pfffffttttt.......... kok ada adi disni... berita baiknya, ini bukan adhi gw. ck...ck.....
----- Original Message ---- From: dicky.dewa <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; ForBas <[email protected]>; HORNETERZ <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, March 5, 2007 8:30:32 AM Subject: [ForBas] [OOT] Sopir Angkot yang Ngetem dan Ugal-Ugalan Buat yang masih kesel sama ANGKOT... ========================================= sumber : http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=22240§ion=94 Sehari Bersama Sopir Angkot Kamis | 01 Maret 2007 | 14:16 wib | 38 Komentar KCM/Egidius Patnistik Sejumlah mikrolet ngetem di depan sebuah halte selepas rel kereta api Kalibata, Jakarta Selatan. Mengapa sopir angkot suka ugal-ugalan atau ngetem lama di sebuah lokasi padahal penumpangnya sudah tidak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan? BERSAMA seorang teman, saya naik angkot (Angkutan Kota) jenis mikrolet (M01) dari kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat ke arah Kampung Melayu, Jakarta Timur. Saat turun di seberang Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur teman saya membayar ongkos. "Kurang, Mas," kata si sopir. "Mahasiswa, Bang, " jawab teman saya. "Bah! tua-tua ngaku masih mahasiswa, kurang nih," kata si sopir kesal. Teman saya tersinggung. Mukanya memerah, tangannya mengepal. "Daripada lu, sudah tua bau tanah juga masih jadi sopir angkot," balasnya. Itu kejadian beberapa tahun lalu. Peristiwa semacam itu, dimana sopir angkot dan penumpangnya bersitegang atau saling mengatai seringkali terjadi. Coba saja naik angkot dan perhatikan, atau ikuti diskusi di milis-milis atau baca isi blog orang di internet. Pasalnya bisa karena penumpang, menurut versi sopir, bayar ongkos kurang atau karena ulah si sopir yang ugal-ugalan atau ngetem sampai bermenit-menit di suatu tempat. Di Jakarta, besaran tarif diatur oleh pemerintah daerah namun hanya untuk jarak terjauh. Untuk jarak antara yang pendek dan menengah ditentukan sesuka hati oleh sopir. Besaran tarif jarak antara itulah yang sering memicu keributan dengan penumpang. Kebiasaan para sopir angkot berhenti mendadak di sembarang tempat serta menyalib kendaraan lain seenaknnya juga membuat pemakai jalan lainnya berang. Mengapa mereka suka ugal-ugalan, ngebut, ngetem berlama-lama atau malah berjalan lambat? Sejumlah sopir, Selasa ((27/2) lalu, menceritakan kisah mereka. Adi (27 tahun) sopir angkot M16 trayek Kampung Melayu-Pasar Minggu bekerja –istilah mereka "narik"- dari pukul 12.00 sampai 21.00. Untuk sembilan jam kerja itu ia harus menyetor ke pemilik kendaraan Rp 55.000. Bensin ia tanggung sendiri. Total belanja bensin rata-rata Rp 100.000. Itu artinya, Adi harus bisa dapat uang lebih dari Rp 155.000 selama sembilan jam. Berapa biasanya uang yang ia bawa pulang untuk istri dan dua orang anaknya di Jalan Kebon Pala II, Jakarta Timur? "Sisanya kadang hanya Rp 30.000, paling tinggi Rp 50.000," kata Adi. Pernah pula ia pulang tanpa bawa uang atau justru utang ke pemilik mobil karena setorannya kurang. Besar setoran setiap mobil angkot berbeda-beda meski rutenya sama. Besar setoran tergantung kondisi mobil. Makin baru mobil angkot yang digunakan, makin tinggi pula setorannya. Hampir semua sopir angkot terjebak dalam sistem kerja setoran seperti itu. Hasilnya, sebuah kemiskinan struktural. Adi misalnya, selama sembilan jam menembus kemacetan, berantem dengan penumpang atau pemakai jalan lainnya, penghasilan malah kadang-kadang minus. "Cari kerja lain juga susah," kata Adi. Dalam sembilan jam itu, biasanya Adi bolak-balik Kampung Melayu-Pasar Minggu empat kali. Jarak antara kedua lokasi itu hanya sekitar 13 kilometer. Satu kali pergi-pulang (PP) ia menghabiskan bahan bakar senilai Rp 25.000 . Menurut Adi, pertimbangan pemakaian bahan bakar itu yang membuat dia dan teman-temannya ngetem di jalanan. Kalau ia berjalan dengan satu atau dua orang penumpang saja, ia pasti tekor. Sementara kapasitas maksimal sebuah angkot 10 orang. "Tadi dari Kampung Melayu,saya malas ngetem, dapatnya cuma Rp 5.000. Makanya, daripada angkut angin, mending saya tunggu sampai penuh," kata Adi. Ketika saya menumpang angkotnya dari Pasar Minggu, kami ngetem di depan Taman Makam Kalibata, seberang Mal Kalibata, Dewi Sartika (dekat RSUD Budhi Asih), dan di depan Polsek Cawang. "Kalau ada penumpang yang marah-marah dan suruh saya jalan padahal angkot belum penuh, saya suruh dia turun aja, cari angkot lain, atau kalau punya uang ya naik ojek atau taksi," kata Ucok, seorang sopir angkot M16 yang lain. Begitu memutuskan untuk ngetem, para sopir ini tidak peduli kondisi sekitar. Dibel atau diteriaki, mereka cuek bebek. Di daerah Kalibata misalnya, angkot bisa berhenti persis setelah rel kereta dan sopirnya tidak mau tahu kalau kendaraan lain di belakangnya terjebak di tengah rel dan teracam tersambar kereta. Mereka mengeluh, sekarang cari penumpang semakin sulit. "Sekarang tidak ada lagi orang bergerombol di pinggir jalan atau halte tunggu angkot," kata Ucok. Di trayek Kampung Melayu-Senen yang selama ini dikenal sebagai jalur "gemuk', sopirnya juga mengeluh. Kondisi sopir angkot di jalur ini tambah parah setelah jalur busway (Kampung Melayu-Ancol) yang seiris dengan rute M01 juga berfungsi. Yahya, sopir M01 menuturkan, sebelum ada busway setiap hari ia mengantongi uang Rp 60.000-70.000. "Sekarang mah dapat Rp 30.000 aja sudah lumayan. Masa jaya jadi sopir angkot itu dulu, sekitar tahun 1995-an. Saat itu sehari saya bisa dapat Rp 100.000. Makanya saya bisa bangun rumah di kampung," kata Yahya asal Garut, Jawa Barat yang "narik"angkot dari pukul 06.00 sampai pukul 22.00. Menurut Ucok, selain karena busway, jumlah sepeda motor yang terus meningkat juga mempengaruhi penghasilan mereka. "Sepeda motor sekarang banyak sekali, tukang ojek ada di mana-mana. Kami ini tunggu yang sisa-sisa aja," kata Ucok. Kondisinya tambah runyam karena penghasilan mereka juga digerogoti preman dan petugas yang melakukan pungutan liar. Setiap kali masuk Terminal Pasar Minggu misalnya, para sopir harus membayar "upeti" ke sejumlah petugas dinas perhubungan, timer (semacam penguasa terminal), dan orang-orang dari sebuah ormas yang mengusung nama Betawi. Kepada preman dan petugas itu mereka memang hanya membayar Rp 500 tetapi kalau diakumulasi, jumlahnya jadi lumayan besar juga. "Yang untuk pungli itu kita tidak anggap. Sekali jalan ada kali Rp 4.000," kata Adi. Seorang sopir mengatakan, ia bisa saja tidak memberi upeti kepada petugas dinas perhubungan tersebut. "Tapi saya setiap hari lewat di sini. Nanti mereka cari-cari kesalahan. Kalau sopir bersatu sebenarnya bisa dilawan termasuk yang pakai nama ormas Betawi itu. Tapi ya sudahlah," kata sopir itu. Di sepanjang jalan mereka juga dipalak preman. Setiap kali mereka ngetem, biasanya ada saja preman yang minta jatah. "Memang begitu kondisinya, mau apa lagi," kata Ucok. Penulis : Egidius Patnistik -- "A Civilized, Professional, Modern Biker" TRiC - 077 InBIKE - 031 HTML - 853 HORNET - 151 INSERT - 006 FSRJ 'ers ---------------------------------------- http://dickydewa.multiply.com ____________________________________________________________________________________ Need Mail bonding? Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users. http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ --- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply --- . To post to this group, send email to [email protected] To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED] For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
