Buat yang masih kesel sama ANGKOT...
=========================================

*sumber : **
http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=22240&section=94
*<http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=22240&section=94>

  *Sehari Bersama Sopir Angkot*          Kamis | 01 Maret 2007 | 14:16 wib |
38 Komentar
<http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=22240&section=94#komentar>

   *
KCM/Egidius Patnistik*

Sejumlah mikrolet ngetem di depan sebuah halte selepas rel kereta api
Kalibata, Jakarta Selatan.

*Mengapa sopir angkot suka ugal-ugalan atau ngetem lama di sebuah lokasi
padahal penumpangnya sudah tidak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan?
*

BERSAMA seorang teman, saya naik angkot (Angkutan Kota) jenis mikrolet (M01)
dari kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat ke arah Kampung Melayu, Jakarta
Timur. Saat turun di seberang Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur
teman saya membayar ongkos.

"Kurang, Mas," kata si sopir. "Mahasiswa, Bang, " jawab teman saya.  "Bah!
tua-tua *ngaku* masih mahasiswa, kurang nih," kata si sopir kesal. Teman
saya tersinggung. Mukanya memerah, tangannya mengepal. "Daripada *lu*, sudah
tua bau tanah juga masih jadi sopir angkot," balasnya.

Itu kejadian beberapa tahun lalu. Peristiwa semacam itu, dimana sopir angkot
dan penumpangnya bersitegang atau saling mengatai seringkali terjadi. Coba
saja naik angkot dan perhatikan, atau ikuti diskusi di milis-milis atau baca
isi blog orang di internet. Pasalnya bisa karena penumpang, menurut versi
sopir, bayar ongkos kurang atau karena ulah si sopir yang ugal-ugalan atau
ngetem sampai bermenit-menit di suatu tempat.

Di Jakarta, besaran tarif diatur oleh pemerintah daerah namun hanya untuk
jarak terjauh. Untuk jarak antara yang pendek dan menengah ditentukan sesuka
hati oleh sopir. Besaran tarif jarak antara itulah yang sering memicu
keributan dengan penumpang.

Kebiasaan para sopir angkot berhenti mendadak di sembarang tempat serta
menyalib kendaraan lain seenaknnya juga membuat pemakai jalan lainnya
berang. Mengapa mereka suka ugal-ugalan, *ngebut*, *ngetem* berlama-lama
atau malah berjalan lambat?

Sejumlah sopir, Selasa ((27/2) lalu, menceritakan kisah mereka. Adi (27
tahun) sopir angkot M16 trayek Kampung Melayu-Pasar Minggu bekerja –istilah
mereka "*narik*"- dari pukul 12.00 sampai 21.00. Untuk sembilan jam kerja
itu ia harus menyetor ke pemilik kendaraan Rp 55.000. Bensin ia tanggung
sendiri. Total belanja bensin rata-rata Rp 100.000.

Itu artinya, Adi harus bisa dapat uang lebih dari Rp 155.000 selama sembilan
jam. Berapa biasanya uang yang ia bawa pulang untuk istri dan dua orang
anaknya di Jalan Kebon Pala II, Jakarta Timur? "Sisanya kadang hanya Rp
30.000, paling tinggi Rp 50.000," kata Adi. Pernah pula ia pulang tanpa bawa
uang atau justru utang ke pemilik mobil karena setorannya kurang.

Besar setoran setiap mobil angkot berbeda-beda meski rutenya sama. Besar
setoran tergantung kondisi mobil. Makin baru mobil angkot yang digunakan,
makin tinggi pula setorannya.

Hampir semua sopir angkot terjebak dalam sistem kerja setoran seperti itu.
Hasilnya, sebuah kemiskinan struktural. Adi misalnya, selama sembilan jam
menembus kemacetan, berantem dengan penumpang atau pemakai jalan lainnya,
penghasilan malah kadang-kadang minus. "Cari kerja lain juga susah," kata
Adi.

Dalam sembilan jam itu, biasanya Adi bolak-balik Kampung Melayu-Pasar Minggu
empat kali. Jarak antara kedua lokasi itu hanya sekitar 13 kilometer. Satu
kali pergi-pulang (PP) ia menghabiskan bahan bakar senilai Rp 25.000.

Menurut Adi, pertimbangan pemakaian bahan bakar itu yang membuat dia dan
teman-temannya *ngetem* di jalanan. Kalau ia berjalan dengan satu atau dua
orang penumpang saja, ia pasti tekor. Sementara kapasitas maksimal sebuah
angkot 10 orang.  "Tadi dari Kampung Melayu,saya malas ngetem, dapatnya cuma
Rp 5.000. Makanya, daripada angkut angin, *mending* saya tunggu sampai
penuh," kata Adi.

Ketika saya menumpang angkotnya dari Pasar Minggu, kami *ngetem* di depan
Taman Makam Kalibata, seberang Mal Kalibata, Dewi Sartika (dekat RSUD Budhi
Asih), dan di depan Polsek Cawang.

"Kalau ada penumpang yang marah-marah dan suruh saya jalan padahal angkot
belum penuh, saya suruh dia turun aja, cari angkot lain, atau kalau punya
uang ya naik ojek atau taksi," kata Ucok, seorang sopir angkot M16 yang
lain.

Begitu memutuskan untuk *ngetem*, para sopir ini tidak peduli kondisi
sekitar. Dibel atau diteriaki, mereka cuek bebek. Di daerah Kalibata
misalnya, angkot bisa berhenti persis setelah rel kereta dan sopirnya tidak
mau tahu kalau kendaraan lain di belakangnya terjebak di tengah rel dan
teracam tersambar kereta.

Mereka mengeluh, sekarang cari penumpang semakin sulit. "Sekarang tidak ada
lagi orang bergerombol di pinggir jalan atau halte tunggu angkot," kata
Ucok. Di trayek Kampung Melayu-Senen yang selama ini dikenal sebagai jalur
"gemuk', sopirnya juga mengeluh. Kondisi sopir angkot di jalur ini tambah
parah setelah jalur *busway* (Kampung Melayu-Ancol) yang seiris dengan rute
M01 juga berfungsi.

Yahya, sopir M01 menuturkan, sebelum ada *busway* setiap hari ia mengantongi
uang  Rp 60.000-70.000. "Sekarang *mah* dapat Rp 30.000 *aja* sudah lumayan.
Masa jaya jadi sopir angkot itu dulu, sekitar tahun 1995-an. Saat itu sehari
saya bisa dapat Rp 100.000. Makanya saya bisa bangun rumah di kampung," kata
Yahya asal Garut, Jawa Barat yang "*narik*"angkot dari pukul 06.00 sampai
pukul 22.00.

Menurut Ucok, selain karena busway, jumlah sepeda motor yang terus meningkat
juga mempengaruhi penghasilan mereka. "Sepeda motor sekarang banyak sekali,
tukang ojek ada di mana-mana. Kami ini tunggu yang sisa-sisa *aja*," kata
Ucok.

Kondisinya tambah runyam karena penghasilan mereka juga digerogoti preman
dan petugas yang melakukan pungutan liar. Setiap kali masuk Terminal Pasar
Minggu misalnya, para sopir harus membayar "upeti" ke sejumlah petugas dinas
perhubungan, *timer* (semacam penguasa terminal), dan orang-orang dari
sebuah ormas yang mengusung nama Betawi. Kepada preman dan petugas itu
mereka memang hanya membayar Rp 500 tetapi kalau diakumulasi, jumlahnya jadi
lumayan besar juga. "Yang untuk pungli itu kita tidak anggap. Sekali jalan
ada kali Rp 4.000," kata Adi.

Seorang sopir mengatakan, ia bisa saja tidak memberi upeti kepada petugas
dinas perhubungan tersebut. "Tapi saya setiap hari lewat di sini. Nanti
mereka cari-cari kesalahan. Kalau sopir bersatu sebenarnya bisa dilawan
termasuk yang pakai nama ormas Betawi itu. Tapi ya sudahlah," kata sopir
itu.

Di sepanjang jalan mereka juga dipalak preman. Setiap kali mereka *ngetem*,
biasanya ada saja preman yang minta jatah. "Memang begitu kondisinya, mau
apa lagi," kata Ucok.

*Penulis*: Egidius Patnistik

-- 
"A Civilized, Professional, Modern Biker"

TRiC - 077
InBIKE - 031
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
----------------------------------------
http://dickydewa.multiply.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke