Saya ikut prihatin dengan tulisan Mas Goen dan Mas Satria.
Masalah pengangguran domestik kalau dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi
salah satu "bom waktu", yang akibatnya bisa lebih parah dari Krisis Mei 1998
yang lalu.
Kalau lapangan kerja di dalam negri tidak bisa dibuka lagi, maka sebaiknya
dibuat jalan by pass, yaitu mengekspor tenaga kerja ke luar negri.
Caranya?
- Hapuskan fiskal bagi tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja ke luar negri,
tidak hanya sebagai pembantu rumah tangga namun juga sebagai tenaga
terampil, dari akuntan, auditor, dokter, artis, sarjana teknik nuklir dll.
- Berikan subsidi, misalnya bebas pajak bagi perusahaan jasa penyalur tenaga
kerja Indonesia, bahkan pemerintah bisa memfasilitasi misalnya
mempertemukan agen-agen PJTKI dengan Konsul Jenderal atau Dubes kita
di luar negri.
- Berikan kemudahan bagi penyalur tenaga kerja dari luar negri untuk merekrut
tenaga kerja terampil Indonesia. Berikan kemudahan pemberian Paspor,
kalau bisa gratis bagi TKI yang akan berangkat ke luar negri.
Semoga badai pengangguran di Indonesia cepat berlalu.
Salam.
satriadharma2002 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Goen,
Saya juga melihat dan merasakan hal yang sama. Himpitan masalah
ekonomi benar-benar sudah mengkhawatirkan. Beberapa teman yang
dulunya bekerja dengan baik sekarang menganggur dan tak berdaya.
Temna-teman yang berusaha untuk buka usaha hanya menjumpai betapa
seretnya pasar sehingga modalnya habis hanya untuk bertahan. Suami
dan istri sering bertengkar hebat karena masalah ekonomi. Saya
kebingungan melihat fenomena ini dan juga tidak tahu harus
bagaimana. Ini sesuatu yang besar dan di luar kemampuan kita secara
individu untuk menyelesaikannya. Saya pikir kita harus mengatasinya
secara berjamaah.
Salam
Satria