tempat persembunyiannya. Sementara anak dari Suropati, Pangating, berhasil mengajak para pemimpin dari Gresik, Kediri dan Blambangan untuk membantu Amangkurat III melawan VOC dan Pakubuwono I. Tahun 1707, gabungan pasukan VOC - PB I serentak menyerang kota-kota di Jawa Timur. VOC berhasil mengambil alih Pasuruan sementara di Madiun, pasukan VOC - PB1 mendapatkan perlawanan hebat dari pasukan Amangkurat III. Amangkurat III bersama pengawalnya lari ke Malang tetapi sebelum sampai kota Malang, mereka dicegat oleh pasukan Pangeran Blitar yang merupakan sekutu dari Pakubuwono I. Tahun 1708 merupakan akhir dari perang Jawa I, pasukan Amangkurat III terdesak hingga Surabaya. Tanggal 17 Juli 1708, Amangkurat III menyerah kepada VOC setelah dijanjikan akan mendapat kebebasan dan tidak diserahkan kepada Pakubuwono I. Kemudian pada 24 Agustus 1708, Amangkurat III beserta keluarga dan para pengikutnya dibawa menggunakan kapal laut ke Batavia. Di Batavia, Amangkurat III diberi tahu oleh Joan van Hoorn bahwa VOC di Surabaya tidak punya wewenang untuk memberi kebebasan kepada beliau. Akhirnya Amangkurat III ditahan sebagai tawanan perang dan diasingkan ke Ceylon, Srilangka hingga akhir hayatnya. Setelah hampir seluruh Jawa dikuasai VOC, terutama wilayah Jawa Barat. Maka van Hoorn bermaksud melakukan eksperimen di bidang perkebunan. Tahun 1705, van Hoorn memesan bibit kopi cananore dari India, dan percobaan pertama dilakukan di halaman rumahnya di Struiswijk. Pada tahun 1706, Cornelis de Bruijn sempat berkeliling Batavia dan melihat kultivasi tanaman kopi marak dilakukan di berbagai tempat, tidak hanya van Hoorn saja yang berminat dengan kopi, anggota Raad van Indie, Cornelis Chastelein pun menanam kopi di Pavilijoensveld. Ternyata percobaan pertamanya gagal, hawa di daerah Betawi terlalu panas dan kurang cocok untuk tanaman kopi. Akhirnya penanaman dilakukan di dataran yang lebih tinggi. Dan penanaman kopi lebih berhasil saat pemerintahan Abraham van Riebeek, saat itu kopi secara luas ditanam di dataran tinggi Cianjur, Bogor dan Sukabumi Kehidupan Joan van Hoorn Joan van Hoorn menikah pertama kali dengan Anna Struis pada tahun 1690 dan mempunyai anak perempuan bernama Petronella Wilhelmina, yang kemudian menikah dengan Jan Trip - anak dari walikota Trip. Petronella tidak lama menikah dengan Jan Trip, setelah bercerai dengan Jan dia kemudian bertemu dan menikah dengan Adolf Torck seorang bangsawan dari Roozendaal. Rumahnya yaitu Istana Roozendaal di Arnhem hingga saat ini masih menyimpan berbagai artefak dan benda dari Indonesia. Pada tahun 1692, istri pertama Joan - Anna - meninggal dunia dan Joan menikah kembali dengan putri dari Willem van Outhoorn yaitu Susanna van Outhoorn tetapi pernikahan ini tidak berlangsung lama. Joan van Hoorn menikah ketiga kalinya dengan Joanna Maria van Riebeek yang merupakan putri dari Abraham van Riebeek yang juga merupakan janda dari Gerard de Heere, anggota Raad van Indie. Dari perkawinan ketiganya lahir putra van Hoorn pada tanggal 2 Februari 1708, tetapi meninggal beberapa bulan kemudian. Tanggal 2 Maret 1708, Joan van Hoorn mengajukan pengunduran diri sebagai Gubernur Jenderal dan pada tanggal 13 Oktober 1709 melakukan serah terima jabatan kepada pengganti sekaligus mantan mertuanya Abraham van Riebeek. Setelah pensiun dari gubernur jenderal, van Hoorn memimpin armada kapal VOC dan pulang ke tanah airnya. Setibanya di Amsterdam, Joan van Hoorn membeli sebuah rumah mewah di Herengracht. Joan van Hoorn juga menerima penghargaan berupa medali berantai emas dari Heeren XVII atas jasa-jasanya selama bertugas di Indonesia. Joan van Hoorn meninggal dunia di Amsterdam pada tanggal 21 Februari 1711. Disarikan dari berbagai sumber Kisah Gubernur Jenderal selanjutnya Abraham van Riebeeck (1709 - 1713) Salam, Hatmanto SN. __,_._,___ -- "A Civilized, Professional, Modern Biker" TRiC - 077 InBIKE - 031 HTML - 853 HORNET - 151 INSERT - 006 FSRJ 'ers ---------------------------------------- http://dickydewa.multiply.com ____________________________________________________________________________________ Cheap talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates. http://voice.yahoo.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ --- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply --- . To post to this group, send email to [email protected] To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED] For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
