Setahu saya sudah ada beberapa kata Indonesia yg mengglobal misalnya: batik, orangutan, bambu dll (walaupun yg terakhir tdk sama persis) Org Jepang dulu juga menterjemahkan hampir semua buku ilmu pengetahuan, dan sekarang setelah banyak ilmu mereka yg maju, banyak buku Jepang yg diterjemahkan ke bhs Inggris. Jadi tampaknya penggunaan bhs akan mengalir secara alamiah sesuai dgn kelebihan masing2. Kalau dipaksakan malah jadi aneh. Misalnya istilah2 yg di Indonesiakan dgn paksa akhirnya menjadi lebih asing dari bahasa asing.
PSB --- In [email protected], Gunawan Misrah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya tidak tahu persis apakah persoalan bahasa juga mempengaruhi nasionalisme seseorang. Kalau memang bahasa menjadi salah satu indikator nasionalisme, akan banyak sekali orang Indonesia yang bisa dikatakan kurang nasionalis. Tapi mungkin tidak adil jika berkata demikian. Hampir di seluruh pojok nusantara ini sedikit banyak menggunakan bahasa atau minimal kata-kata asing meskipun dirubah pengucapannya sehingga menjadi kata serapan yang akhirnya masuk dalam kamus ilmiah populer. > > Hampir seluruh perusahaan swasta ini menggunakan istilah-istilah yang hampir tidak ada bahasa Indonesia yang murni. Dalam dunia perbankan, keuangan, politik, pendidikan dan sebagainya kebanyakan menggunakan bahasa serapan yang biasa kita sebut kata ilmiah. Bahasa Indonesia asli itu sendiri yang mana, apakah istilah-istilah yang dipakai di Kepolisian, TNI atau Pramuka seperti catur prasetya, sapta marga, bhayangkara, trikora, dwikora, dan seterusnya? Kalau tidak salah itu adalah bahasa Sansekerta. > > Istilah-istilah ilmiah yang kita gunakan sekarang hampir semuanya adalah bahasa serapan yang kebanyakan dari bahasa Inggris. Apakah ini juga menunjukkan keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia sehingga tidak mampu mewakili kata-kata ilmiah tersebut dalam bahasa Indonesia? Misalkan kata-kata seperti; sinergi, intertekstualitas, filantropi, humaniora dan masih banyak lagi yang bisa saudara-saudara sebutkan jauh lebih banyak dari saya.. > Dunia semakin berkembang dengan berbagai macam bentuk istilah- istilah baru yang mewakili penjelasan-penjelasan yang panjang. Bukanlah hal yang mudah membuat istilah-istilah baru itu dalam bahasa Indonesia. > > Istilah-istilah ilmiah yang sering kita gunakan itu juga hasil dari kerangka-kerangka berpikir yang panjang, hasil dari penelitian- penelitian yang terus menerus. Berapa sih hasil penelitian orang Indonesia dan menjadi satu kerangka berpikir lalu menjadi satu istilah ilmiah yang mengglobal? Seandainya penelitian-penelitian dan proses-proses berpikir seperti itu dilakukan oleh orang Indonesia dan digunakan secara global karena terbukti berguna dan bermanfaat, mungkin istilah-istilah itu akan berbahasa Indonesia. Tapi kenyataannya, kita adalah bangsa yang masih muda, yang masih harus menentukan istilah-istilah kita sendiri. > > Buah karya pemikiran dari bangsa kita pun masih kalah jauh dalam hal jumlah maupun kualitas. Memang orang-orang pintar bangsa kita semakin banyak, intelektual semakin banyak. Kebanyakan intelektual dari bangsa kita hanya mengolah dan bermain-main dengan sumber, referensi dan data yang tidak kita pungkiri kebanyakan dari luar. Penelitian yang bersifat mendasar sangat kurang. Bangsa kita harus mencetak profesor lebih banyak lagi, orang-orang yang berdedikasi dalam dunia penelitian-penelitian mendasar dan menghasilkan teori- teori baru sehingga akan menghasilkan istilah-istilah baru pula dalam bahasa kita. ...................... .........................
