Hehehe...pak/mbak/mas Miskintapisombong (bikin nama aja kok ya yang aneh-aneh 
toch?), tapi kaya kelihatan-nya, jangan sampai lupa bahwa berdemo itulah yang 
mendapatkan uang. Untuk berdemo di Jakarta ini cukup tinggi lho bayaran-nya?
  Apalagi kan udah dekat-dekat pemilihan presiden, jadi harus latihan demo 
teruuuuuuus.
  Uang juga masuk. 
  Sekarang lebih jelas lagi siapa yang meng-organisasi para "pendemo" tersebut? 
Lha wong cukup jelas kok, siapa yang kehilangan gengsi, dan kelompok mana yang 
ber-demo, iya kan?
   
  Mana bisa deselesaikan secara internal, kan enggak rame beritanya? Kalau 
dengan demo-demo, kan jadi besar beritanya. Semua koran-koran dalam negri dan 
luar negri akan memuat-nya. Pamor jadi naik, walaupun beritanya agak "miring". 
   
  Segala cara itu "halal" kelihatan-nya untuk anggota militer. Polisi nembak 
polisi, lalu nembak polisi lain-nya...halal. Anggota ABRI nembak bekas istri 
dan teman prianya dan mertuanya...juga halal. TNI AL di Jawa Timur menembak 
rakyat kecil.....halal.
  Menggalang para pendemo....halal
  Asalkan jangan rakyat biasa yang dirugikan pemerintah atau perusahaan 
per-orangan (LAPINDO) yang berdemo; ataupun mahasiswa yang menuntut keadilan 
dan demokrasi yang benar, yang pada ber-demo....mereka ini tidak di"halal" kan 
untuk berdemo...-:))
  Tahu sendiri kan aturan dinegri tetangganya Negri "Mimpi" ini?
   
  Salam,
  Yuli

miskintapisombong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          kelihatan-nya pak sutiyoso menggalangkan kekuatan bangsa hanya untuk 
gengsi pribadinya. Mengapa harus di iklankan masalah ini kepada 
rakyat Indonesia yang sudah hampir bosan dengan berbagai macam demo. 
dengan alasan menjaga martabat bangsa, rakyat terpaksa harus demo 
lagi dan demo lagi. kalu saja jumlah orang yang demo untuk masalah 
ini di kerahkan untuk membersihkan jakarta pasti jakarta sudah 
kekurangan sampah.

saya jamin orang australia tertawa geli dengan pristiwa ini, karena 
yang rugi adalah orang indonesia yang demo. kalau saja waktu yang di 
pakai untuk demo di pakai untuk cari uang pasti masa depan 
keluarganya akan sedikit lebih baik. Semua orang mengerti kalau pak 
Sutiyoso merasa malu dan merasa di lecehkan, tingka polisi autralia 
itu sangat tidak wajar terhadap tamu resmi negara mereka, tapi 
haruskah pak sutiyoso membawa rakyat Indonesia ikut berkubang dalam 
lumpur politik australia?? 

orang australia keturunan, penjahat?, narapidana? anjing, babi, najis 
dan di maki dengan segala kata kotor tapi sekali lagi mereka hanya 
cengar-cengir.

pertanyaan-nya adalah mengapa pak Sutiyoso tidak menyelsaikan masalah 
ini secara internal antara kedua pemerintah indonesia dan australia?? 
masih belum cukupkah demo2 yang di lakonkan hampir setiap minggu di 
jakarta? 

secara ekonomi(ekonomi indonesia) masalah ini akan lebih murah kalau 
di selesaikan secara internal, 
kalau para pendemo adalah bukan penganggur bayangkan nilai ekonomi 
dari waktu yang mereka pakai untuk demo?

salam

Kirim email ke