Kalo soal kualitas guru, saya sepakat sama Anda, Pak. Tapi, bukankah kualitas 
berjalan seiring dengan "harga"? Kalo Anda cuma mau bayar murah, jangan harap 
dapat guru berkualitas bagus. Yang beginian sih, anak-anak juga ngerti.

  Saya tak ada persoalan dengan "fakta' Anda itu. Persoalan saya adalah bahwa 
Anda tak kritis menginterpretasi fakta tersebut. Fakta itu tak bisa bicara 
sendiri, Pak. Fakta selalu dipersepsi oleh otak kita dan olahannya dipengaruhi 
oleh cara pandang kita. Makanya, biar fakta ada satu, interpretasi bisa banyak. 
Anda menginterpretasi fakta itu dengan menjadikan guru sebagai biang keladi. 
Saya menginterpretasi fakta itu dengan melihat bahwa akar masalahnya ada pada 
Diknas. Kalo tafsir kita terhadap fakta berbeda, nggak perlu ah bilang bahwa 
saya "personal" segala. masa kalo beda pendapat ama Anda, lalu dianggap 
"personal"? He he he, sempit amat?

  Yup, saya bilang (bukan cuma suggest) bahwa kita baru bisa punya hak moral 
untuk menuntut guru nongkrong di sekolah 5 hari seminggu dan 8 jam per hari 
jika gaji sudah layak. Khusus soal yang satu ini, Anda tak salah. 100 buat 
Anda. Jika belum, simpan dulu segala tuntutan Anda.

  manneke

satriadharma2002 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Manneke,
Saya tidak habis-habisnya mengagumi kepandaian Anda mengolah kata-
kata. :-) Sampai sekarang apa yang saya sampaikan itu masih tetap
berlaku (guru PNS yang kerjanya seperti guru honorer) di hampir
semua daerah yang pernah saya kunjungi di Indonesia (except Jembrana
di Bali). Jadi kenapa Anda katakan bahwa saya 'menghakimi' para guru
tersebut (plus luput dalam memahami kompleksitas hidup seorang guru,
dan tetap saja membabi-buta dengan teori "full-time pay, part-time
work, dll)? Saya bicara fakta, tapi Anda bicara tentang perasaan. :-(
Saya jadi ingat pada satu ketika saya menyampaikan di seminar bahwa
lebih dari 50% guru kita tidak layak mengajar dan ketika itu ada
guru yang marah dan mengatakan bahwa saya tidak menghargai guru,
tidak simpatik, tidak bisa merasakan betapa sulitnya kehidupan guru,
dlsb. Saya betul-betul heran dengan tanggapan yang personal tersebut
karena saya hanya menyampaikan statistik yang dilakukan oleh
Depdiknas sendiri. Kenapa itu dihubungkan dengan masalah pribadi?
Tapi setelah membaca tanggapan Pak Manneke yang begitu personal saya
lalu sadar bahwa memang tidak mudah menyampaikan fakta. Selalu ada
orang yang menanggapinya dengan personal.:-(
Kalau hal begini saja selalu ditanggapi dengan begitu personal dan
emosional saya jadi sedih. Kapan kita bisa bergerak untuk memikirkan
solusinya? Kalau cuman bisa bilang tunggu kalau gaji guru sudah
tinggi (as you suggested) saya akan sangat kecewa.
Salam
Satria

Kirim email ke