Saya juga sangat setuju dengan tulisan Pak Manneke. Tetapi saya heran, kenapa ya kita jadinya mempertentangkan laki-laki dan perempuan? Bukankah kedua jenis gender tersebut saling melengkapi? Bukankah seharusnya ada penjagaan yang mesra untuk kebahagiaan pihak yang lain? Sudah seharusnyalah sepanjang tahun-tahun perkawinan selalu ada perhatian dan penghargaan timbal balik. Sedang mereka memenuhi tuntutan dan kew3ajiban yang berbeda-beda dalam lingkungan kehidupan suami istri yang terikat, suami isteri seharusnya dengan kepercayaan yang penuh pengertian dan dengan gembira bersimpati satu sama lain serta saling membantu, dengan demikian menyucikan persatuan kepentingan dan kasih sayang mereka, tempat hati mendapat damai dan perhentian bukan? Salam damai antara laki-laki dan perempuan. --- dhaniar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> wah, pak manneke terima kasih udah jawab postingnya > eko kertajaya dan si_andi persis dengan apa yang ada > di pikiran saya. > untuk si_andi, sebagai perempuan, saya nggak > keberatan > kok dibimbing laki2, tapi bukan dikendalikan, tolong > dicatat ya. perempuan bukan mainan yang bisa > dikendalikan pake remote control. > kalau saya ditanya mending mana, laki2 spt pak > manneke > yang 'kurang macho' (ini istilahnya yang relatif > ya)tapi menganggap perempuan sebagai makhluk yang > setara, atau laki2 yang 'macho', lebih suka > mengatur > dan mengendalikan, dan mengagungkan budaya patriarki > spy nggak kehilangan wibawa, jelas saya akan pilih > laki2 spt pak manneke. > menurut saya, laki2 yang menganggap perempuan sbg > makhluk yang setara dan sederajat itu lebih macho > daripada laki2 yang maunya mengendalikan perempuan > spy > nggak kehilangan wibawa. > > dhaniar
