Setuju. Membuat generator sendiri, selain investasi biaya 
generatornya, harus juga berinvestasi unntuk menjamin kestabilan 
daya maupun tegangannya. Belum mengurusi distribusi dan maintenance-
nya. Ujung-ujungnya duit juga. 

Jadi ingat cerita, kalau tidak salah di AS, dimana jaringan 
listriknya selain mengantarkan daya juga bisa menerima daya. Kalau 
si empunya rumah punya generator sendiri yang bertenaga surya atau 
mikrohidro atau angin, daya yang dihasilkan generator ini bisa 
dikirim kembali ke PLN. Nanti tagihan bulan berikutnya dikurangi 
dari daya yang "disumbangkan" ke PLN tersebut. Kalau daya yang 
disumbangkan sama besar dengan yang diambil jadilah tagihan dia 
bulan itu nol alias gratis. Sistem begini katanya, dibandingkan 
mengandalkan pembangkit sendiri, menghilangkan tambahan biaya yang 
datang dari urusan distribusi dan maintenance.

Mungkin yang pernah menggunakan jaringan listrik model begini bisa 
berbagi cerita.

Andi

--- In [email protected], "fauziah swasono" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- In [email protected], "Totot" <totot@> 
wrote:
> > 
> > Ini saya rasa ide menarik mas. Saya sebenarnya tertarik utk tahu
> > lebih dalam, mulai dari saat ada berita bahwa di beberapa 
perumahan
> > sudah di uji cobakan akses internet via PLN, gak tau ini benar 
atau
> > tidak ya. Tapi saya coba cari infonya, belum dapat2 tuh mas.
> 
> > From: "Alpha Bagus Sunggono" <bagusalfa@>
> 
> > > Bisakah kita menggunakan Listrik Gratis ?
> > > 
> > > Kita melihat nbahwa menggunakan Radio dan Televisi ,
> > > jaman dahulu, perlu membayar iuran bulanan.
> > > Namun pada akhirnya menjadi gratis.
> > > Hal ini bisa juga kita assign ke biaya listrik.
> > > 
> > > Perusahaan yang akan mengiklankan sesuatu,
> > > tinggal membayar lewat PLN.
> > > Maka PLN akan mentransmit informasi Iklan ini
> > > ke puluhan Juta pelanggan. Suatu media yang
> > > sangat efektif penetrasinya.
> > > 
> > > Dengan adanya suplai dana dari Perusahaan pengiklan,
> > > maka pelanggan rumah tangga bisa menggunakan
> > > listrik secara gratis tis tis tis.
> > > 
> 
> CMIIW, tapi rasanya tidak mungkin listrik semacam PLN ini gratis. 
Di
> LN pun tidak ada listrik gratis total. Karena naturenya yang memang
> berbeda dg TV/radio. TV dan radio itu broadcast. Struktur biaya
> produksinya jelas jauh berbeda dg struktur biaya produksi listrik.
> 
> Listrik dihasilkan oleh pembangkit dg bahan baku sumber energi yg
> sampe sekarang semuanya mahal (batu bara, nuklir, dam, solar 
diesel,
> dsb). Mahal karena umumnya non-renewable resources, juga mahal 
karena
> biaya pembangunan pembangkit, maintenance dan ongkos produksinya.
> Biaya besar lainnya adalah jaringan. Ini merupakan sunk costs yang
> sangat membebani sehingga umumnya perusahaan listrik diregulasi
> menjadi (natural) monopoli atau oligopoli (kalau dari awal 
kompetisi
> bebas, bisa2 semuanya bangkrut merugi). Karena itu privatisasi 
listrik
> selalu rumit (single-buyer, multi-buyer, hulu-hilir, dsb). 
> 
> Menjual iklan lewat TV dan radio jelas gampang. Konsumen jelas 
melihat
> dan mendengar. Tapi menjual iklan lewat listrik? Saya kok ngga
> terbayang ya.. listrik kan komoditi intermedier. Kita pake listrik
> buat mengoperasikan benda2 yang bisa dibilang has nothing to do 
with
> PLN. Kulkas, tv, komputer, lampu, AC, kompor, dll. Bagaimana PLN
> numpangi listrik untuk ngiklan?
> 
> Ide menjual internet via PLN itu realistis dan memang telah
> dilaksanakan di Jakarta walau masih sangat terbatas. Di negara 
maju,
> ini bukan barang aneh. Saya bisa pilih langganan internet lewat 
Tepco
> (PLN-nya Tokyo), harganya sekitar 400 ribu perbulan untuk unlimited
> internet access at 100 Mb/s. 
> 
> Tapi kan disamping internet 400 ribu itu, tetap bayar listrik juga
> (sesuai pemakaian pribadi) :D 
> 
> Karena listrik punya biaya produksi sendiri plus internet juga ada
> biaya produksi sendiri (menyediakan jaringan, server, admin, dsb).
> Yang bisa dicapai disini adalah efisiensi karena numpang kabel 
listrik
> (dg meng-assign multiple frekuensi? saya kurang paham teknisnya, tp
> rasanya listrik yg ke rumah/tegangan rendah frekuensinya 50-60 Hz,
> sedangkan data memerlukan ultra high freq). Tapi membeli, memasang 
dan
> menyambungkan kabel ke gardu2 transmisi sendiri saja sudah costly,
> juga menyediakan alat2 bridging untuk memungkinkan transmisi 
listrik
> dan data tidak saling menggangu, dan tentu saja: memproduksi 
listriknya.
> 
> Listrik gratis atau sangat murah mungkin feasible untuk skala 
kecil.
> Misalnya desa2 dg pembangkit mikro yang memanfaatkan bahan baku
> gratisan atau mumer semisal kotoran ternak, angin, air terjun, 
ombak,
> dsb. 
> 
> Saya kira jika PLN bisa mengurangi kebocoran (baik teknis maupun
> dicuri), itu saja sudah membantu banyak. Soal gratis? Biaya sunk 
costs
> itu lho.. kayaknya belum mencapai BEP. Belum compang camping
> inefisiensinya.
> 
> just my two-cent,
> 
> fau
>


Kirim email ke