Oleh Herry Tjahjono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/03/opini/3811634.htm
=====================

Beberapa tahun lalu, TKI ilegal di Malaysia ramai diberitakan akan
dipulangkan (baca: diusir). Waktu itu ada yang sebagian dikejar-kejar
karena ngotot menuntut gajinya. Kasus TKI ilegal itu cermin bahwa
bangsa dan rakyat Indonesia adalah manusia-manusia yang kalah "di
luar". Namun, sejatinya, kita semua juga adalah manusia-manusia yang
kalah "di dalam (negeri)" sendiri.

Hari-hari ini kita dikejutkan oleh pemukulan semena-mena polisi
Malaysia terhadap wasit dari Indonesia karena "dianggap" TKI ilegal.
Kasus ini merupakan simbol telak manusia Indonesia tanpa martabat di
mata orang luar. Ekstremnya, di mata (orang) Malaysia, kita hanyalah
"sekumpulan" bangsa TKI ilegal. Maka, siapa pun kita orang Indonesia
ketika berada di negeri jiran itu, jika penampilan fisikal kita
cenderung mirip TKI ilegal, sangat mungkin kita mendapatkan perlakuan
yang sama.

Dalam kasus yang lain, kita tentu masih ingat Sutiyoso juga
diperlakukan kurang sedap di Australia. Telah tercipta stigmatisasi
negatif dari negara-negara luar terhadap bangsa Indonesia.

Martabat bangsa luluh lantak! Secara psikologis, gejala luluh
lantaknya martabat bangsa itu ditandai oleh merebaknya prasangka orang
luar terhadap kita. Prasangka (prejudice) lebih intens dan jahat dari
ketidakpercayaan (distrust). Bangsa kita bukan hanya tidak dipercaya
orang luar, tetapi sudah diprasangkai.

Dan prasangka itulah yang terjadi pada wasit kita di Malaysia. Dia
bukan TKI ilegal, dia tak berbuat apa pun, tetapi karena diprasangkai
sebagai TKI ilegal sebagai cermin "serba buruk dan menyebalkan" orang
Indonesia, dia diperlakukan semena-mena.

Prasangka sendiri secara bebas bisa diartikan sebagai sebuah sikap
(mental) yang tak kondusif, merugikan (kedua pihak), negatif, yang
mengarah pada anggota kelompok atau kelompok tertentu. Prasangka ini
sungguh jahat dan sering tidak manusiawi. Orang- orang yang
kepribadiannya dipenuhi prasangka ini sendiri tentu saja tidak sehat
(patologis), irasional, dan subyektif. Dan jelas, negara-negara
tetangga (baik oknum maupun sebagai kelompok bangsa) yang dipenuhi
prasangka terhadap kita juga patologis secara kejiwaan.

Kondisi kita sebagai "obyek" prasangka ini juga tak kalah sakitnya
secara kejiwaan sebab hal ini merupakan simtom dari martabat bangsa
yang tergerus. Itu sebabnya sebagai obyek prasangka kita juga
cenderung berperilaku patologis juga. Tandanya, kita juga cenderung
reaktif-emosional, irasional, dan subyektif: mau membalas dengan
prinsip an eye for an eye, melakukan sweeping orang Malaysia, dan
mengusir atletnya, dan banyak lainnya.

Namun, bukan itu esensi masalahnya! Ini problem kepemimpinan bangsa.
Salah satu tugas utama pemimpin adalah menegakkan martabat organisasi
(Indonesia) dan segenap anggotanya (rakyat). Jika rakyat kehilangan
martabat dan dijadikan obyek prasangka, bukan mereka yang salah,
tetapi para pemimpinnya.

Kita tidak bisa melawan mereka dengan sikap-perilaku patologis juga
(serba reaktif, irasional, subyektif). Maka kepemimpinan para pemimpin
haruslah "sehat", tidak patologis: semua sikap dan perilaku
kepemimpinan harus dilandasi oleh proses kerja dan tujuan yang
"rasional-obyektif". Rasional-obyektif berhubungan dengan data dan
fakta, tidak hanya opini atau sikap reaktif. Maka proses dan tujuan
kepemimpinan adalah bagaimana mengubah "data dan fakta" kondisi
rakyat: dari status para TKI ilegal, yang liar mengendap-endap mencari
sesuap nasi di negara-negara tetangga, disiksa, diperkosa, dibunuh,
berubah menjadi tuan di negeri sendiri (yang tidak kelaparan, tak lagi
kelayapan karena tak punya rumah, dan aman bekerja di negeri sendiri).

Para penguasa atau petinggi negeri ini adalah orang-orang hebat dan
sukses, tetapi belum tentu mereka layak disebut pemimpin
sukses—pendapat John Maxwell—jika mereka belum mampu menemukan
"tempat" yang tepat bagi pengikutnya (rakyat).

Banyaknya rakyat yang jadi TKI ilegal merupakan refleksi bahwa mereka
belum punya tempat yang tepat, bahkan di negerinya sendiri. Maka para
saudaraku, jangan lagi menuntut (baca: mengemis) kata "maaf" dari
Malaysia. Itu justru refleksi dari tergerusnya martabat kita sampai ke
titik nadir. Kita tak perlu maaf, kita perlu rasa hormat mereka. Dan
itu tugas para pemimpin untuk bekerja lebih "sehat"!

Herry Tjahjono Corporate Culture Therapist dan Penulis Buku The XO Way



Kirim email ke