Wuehehehe,
   
  Anda bukan satu-satunya yang keliru duga soal gender ini. Saya sudah biasa 
kok, malah selalu terhibur kalo ada yang keliru duga kaya begini. Salam kenal 
juga Bu Mary Martinus (semoga saya sendiri gak keliru, ya, menyebut Anda 'Ibu').
   
  Saya setuju banget dengan apa yang Anda sampaikan. itu juga sebabnya mengapa 
setiap kali ada keluar data tentang GNP, saya agak skeptis. Soalnya GNP ini tak 
pernah memperhitungkan kerja dan upaya yang dilakukan perempuan di rumah untuk 
menyiapkan suami-suami mereka setiap hari agar dapat menjadi pekerja produktif. 
Bayangkan kalo para pekerja rumah tangga ini tak menyiapkan makan dan gizi yang 
cukup buat para suami mereka?
   
  Perhatikan deh, di mana-mana kalo ada kepanitiaan, yang kerjanya paling 
pusing justru seksi konsumsi, dan gak banyak orang yang mau ditunjuk menangani 
seksi ini. Selain kurang gengsi dan di belakang layar, capeknya juga bukan 
kepalang. Situasinya kurang lebih sama dengan ibu-ibu yang bekerja di rumah 
untuk rumah tangganya itu.
   
  Makanya, saya pernah tanya dalam postingan sebelumnya, para bapak yang 
komplain soal beratnya kerja mencari uang itu mau tidak tukar peran sama 
istrinya? Biar istrinya yang cari uang, mereka yang ngurusin rumah. Liat siapa 
yang lebih stress. Kalo tak mengalami sendiri susahnya kerja di rumah, tak akan 
bisa ngerti dan selalu para bapak ini minta diistimewakan. Alasannya klise: 
"udah capek-capek cari duit, kok di rumah gak dilayani?"
   
  salam,
  manneke
   
  

Mary Martinus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Betul sekali! Yang perlu gizi baik bukan hanya pencari nafkah (di 
sini dikatakan bapak), anak yang tengah dalam masa tumbuh kembang lebih perlu 
banyak asupan gizi. Ibu juga perlu.. bagaimana bisa bekerja dari pagi sebelum 
suami dan anak bangun hingga malam hari. Kalau dilihat dari segi capeknya, 
peran Ibu dalam mengatur RT (mengatur rumah, mengajari/mendidik anak, merawat 
seluruh keluarga) rasanya lebih besar daripada peran bapak. Tapi tidak boleh 
begitu ya, orang berumahtangga kan tidak boleh melihat kerjaan si A lebih berat 
dari si B, harusnya seimbang sesuai dengan porsinya masing-masing. Begitu juga 
dengan gizi, harusnya imbang dengan kebutuhan asupan masing-masing orang, tidak 
bisa dilihat karena pekerjaan lebih berat/karena dia yang menghasilkan nafkah.
Btw, Manneke ternyata Bapak ya? Maaf nih.. kurang gaul. :) Maaf ya, Pak! Salam 
kenal!

regards,
Mary Martinus


---------------------------------
Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing. 

[Non-text portions of this message have been removed]



         

                        
---------------------------------
Make free worldwide PC-to-PC calls. Try the new Yahoo! Canada Messenger with 
Voice

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke