Wah....kayanya di jakarta banyak sekali tempat dan cerita sejarah tempo 
dulu....!!!

Bagus juga ya...kalo kita-kita nih...Inbike'rsss...buat acara dengan tema

"Tour Wisata Inbike 2007"...yang dituju musium-musium yang ada di jakarta dan 
sekitanya...

lumayan buat nambah silaturahmi..dengan keluraga inbike keselurahan baik yang 
lajang dan sudah berkeluarga..



yoyo


 


----- Original Message ----
From: Sidi M. Fatahillah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; HORNETERZ <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, March 1, 2007 11:13:43 AM
Subject: [ForBas] Re: Gouverneur Generaal van Netherlandsch Indie Part XVI


Ada yang lain ga? Bagus tuh artikel nya
 
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of dicky.dewa
Sent: Thursday, March 01, 2007 7:40 AM
To: ForBas; HORNETERZ
Subject: [ForBas] Gouverneur Generaal van Netherlandsch Indie Part XVI
 
---------- Forwarded message ----------
From: Hatmanto SN <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Feb 28, 2007 5:09 PM 
Subject: [SahabatMuseum] Gouverneur Generaal van Netherlandsch Indie Part XVI
To: [EMAIL PROTECTED]
Joan van Hoorn (1705 - 1709)

Salah satu Gubernur Jenderal yang dikenal cukup baik namanya bagi pemerhati 
sejarah Kota Jakarta adalah Joan van Hoorn. Di berbagai literatur sejarah 
Jakarta sering namanya disebut sebagai pendiri balaikota Batavia yang sekarang 
menjadi Museum Sejarah Jakarta. 

Keluarga van Hoorn

Joan (kadang ditulis Johan) van Hoorn lahir di Amsterdam pada tanggal 16 
November 1653. Ayahnya adalah Pieter Janszoon van Hoorn dan Ibunya bernama Sara 
Bessels. Sedikit cerita mengenai Pieter Jansz ini, yang batu nisannya masih 
bisa dilihat di Museum Prasasti, adalah seorang pengusaha pertambangan batubara 
di Amsterdam yang kemudian bangkrut. Dikarenakan koneksinya yang luas dan juga 
karena pengaruh kuat istrinya, akhirnya Pieter merantau ke Indonesia. Di 
Indonesia, karir Pieter mulai menanjak dan menjadi anggota dari Dewan Hindia 
(Raad van Indie). Antara tahun 1666 hingga 1668, Pieter menjadi duta besar VOC 
di Beijing. Pieter kemudian dikeluarkan dari Dewan Hindia dikarenakan 
nasihatnya kepada para bos VOC supaya tidak membuat koloni di tempat yang jauh 
dari tanah airnya, sebab akan menimbulkan biaya yang sangat mahal. 

Selain Pieter dan Joan masih ada di keluarga van Hoorn ini yang mempunyai peran 
penting dalam catatan sejarah Bangsa Indonesia, yaitu saudara ipar Joan van 
Hoorn yang bernama Francois Tack (1649-1686), kita lebih mengenalnya sebagai 
Kapten Tack. Tack adalah seorang tentara yang membela VOC di Srilangka (Ceylon) 
dan Indonesia. Sempat menjadi pimpinan dari badan urusan umum dan pernikahan di 
balaikota Batavia. Saat terjadi clash antara pejuang Bali, Untung Suropati 
dengan VOC, pada tahun 1686 Francois Tack dikirim oleh Gubernur Jenderal 
Camphuijs untuk pergi ke ibukota Mataram, Kartasura, dengan misi menjemput 
Suropati. 

Misi penjemputan berubah menjadi misi bunuh diri, Tack dijebak oleh pasukan 
Mataram dan menyebabkan dirinya beserta 75 tentara VOC lainnya tewas di dalam 
keraton yang terbakar. Mayat Tack sendiri ditemukan dengan lebih dari 20 luka 
tusukan. 

Versi lain kematian Francois Tack diceritakan oleh Babad Tanah Jawi, menurutnya 
Tack tewas disebabkan oleh tombak keramat Kyai Plered yang dilemparkan oleh 
Pangeran Puger saat pertempuran Kartosuro. Pangeran Puger sendiri akan banyak 
berhubungan dengan saudara ipar Tack yaitu Joan van Hoorn saat kisruh Mataram 
antara P. Puger dengan Amangkurat III. 

Kembali ke kisahnya Joan van Hoorn, saat keluarga van Hoorn pindah ke Indonesia 
tahun 1663, usia Joan masih belia yaitu baru 10 tahun. Tetapi usia belia tidak 
membuat ragu-ragu untuk merekrutnya menjadi anggota VOC. Dua tahun kemudian, 
tepatnya pada tahun 1665 Joan sudah menjadi asisten yunior di VOC, dan setahun 
kemudian pada bulan Juli 1666 Joan menemani ayahnya bertugas di Tiongkok hingga 
bulan Agustus 1668. 

Sepulangnya dari Tiongkok, tidak lama bagi Joan untuk menunggu pangkatnya naik. 
Tahun 1671 dia diangkat sebagai asisten kemudian tahun 1673 sebagai 
onderkoopman (saudagar rendah), tahun 1676 sebagai koopman (saudagar) dan clerk 
utama bagi sekretaris umum di Batavia, tahun 1678 menjadi sekretaris di Hoge 
Regering (High Government). Pada tanggal 11 Agustus 1682 diangkat menjadi 
anggota kehormatan Konsul Hindia dan bertugas di Banten. Pada tahun yang sama 
Joan van Hoorn menjabat sebagai Presiden Rumah Yatim Piatu Batavia. Tahun 1684, 
Joan ditunjuk sebagai Ketua Heemraaden (Lembaga yang mengurusi pengairan dan 
polder). Pada tahun 1685, Joan ditunjuk sebagai anggota dewan dan ditugaskan ke 
Banten untuk kedua kalinya. 

Joan van Hoorn menikah dengan Anna Struis dan mempunyai anak perempuan bernama 
Petronella Wilhelmina, yang kemudian menikah dengan Jan Trip - anak dari 
walikota Trip. Petronella tidak lama menikah dengan Jan Trip, setelah bercerai 
dengan Jan dia kemudian bertemu dengan Adolf Torck seorang bangsawan dari 
Roozendaal dan kemudian menikahinya. 

Pada tahun 1691, Joan van Hoorn diangkat sebagai Direktur Jenderal, sebuah 
jabatan kedua tertinggi setelah Gubernur Jenderal. Pada saat menduduki jabatan 
ini Joan memerintahkan Dewan Kota untuk membangun gereja bagi bangsa Portugis 
Mardijker di luar benteng dan pada tanggal 19 Oktober 1693 dilakukan peletakkan 
batu pertama pembangunan gereja ini.Tanggal 20 September 1701, oleh Willem van 
Outhoorn Joan diusulkan menjadi Gubernur Jenderal menggantikan dirinya. Tetapi 
Joan menolak penunjukkan ini, kecuali tiga orang temannya (Mattheus de Haan, 
Henricus Zwaardecroon dan De Roo) masuk ke dalam dewan pemerintahan, hal ini 
dikarenakan ketidakcocokan Joan dengan anggota dewan lainnya terutama Abraham 
van Riebeek dan Christoffel van Swoll. Kemelut ini terus berlarut-larut hingga 
akhirnya Heeren XVII menyetujui permintaan Joan dan secara resmi mengangkat 
Joan van Hoorn menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 15 Agustus 
1704. 

Tempat Tinggal Joan van Hoorn

Semasa memerintah di Indonesia, van Hoorn tinggal tidak di Kastil Batavia, 
melainkan di sebuah rumah besar dengan tanah yang luas di selatan Batavia yang 
bernama Struiswijk. Sedikit penjelasan tentang rumah dan tanah van Hoorn ini, 
bagi masyarakat Jakarta sekarang, istilah struiswijk mungkin kurang atau bahkan 
tidak dikenal lagi. Tetapi bagi veteran Perang Dunia ke II yang pernah 
mengalami masa internir di Jakarta, nama Struiswijk merupakan tempat yang 
menyeramkan. 

Struiswijk atau sekarang dikenal dengan nama Salemba sekarang, merupakan 
sebidang tanah yang luas sekali. Pemilik pertama adalah seorang bintara VOC 
bernama Abraham Struis yang beristrikan seorang wanita kaya bernama Cornelia 
yang juga kerabat dari salah seorang anggota Raad van Indie dan juga tuan tanah 
yaitu Hendrik de Moucheron. Luas Struiswijk ini batasnya adalah S. Ciliwung di 
sebelah barat, Meester Cornelis di sebelah selatan dan Paviljoensveld (tanah 
milik Cornelis Chastelein) di sebelah utara. Struiswijk kemudian dibeli oleh 
Joan van Hoorn, kemudian sempat dijadikan sebagai tempat tinggal seniman 
Belanda Cornelis de Bruijn (1652-1727) waktu melakukan perjalanan ke Indonesia 
pada tahun 1705-1706. Luas tanah ini makin lama makin menyusut dan pada akhir 
abad 18, yang disebut Struiswijk adalah Salemba sekarang. Pada tanggal 12 
Agustus 1811, Struiswijk sempat menjadi pusat pertahanan tentara Belanda saat 
menahan gempuran tentara Inggris. Kemudian pada akhir abad 19, nama
 Struiswijk dikenal sebagai pabrik candu terbesar di Indonesia yang lokasinya 
di sekitar Fak. Kedokteran UI sekarang. Pada masa PD II, Struiswijk lebih 
dikenal sebagai penjara dan kamp internir bagi tawanan dari Belanda dan Sekutu 
yang lokasinya sekarang adalah LP Salemba. Istilah struiswijk masih digunakan 
hingga tahun 1960-an terutama saat menyebut penjara Salemba, kemudian nama 
tersebut pudar dan sekarang lebih dikenal dengan nama Salemba. 

Semasa menjabat Gubernur Jenderal

Walaupun Joan van Hoorn memegang jabatan sebagai Gubernur Jenderal tidak lama, 
tetapi banyak peristiwa yang terjadi sepanjang masa pemerintahannya. Untuk 
urusan internal kota Batavia, Joan memerintahkan untuk membangun balaikota 
(stadhuis) yang baru dan menghancurkan balaikota lama yang terletak di Jl. 
Kalibesar Timur sekarang. Pada tanggal 23 Januari 1707 dilakukan peletakkan 
batu pertama oleh Joan van Hoorn dan selesai pada tahun 1712. Stadhuis ini 
sendiri diresmikan dua tahun lebih awal oleh penerus Joan van Hoorn yaitu 
Abraham van Riebeek. Balaikota ini sendiri dirancang oleh WJ Van de Velde 
dengan mengadaptasi bentuk bangunan Paleis op de Dam di Amsterdam, sedangkan 
pengerjaannya diawasi langsung oleh mandor kepala J. Kemmer. Stadhuis ini masih 
berdiri tegak hingga sekarang dan sekarang bernama Museum Sejarah Jakarta 

Perang Jawa I 1705-1708 (VOC-PB I vs Amangkurat III-Surapati)

Untuk urusan politik, Joan van Hoorn lebih serius mengamati perkembangan 
konflik keluarga di Mataram yang merupakan warisan dari gubernur jenderal 
sebelumnya. Seperti diceritakan sebelumnya bahwa konflik Mataram bermula dari 
perseteruan antara Amangkurat III dengan pamannya sendiri yaitu Pangeran Puger. 
Kekacauan bertambah rumit saat Amangkurat III hendak mengambil istri orang 
yaitu istri dari penguasa Madura, Cakraningrat II. Cakraningrat yang marah 
kemudian bersekutu dengan Pangeran Puger untuk menjatuhkan Amangkurat III. 
Mengingat kekuatannya yang tidak sebanding, maka Pangeran Puger meminta bantuan 
dari VOC (masa pemerintahan van Outhoorn). VOC bersedia membantu P. Puger 
dengan syarat menyerahkan Demak dan wilayah pantura lainnya kepada VOC. 

Setelah P. Puger menyetujui syarat-syarat yang diberikan oleh VOC, maka pada 
tanggal 18 Maret 1705, Willem van Outhoorn menunjuk P. Puger sebagai raja baru 
Mataram dengan gelar Pakubuwono I. Bersamaan dengan penunjukkan itu, VOC 
mengirimkan tentaranya ke Semarang. Tanggal 19 Juni 1705 P. Puger resmi 
diangkat sebagai Raja Mataram yang baru yaitu Pakubuwono I dan proses inagurasi 
ini dilakukan dibawah penjagaan ketat VOC di Semarang. 

Tidak lama setelah diangkat menjadi raja, pasukan PB I bersama pasukan VOC 
melakukan misi membebaskan anak PB I - Raden Surya Kusuma yang disandera oleh 
Amangkurat III. Serangan yang dilakukan oleh pasukan koalisi VOC-PB I berhasil 
merebut Salatiga dan membebaskan Rd. Surya Kusuma, sementara itu di Kartosuro, 
Amangkurat III beserta Untung Suropati berhasil melarikan diri dengan membawa 
serta berbagai pusaka dan harta kerajaan. 

Untuk dapat terus menggempur kekuatan Amangkurat III - Untung Suropati, maka PB 
I meminta kekuatan yang lebih banyak kepada VOC. Atas permintaan ini maka Joan 
van Hoorn bertemu dengan PB I pada tanggal 5 Oktober 1705 dan antara PB I 
dengan VOC keluarlah perjanjian sebagai berikut: 

- Segala hutang VOC kepada Mataram dihapuskan,

- Madura Timur berada dibawah kontrol VOC

- Semarang sepenuhnya menjadi kota milik VOC

- Cirebon menjadi wilayah protektorat VOC

- Hak dagang VOC di P. Jawa diperluas 

- Para pelaut dari Jawa hanya berhak berlayar di perairan sekitar P. Jawa.

- Mataram harus mensuplai beras sesuai permintaan VOC dengan harga yang diatur 
oleh VOC.

- Catatan tambahan : Kedua belah pihak setuju bahwa tidak boleh ada bangsa 
Eropa lain yang membangun factory dan benteng di seluruh P. Jawa. 

Pakubuwono I menyetujui dan menandatangani perjanjian ini pada tanggal 11 
Oktober 1705. Dan sebagai konsekuensi dari perjanjian tersebut maka van Hoorn 
mengirimkan Kolonel Harman de Wilde untuk membantu Mataram.

Tahun 1706 pasukan koalisi VOC-PB I berhasil merebut Kediri dari Amangkurat 
III, walaupun luka parah Suropati berhasil lolos dari sergapan dan meninggal di 
tempat persembunyiannya. Sementara anak dari Suropati, Pangating, berhasil 
mengajak para pemimpin dari Gresik, Kediri dan Blambangan untuk membantu 
Amangkurat III melawan VOC dan Pakubuwono I. 

Tahun 1707, gabungan pasukan VOC - PB I serentak menyerang kota-kota di Jawa 
Timur. VOC berhasil mengambil alih Pasuruan sementara di Madiun, pasukan VOC - 
PB1 mendapatkan perlawanan hebat dari pasukan Amangkurat III. Amangkurat III 
bersama pengawalnya lari ke Malang tetapi sebelum sampai kota Malang, mereka 
dicegat oleh pasukan Pangeran Blitar yang merupakan sekutu dari Pakubuwono I. 

Tahun 1708 merupakan akhir dari perang Jawa I, pasukan Amangkurat III terdesak 
hingga Surabaya. Tanggal 17 Juli 1708, Amangkurat III menyerah kepada VOC 
setelah dijanjikan akan mendapat kebebasan dan tidak diserahkan kepada 
Pakubuwono I. Kemudian pada 24 Agustus 1708, Amangkurat III beserta keluarga 
dan para pengikutnya dibawa menggunakan kapal laut ke Batavia. Di Batavia, 
Amangkurat III diberi tahu oleh Joan van Hoorn bahwa VOC di Surabaya tidak 
punya wewenang untuk memberi kebebasan kepada beliau. Akhirnya Amangkurat III 
ditahan sebagai tawanan perang dan diasingkan ke Ceylon, Srilangka hingga akhir 
hayatnya. 

Setelah hampir seluruh Jawa dikuasai VOC, terutama wilayah Jawa Barat. Maka van 
Hoorn bermaksud melakukan eksperimen di bidang perkebunan. Tahun 1705, van 
Hoorn memesan bibit kopi cananore dari India, dan percobaan pertama dilakukan 
di halaman rumahnya di Struiswijk. Pada tahun 1706, Cornelis de Bruijn sempat 
berkeliling Batavia dan melihat kultivasi tanaman kopi marak dilakukan di 
berbagai tempat, tidak hanya van Hoorn saja yang berminat dengan kopi, anggota 
Raad van Indie, Cornelis Chastelein pun menanam kopi di Pavilijoensveld. 
Ternyata percobaan pertamanya gagal, hawa di daerah Betawi terlalu panas dan 
kurang cocok untuk tanaman kopi. Akhirnya penanaman dilakukan di dataran yang 
lebih tinggi. Dan penanaman kopi lebih berhasil saat pemerintahan Abraham van 
Riebeek, saat itu kopi secara luas ditanam di dataran tinggi Cianjur, Bogor dan 
Sukabumi 

Kehidupan Joan van Hoorn

Joan van Hoorn menikah pertama kali dengan Anna Struis pada tahun 1690 dan 
mempunyai anak perempuan bernama Petronella Wilhelmina, yang kemudian menikah 
dengan Jan Trip - anak dari walikota Trip. Petronella tidak lama menikah dengan 
Jan Trip, setelah bercerai dengan Jan dia kemudian bertemu dan menikah dengan 
Adolf Torck seorang bangsawan dari Roozendaal. Rumahnya yaitu Istana Roozendaal 
di Arnhem hingga saat ini masih menyimpan berbagai artefak dan benda dari 
Indonesia. 

Pada tahun 1692, istri pertama Joan - Anna - meninggal dunia dan Joan menikah 
kembali dengan putri dari Willem van Outhoorn yaitu Susanna van Outhoorn tetapi 
pernikahan ini tidak berlangsung lama. Joan van Hoorn menikah ketiga kalinya 
dengan Joanna Maria van Riebeek yang merupakan putri dari Abraham van Riebeek 
yang juga merupakan janda dari Gerard de Heere, anggota Raad van Indie. Dari 
perkawinan ketiganya lahir putra van Hoorn pada tanggal 2 Februari 1708, tetapi 
meninggal beberapa bulan kemudian. 

Tanggal 2 Maret 1708, Joan van Hoorn mengajukan pengunduran diri sebagai 
Gubernur Jenderal dan pada tanggal 13 Oktober 1709 melakukan serah terima 
jabatan kepada pengganti sekaligus mantan mertuanya Abraham van Riebeek. 
Setelah pensiun dari gubernur jenderal, van Hoorn memimpin armada kapal VOC dan 
pulang ke tanah airnya. Setibanya di Amsterdam, Joan van Hoorn membeli sebuah 
rumah mewah di Herengracht. Joan van Hoorn juga menerima penghargaan berupa 
medali berantai emas dari Heeren XVII atas jasa-jasanya selama bertugas di 
Indonesia. Joan van Hoorn meninggal dunia di Amsterdam pada tanggal 21 Februari 
1711. 

Disarikan dari berbagai sumber

Kisah Gubernur Jenderal selanjutnya Abraham van Riebeeck (1709 - 1713)

Salam,

Hatmanto SN.

__,_._,___ 
-- 
"A Civilized, Professional, Modern Biker"

TRiC - 077
InBIKE - 031
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
---------------------------------------- 
http://dickydewa.multiply.com 





 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke