Rekan Rinsan Tobing,
Laju pertumbuhan penduduk dunia, dan Indonesia khususnya, memang perlu direm. 
Keluarga yang beranak pinak, sampai 5 atau 9 anak, sama saja dengan tidak 
memikirkan masa depan anak2 itu, dan kesejahteraan umat manusia secara umum.  
Maka program Keluarga Berencana perlu direvitalisasi. Dihembus2kan kembali. 
Keluarga dengan dua anak, laki perempuan sama saja (Catur Warga). Di Bali 
program KB dilaksanakan lewat sistem Banjar, dan berhasil mengerem laju 
pertumbuhan penduduk yang semula di sekitar  21/2%, menjadi sekitar 1,3%. 
Manusia janganlah berkembang biak tanpa batas seperti tikus atau kelinci.
Horas
IBA
  ----- Original Message ----- 
  From: Tobing Rinsan 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, May 02, 2007 6:39 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Manusia bersahabatlah dengan alam.


  Salam semuanya,

  Setelah membaca tulisan Pak Ninok Laksono, saya teringat kembali kepada
  pemikiran bahwa yang membuat musnahnya umat manusia adalah hilang atau makin
  langkanya energi atau tidak mampu untuk menyediakan energi yang diperlukan
  umat manusia untuk bisa menjalankan kehidupannya dan melanjutkan rasnya
  bertahan di muka bumi ini. Ketidaktersediaan energi atau ketidakmampuan
  untuk penyediaan energi ini akan menjadi pemicu perebutan sumber-sumber
  energi sehingga pada akhirnya masing-masing umat manusia akan saling
  menghancurkan untuk dapat menguasai sumber-sumber energi.

  Kenyataan ini telah kelihatan pada saat sekarang. Pihak Amerika yang
  melakukan perang dimana-mana dan penguasaan sumber-sumber energi dimana-mana
  telah menyadari hal ini. Keamanan pasokan minyak untuk jangka panjang
  menjadi pemicu Amerika untuk menguasai sumber-sumber energi yang terhabiskan
  ini. Hal utama yang menyebabkan kekurangan energi ini atau ketakutan Amerika
  akan kekurangan minyak pada tahun dua ribu sekian adalah makin bertambahnya
  jumlah manusia di planet ini. Mungkin pemikiran yang ada sekarang adalah
  penyediaan energi hanya berasal dari sumber energi fosil yang lama-kelamaan
  akan habis. Percepatan penghabisan energi fosil ini seiring dengan
  percepatan pertumbuhan populasi planet bumi. Penggunaan energi nuklir
  sementara ini belum dilihat sebagai yang favorable karena teknologi yang ada
  saat ini belum bisa me-nol-kan keamaanan penggunaan sumber energi ini.
  Sementara pemanfaatan solar energi juga masih dianggap mahal untuk pengadaan
  foto-foto sel pengikat panas matahari. Kemungkinan tidak berkembangnya
  penggunaan energi matahari ini mungkin karena yang negara-negara yang
  tinggal di ekuador adalah negara-negara yang subur yang tidak berjuang keras
  untuk bertahan hidup sehingga tidak kreatif dalam pencarian cara-cara
  pemamfaatan sumber energi matahari.

  Pemikiran untuk mencari alterntif pengganti bumi di luar angkasa sana,
  setidaknya sampai saat ini, masih belum bisa dikatakan memasuki awalnya.
  Penemuan super Earth tersebut masih membutuhkan waktu yang lama dan
  teknologi yang harus dikembangkan yang belum terbayangkan saat ini.
  Setidaknya jarak yang ditempuh untuk teknologi sekarang masih mustahil untuk
  dijelajahi.

  Lalu, kenapa harus mencari planet alternatif untuk mempertahankan ras
  manusia. Kenapa tidak merekonstruksi planet bumi pada tahap dimana bumi
  mampu menopang kehidupan manusia di atasnya. Ketika menonton national
  Geography saya melihat bahwa masih banyak daratan yang kosong dan tidak
  termanfaatkan. Kalau memungkinkan juga mengurangi jumlah penduduk secara
  alami sehingga manusia tidak memproduksi zat-zat yang mengganggu kemampuan
  bumi dalam mempertahankan dirinya atau pun mahluk di dalamnya.

  Ada satu pertanyaan yang muncul, apakah jumlah manusia yang 6 milyar ini
  sudah terlalu berlebihan dibandingkan dengan cadangan sumber-sumber alam
  yang belum terolah dan apakah bumi tidak mampu lagi menampung manusia
  sebanyak itu. Apakah kelangkaan sumber-sumber alam dikarenakan percepatan
  pertumbuhan manusia?

  Saya hanya berfikir, kenapa kita tidak mengurangi jumlah manusianya secara
  alami saja. Lalu permintaan akan barang-barang juga akan berkurang,
  lahan-lahan yang terpakai juga akan berkurang dan bisa dialihkan kegunaannya
  dan seterusnya dan seterusnya.

  Sekali lagi, saya secara sadar memilih untuk memiliki satu anak saja adalah
  didasarkan pada pemikiran saya di atas. Ketika jumlah manusia bertambah,
  maka akan dicari segala cara untuk mengolah sumber-sumber yang ada untuk
  pemenuhan kebutuhan mereka.

  Apakah yang saya utarakan ini sebuah utopia, merekonstruksi planet bumi ke
  keadaan dimana bumi mampu bertahan dan umat manusia bisa berlanjut tanpa
  harus mencari-cari planet yang mirip bumi yang akan dijadikan tempat baru
  untuk kelanjutan ras manusia?

  Terimaksih.

  Rinsan Tobing.

  

Kirim email ke