Mang Iyus, komentar anda yang panjang lebar itu benar. Globalisasi sudah berlangsung sejak migrasi manusia yang pertama di dunia. Kalau di Indonesia sekarang kita ada yang beragama Hindu,Budha, Kristen dan Islam; apakah itu semua bukan produk Globalisasi. Saya pribadi sebenarnya sama juga pendapatnya dengan banyak rekan yang "sangat takut dan khawatir" terhadap arus globalisasi yang melanda dunia pada zaman ini. Karena kenyataannya sebagian terbesar bangsa Indonesia lebih banyak menjadi korban. Globalisasi harus di antisipasi secara stratejik dan pro aktip oleh seluruh bangsa. Tentu para pemimpin menjadi kelompok terdepan. Tidak seperti yang diucapkan oleh Pak Harto menjelang Konferensi APEC 1994 : " Suka tidak suka, siap tidak siap kita harus sambut Globalisasi!". Ya hasilnya seperti sekarang ini! Dengan mutu pendidikan yang sangat rendah dan korupsi yang tetap merajalela bagimana kita akan jadi pemenang? Salam Tjuk Kasturi Sukiadi
Mang Iyus <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Globalisasi Pantas Dibela --> Globalisasi Harus Diantisipasi Dengan Posted by: "Mang Iyus" [EMAIL PROTECTED] juswan_setyawan Fri Mar 2, 2007 7:31 pm (PST) Komentar: Bagaimana survive menghadapi Globalisasi? Globalisasi tidak dapat dilawan secara frontal. Ibarat pelanduk mau melawan gajah. Mengapa? Karena di balik fenomen dan arus Globalisasi itu bermain tentakel-tentakel oktopus MNC yang luar biasa perkasanya. Asset tangible satu MNC dapat melebihi GNP suatu negeri tertentu seperti Indonesia ini. Gila nggak? Apalagi kalau sudah berupa konglomerasi banyak MNC. Republik Rakyat Cina berani menolak giuran WTO. Malaysia juga. Apakah Indonesia berani? Secara retorik mungkin saja berani, tetapi secara ‘de facto’ bakal lain lagi ceritanya. Globalisasi telah membentuk struktur-struktur baru yang semakin homogen. Pasar modern misalnya mampu mematikan pasar tradisional. Bukan hanya itu raksasa Sogo di Jakarta juga bakal mati rupanya. “Bayi” Debenhams? Entahlah! Mungkin bisa bertahan lewat snobisme sebagian warga papan atas megalopolitan kita. Kita menyaksikan munculnya raksasa seperti Carrefour, Giant, Walmart, AM-PM atau Makro di mana-mana. Mau – dan bila mau akan mampukah Pemerintah menghambat laju pertumbuhannya? Sistem kreditnya juga sangat mematikan; dilindungi kedok aturan administratif yang kaku. Sewaktu banjir awal bulan ini kami terlambat 2 hari membayar tagihan Carrefour (dibayar tgl 6, due date tgl 4). Tahukah kami terkena berapa besar dendanya? Tanpa ampun dan kompromi kami dikenakan sekitar 35.000-an. Hanya 35.000-an kok ribut! Lho, itu artinya dendanya gila-gilaan. Buset dah! Bank-bank juga demikian. Misalnya adanya aturan yang menetapkan basis saldo minimum sebesar 200 ribu. Sadarkah kita bahwa bila saldo kita di bawah angka tersebut maka uang 200 ribu itu ujung-ujungnya akan habis diperas atas nama “biaya administrasi” dan akhirnya “biaya penutupan”? Kita yang kini menabung buat bank... apakah dunia ini bukannya sudah terbalik? Kalau satu deposan 200 ribu berapa yang dirampok bank bila jumlah deposannya puluhan juta orang? Jumlahnya bisa 200 milyar man! Pernahkah Pemerintah memikirkan sistem bank yang – boro-boro menguntungkan – minimal melindungi para deposan kecil yang sejak kecil dia ajar “bang bing bung yo kita nabung?” bla bla bla... Globalisasi memang tidak terhindarkan sebagai fenomen ‘macro system’. Ini hanya soal waktu. Sooner or later. Kemudahan sistem telekomunikasi dan transportasi modern yang serba cepat – dan relatif terjangkau - memang sangat mempengaruhi kecepatan laju arus Globalisasi ini. Pesta sepakbola World Cup saja misalnya mampu menyedot perhatian audience di seluruh dunia seakan-akan telah menjadi “agama” baru bagi para pencandunya. Lengkap dengan “paus”, “santo’, “hymne”, “credo”, “cathedral” dan “jemaat”nya! Globalisasi juga membentuk kultur baru bagi generasi muda. Misalnya saja mulai terbentuknya kebiasaan baru untuk bermalam mingguan sambil menyeruput kopi eskrim di Starbucks (atau sejenis) sampai larut malam. Kebiasaan baru untuk nongkrong berlama-lama di Mal-mal. Untuk chatting dan berinternet ria atau malah bercengkerama antar kawan maya di seantero jagat dengan biaya murah lewat fasilitas Skype. Dengan pulsa lokal saya dapat ngobrol sampai mulut berbusa – misalnya – dengan Mang Ucup di negeri Belanda... Rita di New York atau Romo Teja di Mumbay. Globalisasi pantas dibela? Tanpa dibelapun ia akan menghantam kita ibarat hantaman gelombang hiper dahsyat tsunami. Apa hubungan MSG dengan Globalisasi? Ada juga sih, kalau mau dikait-kaitkan. Informasi bahwa MSG dengan “chinese restaurant syndrome”nya dapat diakses dengan sangat mudah lewat internet. Sehingga timbul “kesadaran baru” dan global merata bahwa konsumsi MSG berlebihan dapat merusak otak dan hari depan anak manusia. Apa hubungan telepon seluler dengan Globalisasi? Telepon seluler memungkinkan manusia di seluruh dunia dapat diakses dengan cepat dan direk sekalipun ia sedang berada di gereja, di rapat, di spa resort, di starbak, sedang dugem, di panti pijit, di apatemen WIL, bahkan sedang nongkrong-ngeden di toilet. Kemajuan IT ini telah ikut membentuk, memfasilitasi dan mempercepat arus Globalisasi. Lalu kita harus bagaimana dong? Menyerah saja? Basis perlawanan terhadap dampak negatif Globalisasi pada front terakhirnya justru terletak pada perisai (spiritualitas) pribadi masing-masing. Caranya? Melalui pendidikan nilai-nilai unggul. Hanya manusia integer (berintegritas tinggi) yang mampu menahan diri terhadap seretan arus globalisasi. Gampang? Sama sekali tidak gampang bahkan membutuhkan perjuangan yang luar biasa beratnya. Mengapa? Globalisasi menyebabkan arus “brain drain” semakin deras ke negara-negara kuat sehingga negara lemah akan semakin kekurangan SDM yang berkualitas tinggi. Dalam perebutan kesempatan kerja di dalam negeri saja maka posisi Manajer dan Direktur akan direbut expatriate dengan kualifikasi global - minimal regional. Mereka itu yang akan (sedang) menguasai pasaran lokal. Akibatnya SDM lokal hanya akan rebutan membanjiri jabatan residu pada level bawah, maksimal sampai supervisory level saja. Itupun pada perusahaan milik asing milik negara tertentu, seorang foreman Korea atau Jepang parafnya lebih “bunyi” dibandingkan dengan tanda tangan seorang direktur lokal ! Dalam dunia pendidikan juga demikian. Berbagai International School sedang ikut ambil bagian dalam merebut pangsa pasar pendidikan di negeri ini. Para sarjana Strata dua bahkan tiga yang sudah bergaji lumayan di negaranya sendiri, cuma dengan menjadi guru level SLA saja di sini akan memperoleh kenikmatan hidup model raja-raja. Bagi mereka disediakan apartemen, sopir pribadi, fasilitas berobat, fasilitas antar-jemput ke sekolah (artinya gaji tetap utuh), fasilitas main golf atas biaya sekolah dsb. Ini sifatnya mutual symbiosis memang. Anak TK yang sekolah di sini dengan cepat terbukti berhasil “disulap” menjadi anak polyglot yang asertif. Maka hari depannya juga tampak akan semakin cerah. Mereka nantinya dengan mudah akan “mempecundangi” para sarjana “local made” yang terbata-bata - dan tersipu-sipu memaksakan diri berbahasa asing dalam rapat kerja dengan sejawat antar negara (yang di kelas mungkin hafalan bahasanya dapat nilai A). Bagaimana dalam bidang tata niaga pangan? Apakah Pemerintah kita peduli? Tampaknya tidak. Kalau harga gabah jatuh atau panen hancur bagaimana? Ya kita impor saja beras dari Vietnam untuk menjaga stok besi Bulog. Lho kok kita yang pernah swasembada beras kok jadi pengimpor rutin? Ya karena bagi petani menanam padi itu itung-itungan akhirnya bakalan tekor. Bibit (Sang Hyang Sri) wajib beli, pupuk mahal, insektisida mahal, barang-barang konsumsi serba mahal, tetapi harga gabah merosot terus. Harga pupuk harus ikut bersaing dengan harga internasional, bagaimana para petani kita tidak akan bonyok terus? Mengapa? Karena BUMN harus jadi “profit center” dan bukan jadi organ pensubsidi petani. Pandangan Sukiadi dan Manneke keduanya ada aspeknya yang benar. Tetapi kita tidak concern lagi dengan masalah dikotomi benar-salah yang normatif. Concern kita harus berubah kepada masalah survival. Bagaimana rakyat kita dapat survive dalam era persaingan Global yang bersifat “homo homini lupus” ini? Bila standar normatif harus berubah (degradasikah?) menjadi survival, maka kita benar-benar harus berpikir keras dan cerdas. Bangsa tel-mi dan mal-mi tanpa kemampuan berpikir antisipatif akan lumat digilas arus Globalisasi tersebut. Mang Iyus
