1. Problem kualitas guru bermula dari hulu. Dari kualitas personalnya, lembaga 
pendidikan yang mendidik guru, dan juga sistem dalam pendidikan calon guru.

Sewaktu saya di SMA dulu, hampir dipastikan anak yang punya kemampuan di atas 
rata-rata akan memilih melanjutkan ke Fak Kedokteran, Tehnik, Ekonomi atau 
MIPA. Nah, kebanyakan yang masuk Fak Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) adalah 
teman-teman yang maaf, tak mampu bersaing ke Fak yang saya sebutkan.

Kemudian fasilitas dan dosen di FKIP jauh lebih rendah ketimbang Fak Ekonomi 
misalnya. Jadi bagaimana bisa melahirkan lulusan yg baik.

Mahasiswa FKIP juga biasanya kurang PD bila dibanding mahasiswa fak lain.

Tentu dari itu semua masih ada juga mahasiswa FKIP yang cemerlang...heheh, 
ibarat Mutiara dalam Lumpur"

2. Sistem penerimaan Guru menjadi tenaga pengajar juga mempunyai andil dalam 
mutu guru kita. Biasanya yang mau mendaftar jadi calon guru adalah orang-orang 
yang sudah tak dapat kesempatan untuk meraih pekerjaan lain.
(walau tentu ada juga orang yg benar-benar bercita-cita jadi guru, namun kalah 
banyak).

3. Suasana dilingkungan kerja juga tidak menciptakan daya kompetitip. Karena yg 
berprestasi dan tidak, gajihnya sama saja, naik pangkat juga sama. Buat apa 
rajin dan berkualitas, kalau yg santai-santai tiba-tiba bisa jadi kepala 
sekolah karena dekat dg pihak Dinas.


Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Kalo soal kualitas guru, saya sepakat sama Anda, Pak. Tapi, bukankah kualitas 
berjalan seiring dengan "harga"? Kalo Anda cuma mau bayar murah, jangan harap 
dapat guru berkualitas bagus. Yang beginian sih, anak-anak juga ngerti.
    
   Saya tak ada persoalan dengan "fakta' Anda itu. Persoalan saya adalah bahwa 
Anda tak kritis menginterpretasi fakta tersebut. Fakta itu tak bisa bicara 
sendiri, Pak. Fakta selalu dipersepsi oleh otak kita dan olahannya dipengaruhi 
oleh cara pandang kita. Makanya, biar fakta ada satu, interpretasi bisa banyak. 
Anda menginterpretasi fakta itu dengan menjadikan guru sebagai biang keladi. 
Saya menginterpretasi fakta itu dengan melihat bahwa akar masalahnya ada pada 
Diknas. Kalo tafsir kita terhadap fakta berbeda, nggak perlu ah bilang bahwa 
saya "personal" segala. masa kalo beda pendapat ama Anda, lalu dianggap 
"personal"? He he he, sempit amat?
    
   Yup, saya bilang (bukan cuma suggest) bahwa kita baru bisa punya hak moral 
untuk menuntut guru nongkrong di sekolah 5 hari seminggu dan 8 jam per hari 
jika gaji sudah layak. Khusus soal yang satu ini, Anda tak salah. 100 buat 
Anda. Jika belum, simpan dulu segala tuntutan Anda.
    
   manneke
 

Kirim email ke