Dear Hendra Bujang, Saya menghargai pendapat Anda, meskipun saya tidak setuju cara pandang yang terlalu mencurigai pihak lain. Apalagi dengan alasan "perspektif negara", atas nama menjaga keutuhan negara, Anda memaklumi tindakan represi atau pelanggaran HAM. Itu adalah jargon yang biasa digunakan kaum ultranasionalis. Lebih-lebih Rejim Orde Baru dulu sangat sering menggunakan alasan atas nama "keutuhan negara", untuk menindas gerakan demokrasi.
Soal ditunggangi pihak lain (kekuatan asing/Barat), itu juga jargon rejim Orde Baru. Dulu ketika gerakan demokrasi mulai marak, mereka jg menggunakan alasan tersebut. Dan, penguasa China mungkin belajar banyak dari Soeharto, sehingga mereka mengecam gerakan pro-demokrasi sebagai agenda Barat atau Amerika. Bahkan dicap sebagai "Antek Taiwan". Jadi mereka mengalihkan isu politik dalam negeri dengan isu nasionalisme sempit. Kalau Anda berpikir demikian, mestinya Anda menyesali perubahan politik pasca Soeharto dengan gerakan reformasinya. Karena, tuntutan demokrasi di negeri kita pada masa itu juga tidak lepas dari tekanan dunia internasional, termasuk Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Jadi saya kira lebih arif kalau kita melihat masalah secara gradual, bahwa itu adalah kebutuhan sejarah. Bahwa perubahan itu mau tidak mau harus terjadi. Saya kira jargon menjaga "keutuhan negara" juga tidak bebas nilai. Artinya negara disini juga hanya mewakili kelompok politik yang dominan, yang berkuasa. Dalam konteks China, negara diwakili oleh Partai Komunis China yang berusaha mempertahankan kekuasaannya, terlepas dari kemajuan ekonomi yang dicapainya. Saya kira, kita harus melihat sesuatu dari faktor obyektif dan subyektif atas suatu masalah. Dalam konteks China, ada faktor obyektif masih terjadinya pelanggaran HAM terhadap kebebasan berkeyakinan dan berorganisasi, bahkan penyiksaan dan pembunuhan thp kelompok yang berbeda. Faktor subyektifnya adalah keinginan rakyat, terutama korban (Penganut Kristen Katolik, muslim Uighur, kaum tibetan dan pengikut Falun Gong), atas perubahan politik yang lebih plural dan demokratis. Bahwa ada faktor luar yakni tekanan dunia internasional, supaya China memberi kebebasan berkeyakinan kepada rakyatnya, itu adalah hal yg wajar. Anda juga menyinggung soal Falun Gong yang menurut Anda, ajarannya menyimpang. Ini juga saya anggap Anda sudah terpengaruh oleh proganda penguasa China selama ini yang selalu mendiskriditkan komunitas itu. Saya kira rakyat China pun belum tentu menilai Falun Gong seperti itu, karena ada sekitar 100 juta orang di sana yang mengikuti latihan olah jiwa dan raga ini, serta sudah merasakan sendiri manfaatnya dari segi kesehatan dan spiritual. Banyak juga masyarakat kita yang berlatih Falun Gong dan mendapatkan manfaatkannya. Jadi stigma sesat itu diberikan oleh penguasa China (dalam hal ini PKC), bukan rakyat Tiongkok. Apakah kalau pimpinan dan penganut Katolik di China dilarang menjalankan aktivitas keagamaannya, lantas kita juga akan melarangnya? Kita jg akan mengecap mereka sebagai "antek Vatikan" atau Barat? Juga anti-revolusi? Sekali lagi, saya ingin mengajak Anda untuk memahami masalah ini secara obyektif, meski memang kebenaran itu relatif. Minimal kita bisa melihat suatu masalah berdasarkan hati nurani. Saya kira kita dibekali oleh Tuhan untuk bisa membedakan, mana yang baik dan yang tidak baik. Baik menurut kita sebagai manusia yang beradab, dan baik menurut agama atau kepercayan yang kita yakini. Salam damai fadjar pratikto --- Hendra Bujang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dear Bung Fadjar, > > Memang benar apa yang saudara utarakan terutama > jika anda melihat cerita Mr Jia-Jia dari kacamata > HAM. Kita semua setuju bahwa pelanggaran HAM di > China "cukup" tinggi terkait dengan laporan2 dan > kejadian yang nyata. Masalah HAM yang terjadi di > China merupakan 1 dari sekian banyak masalah yang > ada di seluruh NEGARA, bahkan NEGARA SUPER POWER > yang MENGAGUNG-AGUNGKAN DEMOKRASI pun melakukan hal > yang SAMA! > > Coba kita lihat "MOTIF" dibalik berbagai serangan > militer (jika kita tidak mau mengatakan "INVASI > MILITER") dengan dalih2 DEMOKRASI, SENJATA PEMUSNAH > MASAL, TERORIS, NUKLIR DLL) di berbagai negara TIMUR > TENGAH (Irak, Palestina, sebentar lagi Iran......?) > atau DEMOKRASI yang meluluhlantakan Uni Soviet! > Hasilnya? kita semua tahu............Kita tidak > antipati dengan gerakan demokrasi, justru kita harus > mendukung! Namun jika gerakan demokrasi yang > dibangga-banggakan tersebut ternyata di-Tunggangi > oleh "Negara-Negara" lain dan membahayakan keutuhan > Negara, apakah kita dapat mentolerir? Yang kasihan > adalah para pendemo yang secara tak sadar telah > menjadi PION & KORBAN untuk menyukseskan > rencana/motif negara2 tersebut! > > Dalam kasus China, jika kita melihat dari sisi > HAM..jelas banyak sekali pelanggaran HAM yang > terjadi. Namun jika kita melihat dari perspektif > Negara, maka dengan berat hati akan saya katakan > itulah usaha untuk menjaga KEUTUHAN NEGARA. Ingat > Kasus Tiananmen? Siapapun tahu dalang dibalik > gerakan pro-demokrasi tersebut yang mana model > gerakan yang sama menghancurkan Uni Soviet menjadi > beberapa negara bagian (untung tidak terjadi di > Indonesia!). Jika Pemerintah China tidak melakukan > tindakan keras, saya yakin China pun saat ini tidak > berbeda dengan Uni Soviet (ingat, akan sangat sulit > meng-handle 1 milyar penduduk, jika anda tidak dapat > meng-handle ribuan orang!) > > Jika anda ke China saat ini, dibalik kemegahannya > masih banyak penduduk yang miskin dan hidup di > pedesaan/pegunungan. Jika anda katakan bahwa > kemiskinan itu karena China tidak menganut sistem > DEMOKRASI, maka hal itu salah besar. Negara mana di > dunia ini yang menganut SISTEM DEMOKRASI namun kaya > raya? Australia, Jerman, Italia??? Tak satu pun! > Secara umum : ok, actual? NO! Amerika? Negara kaya > HUTANG..............Gak percaya? Coba kita lihat > siapa pemegang devisa (denominasi USD) terbesar di > dunia? Bukan AMERIKA dan EROPA melainkan JEPANG & > CHINA > > Jika anda mempelajari sejarah China yang telah > ribuan tahun (pemberontakan-penggantian > dinasti-perang candu-pengepungan 8 negara dll) dan > bayangkan jika anda adalah Pemimpin Negara, apa yang > anda akan lakukan? Apakah China yang saat ini bisa > BERDIRI TEGAK jika mereka menganut sistem demokrasi? > BELUM TENTU!!!!! > > Kita tidak usah teriak jauh-jauh, coba kita lihat > sejumlah kasus pelanggaran HAM yang terjadi di > Indonesia (Tanjung Priok, Kerusuhan Mei 98, Aceh, > Timor-Timor, penculikan dll) apakah hal tersebut > dapat dibenarkan? TENTU SAJA TIDAK!!! Yang bersalah > harus dihukum keras!!!!! Bahkan kalau perlu, Aktor > intelektual dan pelakunya harus DIHUKUM MATI!!!! > Yang murni kejahatan HAM ada beberapa diantaranya > dan selebihnya terkait dengan eksistensi Indonesia > sebagai Negara Kesatuan! Dalam hal ini, saya lebih > menitikberatkan pada KEUTUHAN & KESATUAN NEGARA. > Bayangkan kalau semua rakyat di daerah minta > REFENDUM dan MERDEKA, buyarlah cita-cita SRIWIJAYA > dan MAJAPAHIT serta FOUNDING FATHER!!!! > > Pada prinsipnya kita mendukung gerakan demokrasi > yang benar-benar memperjuangkan HAM dengan catatan : > TIDAK DITUNGGANGI......... > > Bicara soal Tibet, sama halnya kita bicara soal > Timor2 yang minta merdeka. Jika Tibet merdeka, maka > wilayah2 yang lain akan melakukan hal yang > sama.......Dalam kasus Indonesia, untung daerah2 > lain belum seberani Tibet, Uigur dll > Bicara soal Falun Gong, dari sisi kesehatan memang > OK namun ada beberapa ajaran yang > menyimpang.............. > Bicara soal penetrasi agama, anda akan mengalami > hal yang sama di manapun anda berada....enggak usah > jauh-jauh, disini pun juga sudah banyak..... > Bicara soal rasialisme, anda akan mengalami hal > yang sama di manapun anda berada bahkan di negara2 > bule sekalipun yang mengagung-agungkan anti > rasialisme....coba lihat di Ausie, US, Dll....memang > tidak menyolok namun perbedaan tetap ADA...... > > Kita tidak antipati dengan cerita perjuangan Mr > Jia-Jia dan rekan2nya, Kita pun akan kasihan dengan > situasi dan kondisinya. Yang dapat kita lakukan > sebagai sesama manusia adalah memberikan bantuan > nyata baik materi maupun moril kepadanya atau > rekan-rekannya seperti pada saat kita memberikan > bantuan kepada sesama sudara korban bencana alam > (banjir Jakarta, gempa bumi Aceh dll). Dalam konteks > ini, saya hanya mencoba melihat cerita Mr Jia-Jia > dari sudut pandang yang > berbeda........................BENAR & SALAH ITU > SANGAT TIPIS PERBEDAANNYA. KEBENARAN TIDAK BERLAKU > ABSOLUT.......................... > > salam damai > HB > >
