sorry ...mbak Yul jenis kelamin ku laki2, tapi kalau saya jadi perempuan maka saya akan jadi lesbian...only kidding. miskin-nya benaran lho...tapi kalau sudah miskin lalu rendah hati pula..kan dua kali rugi tuh...sombong dikit biar enggak kelihatan miskin-nya. Sudah lama mempraktek-kan ber-miskin + rendah hati tapi enggak berhasil, malah tambah melarat.
oh my godddd...pendemo di bayar??? hmmh...saya jadinya rasa tertarik untuk ikutan demo. Demo jadi lapangan pekerjaan baru dong. kalau demikian ...why not-lah salam --- In [email protected], Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hehehe...pak/mbak/mas Miskintapisombong (bikin nama aja kok ya yang aneh-aneh toch?), tapi kaya kelihatan-nya, jangan sampai lupa bahwa berdemo itulah yang mendapatkan uang. Untuk berdemo di Jakarta ini cukup tinggi lho bayaran-nya? > Apalagi kan udah dekat-dekat pemilihan presiden, jadi harus latihan demo teruuuuuuus. > Uang juga masuk. > Sekarang lebih jelas lagi siapa yang meng-organisasi para "pendemo" tersebut? Lha wong cukup jelas kok, siapa yang kehilangan gengsi, dan kelompok mana yang ber-demo, iya kan? > > Mana bisa deselesaikan secara internal, kan enggak rame beritanya? Kalau dengan demo-demo, kan jadi besar beritanya. Semua koran-koran dalam negri dan luar negri akan memuat-nya. Pamor jadi naik, walaupun beritanya agak "miring". > > Segala cara itu "halal" kelihatan-nya untuk anggota militer. Polisi nembak polisi, lalu nembak polisi lain-nya...halal. Anggota ABRI nembak bekas istri dan teman prianya dan mertuanya...juga halal. TNI AL di Jawa Timur menembak rakyat kecil.....halal. > Menggalang para pendemo....halal > Asalkan jangan rakyat biasa yang dirugikan pemerintah atau perusahaan per-orangan (LAPINDO) yang berdemo; ataupun mahasiswa yang menuntut keadilan dan demokrasi yang benar, yang pada ber- demo....mereka ini tidak di"halal" kan untuk berdemo...-:)) > Tahu sendiri kan aturan dinegri tetangganya Negri "Mimpi" ini? > > Salam, > Yuli > >
