Sebuah tulisan ringan di blog *Kompasiana* http://www.kompasiana.com/dwiki


Lauk Pauk Gratis Sepanjang Sahur Ramadhan? Pastilah anda menyangkal, “Ah,
mana mungkin gratis. Kagak ada mendapatkan sesuatu gratis, kencing saja
bayar!” Namun, boleh percaya atau tidak, begitulah pengalaman mengesankan
masa kecil sebagaimana akan saya ceritakan berikut.

Seperti saya ceritakan sebelumnya pada tulisan *Titip Rindu Buat
Ibuku*<http://lomba.kompasiana.com/group/ib-1000-tulisan/2010/07/29/titip-rindu-buat-ibuku/>,
sebagian masa kecil saya dihabiskan di dusun Criwikan. Sebuah pedusunan
kecil yang dikelilingi hamparan persawahan di pelosok Klaten Jawa Tengah.

Pernah di suatu waktu, sepanjang bulan Ramadhan, keluarga kami menikmati
lauk pauk sahur gratis. Mau tahu apa lauk pauk gratis itu? Jawabannya belut
dan ulat pohon turi.

Belut diburu saat musim penghujan, lantaran musim tanam padi waktu saya
kecil hanya mengandalkan tadah hujan. Mendapatkannya dengan
*menyuluh*(berburu) di persawahan sekeliling dusun. Pemburu belutnya
tiada lain kakak
kandung saya beserta teman-temannya.

Perburuan belut dilakukan selepas shalat tarawih hingga tengah malam pada
hamparan tanaman padi di persawahan yang baru berusia dua minggu hingga satu
bulan. Peralatan yang digunakan untuk berburu belut  sangat sederhana: obor,
sebilah clurit dan bubu kecil (wadah tangkapan terbuat dari anyaman bambu).
Obor berfungsi untuk menerangi permukaan sawah yang tergenang air di
sela-sela rumpun padi. Tatkala malam, biasanya kawanan belut keluar dari
lubang persembunyian, dan mengambang di atas tanah berair. Sementara clurit
bagian belakang yang tumpul berfungsi untuk memukul belut yang mengambang
tersebut. Sekali pukul, biasanya si belut *klenger* (pingsan).

Hasil berburu belut tidak menentu. Kadang banyak, kadang sedikit. Namun
demikian, kalau hanya sekedar untuk lauk pauk makan sahur sekeluarga lebih
dari mencukupi. Dan yang pasti sangat bergizi.

Setelah di*-beteti* (dibersihkan jeroannya), apabila tangkapan banyak,
sebagian digoreng atau disayur untuk makan sahur, sisanya dijemur hingga
kering untuk dibuat kripik belut.

***

Kebalikanya dengan belut, ulat pohon turi acapkali didapatkan saat musim
kemarau. Saat daun-daun turi meranggas memasuki kemarau, pada pangkal pohon
turi hingga batang tersembunyi ulat daun turi berwarna putih agak kemerahan.
Ulat ini tidak berbulu derngan panjang kurang lebih 5 cm. Berburu ulat daun
turi dilakukan dengan cara mengorek-orek batang (paling banyak dekat akar)
dengan sebilah batang bambu atau cukup dengan jari tangan kosong.

Sebelum dimakan sebagai lauk pauk, ulat turi cukup dibakar layaknya sate.
Lantas dibumbui ala kadarnya. Selain di panggang, ulat turi ini digoreng.
Rasanya gurih dan *kenyil-kenyil* (empuk) di lidah. Sebagai lauk pauk
berbuka maupun sahur, hemat saya ulat turi ini sangat kaya protein. Dan
lebih penting lagi, mendapatkannya gratis dari alam sekitar.

Sebenarnya ada lagi lauk pauk gurih jaman masa kecil saya dulu yang juga
didapatkan dari alam sekeliling, yakni, laron. Makan lauk pauk laron sama
saja kita makan rayap. Cara mendapatkannya: selepas hujan deras, kalau pas
jelang malam tinggal sediakan baskom berisi air dan di sebelahnya ditaruh
lampu teplok atau petromak. Laron-laron segera mendatangi cahaya lampu
teplok atau petromak, dan sebagian besar jatuh di baskom. Tinggal disiangi,
digoreng atau di-gongso (menggoreng dengan gerabah tanpa minyak). Kasih
bumbu ala kadarnya. *Krenyes-krenyes. Mak Nyus! *
Demikian sekedar cerita kenangan Ramadhan di masa kecil.

*****

Ilustrasi Gambar: Repro lukisan karya A.D Pirous *Segala yang di Langit,
Segala yang di Bumi*

Sumber Ilustrasi Gambar:
*http://dwikisetiyawan.wordpress.com*<https://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/09/16/menyelami-puisi-idul-fitri-sutardji-calzoum-bachri/>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke