Rekan-rekan FPK,

Agar mas Manneke ngga ndirian, saya jadi terdorong menyampaikan
pengalaman pribadi juga, sekedar referensi yang "mirip walaupun tak
sama".
Hingga usia SMA dibesarkan dalam lingkungan keluarga "kebanyakan"
dikota besar lengkap dengan penanganan normative: belajar ngaji,
kursus bela diri, les musik dan sekolah, pacaran tanpa back street,
etc. Memasuki masa study, saya putuskan mengarungi lingkungan dan
suasana yang sangat asing seorang diri (Kemungkinan kondisi ini yang
memungkinkan saya melihat dan menelaah seluruh "nilai & kebiasaan"
dengan perspektif yang berbeda). Saat itu pula saya merasa telah
menemukan calon pasangan hidup dan memberanikan diri
melaksanakan "komitmen bersama", mulai dari keuangan hingga
kepribadian masing-masing yang independent, tapi searah. Nyatanya
berfungsi, tanpa ada fungsi "driver" maupun "be drived". Ringkasnya,
terbentuk lah suatu "kebersamaan" dua Insan dengan masing-masing
warna, bentuk dan sifat, namun satu kesatuan. Setelah belasan tahun
kami yakin akan kelanggengan tersebut, baru kami masuki "jenjang
pernikahan". Tentu beberapa kejanggalan-2 kecil akan timbul saat ber
interaksi dengan beberapa kerabat "konvensional", misalnya saat
makan bersama dimeja, sementara "sang istri" sibuk menanyakan "mas /
papa mau apa" dan sibuk menghidangkan ke piring masnya, sementara
kami tanpa ditanya telah mengambil pilihan masing-masing. Tapi tidak
pernah menjadi bahan pembicaraan yang serius, dalam arti kami saling
menghormati cara masing-masing.
Yang ingin saya katakana disini, bahwa "nilai&kebiasaan" yang
telah "dicekoki" sejak kecil akan menjadi "goresan" yang sangat
dalam pada pandangan hidup seseorang, namun bukan
berarti "permanent", sebab dengan rasa toleran yang cukup, semua itu
dapat diarahkan. Jangan lupa, "toleran" adalah juga merupakan
sesuatu yang MUTLAK untuk mewujudkan keDAMAIan.
Salam,
Bodo


--- In [email protected], Godlip Pasaribu
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya juga sangat setuju dengan tulisan Pak Manneke.
> Tetapi saya heran, kenapa ya kita jadinya
> mempertentangkan laki-laki dan perempuan?  Bukankah
> kedua jenis gender tersebut saling melengkapi?
> Bukankah seharusnya ada penjagaan yang mesra untuk
> kebahagiaan pihak yang lain?  Sudah seharusnyalah
> sepanjang tahun-tahun perkawinan selalu ada perhatian
> dan penghargaan timbal balik.  Sedang mereka memenuhi
> tuntutan dan kew3ajiban yang berbeda-beda dalam
> lingkungan kehidupan suami istri yang terikat, suami
> isteri seharusnya dengan kepercayaan yang penuh
> pengertian dan dengan gembira bersimpati satu sama
> lain serta saling membantu, dengan demikian menyucikan
> persatuan kepentingan dan kasih sayang mereka, tempat
> hati mendapat damai dan perhentian bukan?  Salam damai
> antara laki-laki dan perempuan.

Kirim email ke