--- In [email protected], "Totot" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Ini saya rasa ide menarik mas. Saya sebenarnya tertarik utk tahu
> lebih dalam, mulai dari saat ada berita bahwa di beberapa perumahan
> sudah di uji cobakan akses internet via PLN, gak tau ini benar atau
> tidak ya. Tapi saya coba cari infonya, belum dapat2 tuh mas.

> From: "Alpha Bagus Sunggono" <[EMAIL PROTECTED]>

> > Bisakah kita menggunakan Listrik Gratis ?
> > 
> > Kita melihat nbahwa menggunakan Radio dan Televisi ,
> > jaman dahulu, perlu membayar iuran bulanan.
> > Namun pada akhirnya menjadi gratis.
> > Hal ini bisa juga kita assign ke biaya listrik.
> > 
> > Perusahaan yang akan mengiklankan sesuatu,
> > tinggal membayar lewat PLN.
> > Maka PLN akan mentransmit informasi Iklan ini
> > ke puluhan Juta pelanggan. Suatu media yang
> > sangat efektif penetrasinya.
> > 
> > Dengan adanya suplai dana dari Perusahaan pengiklan,
> > maka pelanggan rumah tangga bisa menggunakan
> > listrik secara gratis tis tis tis.
> > 

CMIIW, tapi rasanya tidak mungkin listrik semacam PLN ini gratis. Di
LN pun tidak ada listrik gratis total. Karena naturenya yang memang
berbeda dg TV/radio. TV dan radio itu broadcast. Struktur biaya
produksinya jelas jauh berbeda dg struktur biaya produksi listrik.

Listrik dihasilkan oleh pembangkit dg bahan baku sumber energi yg
sampe sekarang semuanya mahal (batu bara, nuklir, dam, solar diesel,
dsb). Mahal karena umumnya non-renewable resources, juga mahal karena
biaya pembangunan pembangkit, maintenance dan ongkos produksinya.
Biaya besar lainnya adalah jaringan. Ini merupakan sunk costs yang
sangat membebani sehingga umumnya perusahaan listrik diregulasi
menjadi (natural) monopoli atau oligopoli (kalau dari awal kompetisi
bebas, bisa2 semuanya bangkrut merugi). Karena itu privatisasi listrik
selalu rumit (single-buyer, multi-buyer, hulu-hilir, dsb). 

Menjual iklan lewat TV dan radio jelas gampang. Konsumen jelas melihat
dan mendengar. Tapi menjual iklan lewat listrik? Saya kok ngga
terbayang ya.. listrik kan komoditi intermedier. Kita pake listrik
buat mengoperasikan benda2 yang bisa dibilang has nothing to do with
PLN. Kulkas, tv, komputer, lampu, AC, kompor, dll. Bagaimana PLN
numpangi listrik untuk ngiklan?

Ide menjual internet via PLN itu realistis dan memang telah
dilaksanakan di Jakarta walau masih sangat terbatas. Di negara maju,
ini bukan barang aneh. Saya bisa pilih langganan internet lewat Tepco
(PLN-nya Tokyo), harganya sekitar 400 ribu perbulan untuk unlimited
internet access at 100 Mb/s. 

Tapi kan disamping internet 400 ribu itu, tetap bayar listrik juga
(sesuai pemakaian pribadi) :D 

Karena listrik punya biaya produksi sendiri plus internet juga ada
biaya produksi sendiri (menyediakan jaringan, server, admin, dsb).
Yang bisa dicapai disini adalah efisiensi karena numpang kabel listrik
(dg meng-assign multiple frekuensi? saya kurang paham teknisnya, tp
rasanya listrik yg ke rumah/tegangan rendah frekuensinya 50-60 Hz,
sedangkan data memerlukan ultra high freq). Tapi membeli, memasang dan
menyambungkan kabel ke gardu2 transmisi sendiri saja sudah costly,
juga menyediakan alat2 bridging untuk memungkinkan transmisi listrik
dan data tidak saling menggangu, dan tentu saja: memproduksi listriknya.

Listrik gratis atau sangat murah mungkin feasible untuk skala kecil.
Misalnya desa2 dg pembangkit mikro yang memanfaatkan bahan baku
gratisan atau mumer semisal kotoran ternak, angin, air terjun, ombak,
dsb. 

Saya kira jika PLN bisa mengurangi kebocoran (baik teknis maupun
dicuri), itu saja sudah membantu banyak. Soal gratis? Biaya sunk costs
itu lho.. kayaknya belum mencapai BEP. Belum compang camping
inefisiensinya.

just my two-cent,

fau


Kirim email ke