Pak Marufin

Bukannya Strontium-90 sudah by-product proses fisi pak ya?
Yang dipakai untuk fuel kalau nggak salah dari blok actinoid.
Maaf kalau salah nih, he he.

Thx.




________________________________
From: soedardjo batan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, December 24, 2009 11:51:14
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: PLTN Tetap Dibangun (status terakhir)


Yth Bapak Ma'rufin Sudibyo,
Saya akan berguru ke Bapak.
Referensi mana yang bapak gunakan yang menyatakan " Jika waktu paruhnya lebih 
panjang, apalagi sangat panjang (hingga
ribuan atau puluhan ribu tahun), aktivitasnya jauh lebih rendah karena
aktivitas radiasi berbanding terbalik dengan waktu paruhnya."

Sebaiknya kita tidak menggebyah uyah ( menyamaratakan sifat satu elemen/unsur 
radiasi dengan elemen radiasi lainnya). Mudah-mudahan saya pribadi yang 
tersesat, jangan semua orang awam lainnya ikut tersesat.

Saya pernah ke Islamabad Pakistan. Benar Negara India dan Pakistan boleh 
dikatakan lebih melarat katimbang kita (itupun mungkin saya tersesat dengan 
pandangan dua mata saya ke negara tersebut hanya beberapa hari berada di sana). 
Namun yang saya dengar, kemelaratan tersebut dikarenakan distribusi keuangannya 
DIKONSENTRASIKAN KE PENELITIAN, belum banyak keuangan negara didistribusikan ke 
sejahteraan rakyatnya. Mohon maaf jika asumsi saya salah. PENELITIAN diutamakan 
di INDIA dan PAKISTAN, karena mereka berlomba-lomba ke senjata nuklir dan 
energi nuklir. Maklum negara tersebut adalah negara konflik. Informasi yang 
saya dengar dari teman di Karachi beberapa waktu yang lalu, NEGARA INDIA 
MEMANJAKAN PENELITIAN untuk MENJAGA NEGARANYA dari ketergantungan negara besar 
dan dari musuh negaranya. Begitu juga Pakistan. Maka Kedua negara tersebut 
terkenal dengan SWADESI, berdiri sendiri, PENELITIAN di NOMOR SATUKAN, agar 
tidak di dekte oleh Negara Adi Kuasa.

Lalu Bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintahnya saja belum memberi LAMPU HIJAU, karena BUDAYA KESELAMATAN dan 
BUDAYA KERJA bangsa Indonesia masih belum tinggi. (Tanah Abang bangunannya baru 
saja roboh, budaya keselamatan belum menjadi perhatian utama bangsa Indonesia , 
SAFETY FIRST hanya slogan belaka).

Indonesia masih kenthal dengan masalah KORUPSI. Bagaimana jika bahan bakar dan 
komponen PLTN dikorupsi, jangan jangan bangunan PLTN cepat ROBOH seperti 
bangunan TANAH ABANG.

Bahan Bakar Uranium Indonesia belum ekonomis, masih tergantung dari luar. 
Jepang walau minim cadangan Uraniumnya, tapi negara tersebut diperbolehkan oleh 
negara Adikuasa untuk mengolah uranium sampah menjadi plutonium. Bahan bakar 
Uranium Indonesia setelah dibakar, sisanya harus masih DIREEKSPORT kembali KE 
NEGARA ADI KUASA..... itulah perbedaan Indonesia ( yang menandatangani NPT) 
dengan India, Pakistan (yang jika saya tidak keliru TIDAK MENANDATANGANI NPT). 
Jadi posisi Indonesia serba salah.

JADI ?

--- Pada Rab, 23/12/09, Ma'rufin Sudibyo <maruf...@yahoo. com> menulis:

Dari: Ma'rufin Sudibyo <maruf...@yahoo. com>
Judul: Re: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Re: PLTN Tetap Dibangun (status terakhir)
Kepada: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Rabu, 23 Desember, 2009, 8:03 AM



Sebenarnya yang paling berbahaya itu limbah radioaktif dengan waktu paruh 
pendek, seperti Strontium-90, Caesium-137 dan Tritium. Itu sebabnya perhatian 
ditujukan kepada mereka, terutama Strontium. Jika waktu paruhnya lebih panjang, 
apalagi sangat panjang (hingga ribuan atau puluhan ribu tahun), aktivitasnya 
jauh lebih rendah karena aktivitas radiasi berbanding terbalik dengan waktu 
paruhnya. So penanganan limbah radioaktif yang memiliki waktu paruh panjang 
secara teknis lebih mudah.

Kalo mau terus terang dan beranalogi, ya berkaca ke India-lah. Negeri itu lebih 
kere (baca : miskin) dibanding kita dan jauh lebih amburadul. Secara teknik 
negeri itu juga dikenal paria alias relatif terasing dari kutub-kutub teknologi 
dunia. India memulai program nuklirnya pada 1960-an, sama dengan Indonesia, 
namun dengan ketekunan dan kemampuan sendiri mereka mampu menjadi salah satu 
raksasa nuklir terkini, yang AS saja nggak berani main-main lagi. Demikian juga 
dalam bidang peroketan. Starting point-nya pun hampir bersamaan dengan 
Indonesia, yang pada 1960-an sudah mampu meluncurkan roket balistik Kartika I 
dan Gama. Namun dengan keseriusan dan ketekunannya, dengan semangat 
swadeshinya, mereka kini pun sudah menjadi satu dari raksasa antariksa dunia 
dan baru saja meluncurkan misi tak berawak ke Bulan dengan hasil prestisius : 
menemukan air di Bulan.

Kita?

Salam,

Ma'rufin

Kirim email ke