Belum lama ini saya menyampaikan di milis ini perasaan "marah" saya ketika
harus dipinggirkan oleh konvoi mobil Ferrari.

Pada saat itu ada yang menuduh saya iri hati karena si penulis merasa
menikmati pemandangan parade Ferrari itu.

 

Saya tidak mau munafik, saya memang merasa iri dengan para pemilik Ferrari
dan HD ini (yang kebetulan juga berpapasan dengan saya).

Saya merasa iri dengan segala keistimewaan dan kemudahan yang mereka terima.

 

Sangat sering saya melihat ambulans yang sudah menyalakan sirene masih tidak
dapat menyeruak di kemacetan ibu kota. Polisi yang jelas-jelas berada di
persimpangan jalan sama sekali tidak memberikan perhatian kepada bunyi
sirene ambulans. Entah berapa nyawa terbuang sia-sia hanya karena ambulans
tidak dapat sampai dengan cepat. 

 

Jadi, saya memang merasa iri hati terhadap warga negara kelas prima yang
dengan kekayaannya bisa membeli segala kemudahan.

Saya merasa iri karena sebagai pembayar pajak yang patuh saya masih tidak
bisa menerima pelayanan dari pamong masyarakat karena mereka lebih sibuk
melayani yang membayar.

 

Untuk para pemilik dan pengguna HD dan Ferrari maupun kendaraan sport
lainnya, seharusnya sebelum membeli Anda harus sadar bahwa kondisi jalan
raya di Jakarta tidak cocok untuk kendaraan Anda itu.  Kalau masih tetap
ingin membeli dan menikmati barang-barang tersebut, berlagaklah di tempat
lain yang bisa membuat Anda nyaman tanpa harus mengganggu dan menyakiti hati
orang lain.

 

/louisa

 

 

  _____  

From: stephanus_mulyadi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, March 07, 2007 12:41 AM
To: [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Konvoi Motor Harley Davidson - Pak Harry
& Didi

 

Rekan Jachja dan Rekans, 

Ikut nimbrung juga ya, 
Benar sekali pendapat saudara Jachya, bahwa semua orang berhak
menikmati apa saja yang sudah dicapai. Namun sambungan kalimatnya agak
mengganjal bagi saya, " terlepas dari bagaimana cara menikmatinya." 

Menurut saya, bahwa setiap orang MEMILIKI HAK untuk menikmati apa saja
yang sudah dicapai, tidak ada yang menyangkalnya. Namun ketika HAK itu
mau diwujudkan, harus juga melihat dan mempertimbangkan HAK ORANG
LAIN. Nah konvoi PARA Pemilik Harley ini sebagai bentuk pemenuhan HAK
mereka untuk MENIKMATI apa yang telah mereka capai, adalah SAH-SAH
saja. Itu HAK mereka. 
Namun, ketika pemenuhan HAK mereka itu terasa menggangu HAK orang lain
pemenuhan hak ini lalu dipertanyakan. Apakah konvoi ini dirasa lebih
baik, lebih bijak dari pada melakukan aktivitas lainnya? 

Mengapa ada sebagian orang yang mendapat keistimewakan di jalan raya
karena memiliki kekayaan (HD juga simbol kekayaan) bahkan dikawal
polisi segala? Sementara para pemakai jalan lainnya harus minggir
untuk memberi jalan pada mereka, bahkan harus menerima kemacetan
gara-gara konvoi itu, atau harus merasa pekak telinganya karena bising?

Belum lagi menyangkut masalah perasaan, sementara semakin banyak
saudara kita makan nasi aking, sementara banyak ibu-ibu yang antre
beli beras, pada saat yang sama ada sebagian orang yang berkonvoi ria
menunjukkan kekayaan mereka. Di mana rasa persaudaraan kita? Perasaan
ini yang menurut saya justru ingin diwakili oleh Saudara Perpi Thomas
dan mbak Yuliati.

Hal kedua, menyangkut "kesombongan" dan "arogansi" ibu-ibu RT yang
antre beli beras dan masuk TV. 
Saya mencoba memposisikan diri sebagai saudara kita yang makan nasi
aking, dan rasanya juga sulit melihat bahwa ibu-ibu RT itu sedang
menunjukkan kesombongannya atau arogansinya.
Masuk TV karena antre beli beras, apa yang bisa disombongkan dari
situ? Mau sombong karena masih punya kemampuan (uang) untuk beli
beras? Apakah masuk TV itu kemauan mereka sendiri? Lalu apakah mereka
merasa senang bahwa mereka bisa masuk TV karena antre beras?

Kembali kemasalah konvoi pemilik HD. Tak ada yang salah pada konvoi
tersebut, KALAU konvoi ini TIDAK MENGGANGU HAK orang lain.

Mohon pencerahannya.

Salam
Mulyadi

Kirim email ke