Pak Haniwar,

  He he, kalo saya boleh mengajukan tafsir atas ayat itu, maka pandangan saya 
adalah memang siapapun yang punya kelebihan, layak jadi pemimpin. Kalau 
laki-laki punya kelebihan, dia bisa menjadi pemimpin tak hanya atas perempuan, 
melainkan juga atas laki-laki yang lain. Tapi, dunia kita kini juga telah 
memperlihatkan bahwa banyak perempuan punya kelebihan daripada laki-laki 
(ataupun perempuan lain), sehingga dia menjadi pemimpin.

  Yang terbuka bagi tafsir dalam ayat itu adalah: dengan demikian, apakah 
seseorang itu layak jadi pemimpin karena gender-nya, ataukah karena kelebihan 
yang dimilikinya? Karena, dalam kenyataannya kini, ada banyak perempuan punya 
kelebihan ketimbang laki-laki dalam berbagai bidang. Kata "pemimpin" pun bisa 
ditafsir banyak, seperti telah Anda paparkan.

  Yang juga masih sering disalahkaprahkan ketika kita bicara soal perempuan 
sebagai pemimpin adalah bahwa seolah-olah perempuan mau merebut kepemimpinan 
dari laki-laki, dan menjadikan semua laki-laki "bawahan." Padahal, yang 
dikehendaki perempuan adalah hak yang sama, dan kesamaan hak ini dilandasi oleh 
kemampuan, bukan kelamin. Maka, bisa jadi di suatu tempat, pada suatu bidang 
tertentu, karena situasi tertentu pula, perempuan menjadi pemimpin. Demikian 
pula sebaliknya. Saya yakin haqul yakin bahwa Tuhan ataupun Nabi tak pernah 
berpikir bahwa laki-laki harus selalu memimpin, walaupun bodohnya bukan main. 
Karena, dalam kenyataannya juga, ada lelaki yang tak punya kelebihan alias 
bodor.

  Saya senang membaca cuplikan-cuplikan dari milis muslim yang Anda sertakan 
dalam psoting Anda di bawah ini, karena buat saya terkesan cukup imbang dan 
objektif. Malah mungkin tak berlebihan jika saya simpulkan bahwa sebagian besar 
cuplikan itu condong pada kesetaraan gender.

  Soal perempuan menjadi imam, saya sepakat dengan Anda bahwa ini bukan masalah 
besar. Apa sih bangganya jadi imam? Nggak dapat pangkat atau harta kok. Jika 
ada pemikiran bahwa perempuan pun mampu jadi imam, maka ini tak serta-merta 
berarti esok paginya semua imam laki-laki akan dilengserkan dan diganti 
perempuan. Pemikiran itu sekadar merupakan suatu pernyataan bahwa perempuan pun 
punya kemampuan untuk menjadi imam. Apakah lalu mereka betul-betul ngotot 
pengen jadi imam? Saya rasa nggak begitu. Yang penting, kemampuan mereka 
diakui. Jangan dikatakan bahwa karena mereka perempuan, maka tak mampu jadi 
imam. Ini terdengar membodohkan.

  Anekdot pada bagian akhir posting Anda saya suka. Pas sekali untuk melukiskan 
bahwa dalam situasi kritis, perempuan berani ambil risiko dan tak cuma mikir 
keselamatan sendiri. Perempuan pun bisa jadi pelindung laki-laki. Akan saya 
simpan anekdot itu dalam file saya, bersama dengan ankedot soal jendral dan 
mayor dari Pak Budyanto. Rupanya, dalam dunia anekdot penghargaan terhadap 
kesetaraan gender sudah lebih mengakar.

  Terima kasih buat partisipasinya, dan untuk upaya Anda bersikap objektif.

  manneke

Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Jadi gatel ... ingin ikut bicara... bolehkan Mas Manneke...
Yang menarik .. , Mas Manneke yang non muslim punya tafsir sendiri ttg apa
yang dimaksud oleh Al Qur'an ..:)
Dan ini tentu sah sah saja.. wong DR Snouck Hugronye juga pakar Islam.
Apalagi mas Manneke.. selalu percaya jika ada yang salah.. pasti bukan
Islamnya yang salah tapi penafsirannya...

Ayat yang biasa di pakai tentang kepemimpinan pria atas wanita adalah ayat ini,

[4.34] Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang
lain (wanita),

Tapi seperti dibilang Mas Manneke , toh banyak tafsir tentang ini..
sehingga ada yang bilang Presiden wanita boleh , ada yang bilang tidak
boleh..:)

Sebagian besar bilang ini berlaku dalam rumah tangga...

Dan beruntungnya dengan Indonesia ... telah mencatat adanya presiden
wanita... dan dulu kala.. di Aceh yang begitu kental Islamnya juga ada
kesultanan yang dipimpin wanita...

Dan sesungguhnya malah posisi wanita di Indonesia jauh lebih baik dari di
banyak negara muslim di Arab dan Afrika..

Ada tafsir menarik, yang saya dengar di sampaikan oleh DR Nazruddin Umar
pada suatu khotbah nikah keponakanku... yaitu bahwa kata laki laki dan
perempuan dalam ayat itu sebenarnya bukan kata benda tapi kata sifat ..
jadi tepatnya... bhw maskulin adalah pemimpin dari feminin...,, jadi sifat
kelaki lakian adalah peminpin bagi sifat keperempuanan.


Lalu masalahnya.. kan ada wanita yang lebih maskulin atau pria yang lebih
feminin...:)

Secara umum ya pria lebih maskulin wanita lebih feminin... , secara
khusus.. bisa beda lagi.....



Saya sendiri sering berdiskusi ttg poligami dan kesetaraan gender dalam
sebuh milis muslim..sampai punya file cukup gede.... disitu
tentunya membahas dr titik pandang agama , ini saya kutip beberapa pendapat :


Seorang muslim menulis :

Teks fiqh banyak yang "memindahkankembali" perempuan ke tempat yang lebih
rendah, dibandingkan
dengan hasil yang telah diperjuangkan oleh rasulullah.

Seperti bandul, ketika Muhammad SAW menaikkan derajat perempuan, komunitas
seolah "menariknya kembali" ke titik setimbang untuk agak menyesuaikannya
dengan budaya yang mengakar dalam.
Seperti asas Le Chatelier dalam kesetimbangan kimia, gangguan
terhadap kesetimbangan akan mendorong sistem itu untuk mencapai
kesetimbangan baru yang "memperkecil" efek perubahan.

Ahli fiqh yang kebanyakan pria memperburuknya dengan melegalkan
gerak bandul komunitas ini lewat teks-teks fiqh.


Lalu ini pendapat senada .. , yg ini dr muslimah :

Masalah 'abadi' di komuniti muslim adalah overlapping antara culture
and religion on how they
understand the concept of women in Islam. Some claim, this is according
to Islam,
while it is actually more to culture :)...It is delicate and confusing
:(
Misal nya di negara2 Arab, tempat Islam turun :). Women, till now, are
still fighting
for their rights according to Islam. Masalahnya, kultur mereka sangat
mendominasi
agama. Misalnya, kita di Indo jauh lebih beruntung, educated moslem
women bukanlah hal yang aneh.


Tapi teman muslimah sy ini juga tidak suka dengan kesetaraan kebablasan ,
misalnya menuntut bolehnya imam perempuan , ini tulisnya :

I cant see the reason(s) why this (being imaam) seems
to
be a big deal for some(?) women (?). I am one of the women, but
personally,
my concern goes to how to educate ummah (men or women) that
Islam came to save women..Apakah dengan perempuan menjadi
imam, keterbelakangan perempuan Islam akan terpecahkan ?
I dont think so.


Teman muslimah lain menulis :

Sepengetahuan saya di dalam kedua agama (Kristen dan Islam), problem yang
dirasakan perempuan sebetulnya hampir sama, yaitu mereka merasa di
subbordinated, walaupun kalau kita balik ke ajaran Kitab Suci dan
contoh-contoh dalam kedua agama tersebut, hal tersebut tidak dibenarkan.
Tapi begitulah, the societies dominated by men often exploited, even the
justice and egalitarian norms in the scriptures are used to use for
eternalizing this male domination.


lalu dia tulis lagi :


Life cannot exist without the polarity of men and women. And sexual
differentiation has to be understood within the category of relation. Women
and men as they are, are the products of complex social relation, which are
constantly influx. They have a continuing history. Annemarie Schimmel said
in her book My Soul is a Women, "when the iron and flint unite, for
example, out of the 'union' of these two components arises something
higher, namely fire. It is only when the masculine and the feminine
elements collaborate and work together that life can ascend to higher
stage. . . . A Yang element and a Yin element are inseparably linked, like
analysis and synthesis or like science and love."
What is needed is a creative effort to develop a theological anthropology,
which studies the dynamic of human personality, and to develop a theology
of the women-men relationship.

saya sendiri ingin menutup tulisan serius,, betapa para intelektual
muslimah maupun muslim , bicara soal kesetaraan gender tanpa ingin terlalu
semua jadi sama. dengan sebuah joke aja :

Ada sebuah cerita yang mengisahkan hasil pengamatan seorang musafir
didaerah Afrika Utara.
Orang itu mengamati bahwa sebelum perang dunia para ibu berjalan
dibelakang suaminya
sebagai tanda mereka menghormati suaminya.

Namun setelah perang, ketika dia mengunjungi lagi daerah yang sama,
dia sangat terkejut
karena para suami berjalan dibelakang isterinya. Melihat perubahan
dan keadaan yang lebih
berbudaya ini, ia segera memberi selamat kepada kepala suku disitu.

"Ya," jawab kepala suku itu "Menurut saya itu suatu hal yang bagus"
Lanjutnya "Di seluruh daerah ini masih banyak ranjau darat yang
belum meledak".


Salam

haniwar

Kirim email ke