Salam He....he....maaf lho pak, jujur saja, saya kalo membaca postingan bapak pasti senyum duluan. Sense of humournya pas banget dengan need of humour saya :-). "Driver" saya itu bukan analogi mesin kok pak, yang menempatkan wanita sebagai mesin. Namun klop dengan pandangan bapak bahwa hubungan suami istri adalah hubungan koordinatif dan so pasti ada koordinatornya. Analogi yang lebih luas dan mungkin lebih mudah dipahami, kalo saya ibaratkan hubungan rumah tangga itu adalah suatu kapal yang tengah mengarungi lautan menuju ke tujuan tertentu. Suami memegang peranan sebagai kapten kapal, sedangkan istri adalah sebagai co captainnya, mereka bekerja sama agar kapal dapat sampai ke tempat tujuan. Jadi, "driver", "koordinator" atau "captain" saya tersebut adalah suatu istilah yang koheren. Yang menarik, ada suatu rumah tangga yang karena hal2 tertentu, istri yang menjadi "captain" dalam rumah tangga tersebut. Apa yang terjadi, apakah itu yang berupa "prestasi", "cerita sedih", "kelucuan" dsb, tentunya banyak anggota miliser yang ingin menceritakannya. Saya pribadi ingin cerita yang "lucu", seperti style pak Manneke. Pas banget.
Wasallam -------Original Message------- From: Manneke Budiman Date: 03/09/07 02:41:14 To: [email protected] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RELATIVITAS GENDER- opera sabun Korea Perempuan itu manusia lho, Pak Eko, bukan mobil atau mesin pemotong rumput yang perlu dikendalikan atau perlu ada "driver"-nya. Mereka, seperti juga laki-laki, punya rasio, punya perasaan, punya nalar, punya logika, punya kemampuan menimbang persoalan, mampu menilai apa yang terbaik buat dirinya. Mereka bukan makhluk aneh berbahaya yang suka lepas kendali. Kok saya lebih banyak melihat laki-laki lepas kendali sih daripada perempuan. Laki-laki begini ini tiap kali liat perempuan cantik atau seksi, cenderung kehilangan nalarnya dan tak mampu mengendalikan dirinya. Wibawa? He he he. Wong dalam rumah tangga dan hidup perkawinan kok mempersoalkan wibawa. Suami istri itu satu tim dan hubungannya koordinatif sifatnya, bukan komando. Kalo Anda membayangkan suami sebagai komandan peleton, ya nggak heran kalo wibawa yang dipentingkan. Saya biar demen ngalah nggak pernah tuh ngerasa kehilangan wibawa, dan istri saya pun tak pernah memanfaatkan hal itu untuk memaksakan kehendaknya. Kalo saya mau mengikuti apa yan ia lakukan, itu karena saya senang melakukannya, bukan karena ia memaksa saya. Harga diri nggak menjadi lebih rendah sedikit pun. Istri saya juga punya wibawa lho, Pak. bayangkan kalo istri-istri kita tak berwibawa, waduh pasti ke mana-mana dihina-hina dan diinjak-injak orang. Nggak asyik ah kalo dalam rumah tangga wibawa dianggap cuma urusan suami doang. Kalo mau cari perempuan yang bisa dikendalikan dan memandang suami sebagai pihak yang punya wibawa (tidak mutual), mungkin sebetulnya yang sebetulnya kita cari adalah pembantu yang sedia bekerja seumur hidup tanpa digaji, cukup dikasih makan dan tempat tidur saja. Ngomong-ngomong, enak lho nonton VCD melodrama yang norak itu bareng-bareng semalam suntuk. Nggak pake kopi juga melek. Wong nontonnya bareng orang yang kita sayangi kok. Ngeliatin wajahnya semalam suntuk pun nggak bakal ngantuk, apalagi pake perlu kopi segala. Dan nggak bakal stroke, wong hati gembira. Kalo Anda ngerasa sampai harus perlu kopi satu termos segala untuk nonton filem bareng istri Anda dan takut kena stroke, berarti ada sesuatu yang sangat tidak beres dalam hubungan perkawinan Anda. He he he (sori ya, yang paling belakang ini cuma guyon). Terakhir, saya orang yang benci nyetir. Capek. Jadi, di rumah pun saya emoh jadi "driver." Paling enak sih jadi sahabat buat istri saya. Jadi bisa sama-sama kenal kekurangan dan kelebihan masing-masing, tanpa lalu dipakai untuk menentukan siapa yang mesti jadi "driver." manneke
