Kalau saya bilang, banyaknya penolakan nuklir tidak boleh dijadikan alasan bahwa kita harus me-ruled out semua kajian, penelitian, ataupun pengembangan teknologi kenukliran termasuk nuklir untuk energi.
Bahwasanya nuklir untuk energi masih tinggi kadar bahayanya, justru disitulah tantangan bagi negeri ini yang kaya akan ilmuwan2 untuk mengembangkan energi nuklir yang lebih baik, lebih aman, lebih layak, dan lebih bermanfaat. Bukankah tugas ilmuwan yang bersangkutan untuk menciptakan teknologi yang lebih baik untuk umat manusia? Seperti slogan Toyota "Keep moving forward". Jadi ketimbang mendebat perlukan PLTN atau tidak, kenapa gak mulai sekarang pemerintah mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang terutama pada masyarakat yang berpengaruh besar dan berkompeten untuk menentukan: MAU KEMANA ARAH PENGEMBANGAN NUKLIR DI INDONESIA? Jadi nanti ada ketetapan bersama yang nantinya harus dipatuhi: Apakah mau mengembangkan nuklir hanya untuk kesehatan saja, atau hanya untuk pertanian saja, atau mengembangkan nuklir untuk semua aspek termasuk energi (kecuali senjata). Misal dari suatu musyawarah pemerintah bersama para pakar, ilmuwan, wakil masyarakat, alim ulama, sastrawan, budayawan, wartawan, dll, telah SEPAKAT menetapkan arah pengembangan nuklir di Indonesia akan digunakan dan dikembangkan untuk kesehatan, energi, pertanian, bioteknologi, rekayasa sains, dsb. Misal dalam hal kesehatan, apa saja yang perlu dikembangkan? Perangkat apa saja yang cocok diterapkan dan dikembangkan di Indonesia? Apa yang bisa dijual teknologi buatan negeri ke manca negara? Apa saja yang diperlukan untuk mendukung semua ini? Begitu juga dalam hal energi, apa saja yang perlu dikembangkan? Perangkat pengayaan uraniumnya, bagaimana penelitian, perkembangan, dan penerapannya? Bagaimana menyiapkan manajemen resikonya? Infrastrukturnya? Dan lain hal, agar dapat bangsa kita dapat menciptakan dan menikmati energi nuklir yang aman, layak, murah, dan bermanfaat. Dan aspek2 lainnya, dijabarkan secara detail, apa yang perlu dipersiapkan dan arahan penelitian dan pengembangannya, serta implementasinya. Bagaimana nantinya ketetapan ini menjadi pedoman bersama pemerintah dan rakyatnya dalam pengembangan nuklir. Meributkan perlu PLTN atau tidak, tidak akan ada habisnya. Ini seperti dua kutub yang bertolak belakang. Ketimbang mempertemukan sesuatu yang sulit atau tidak akan bisa bertemu, kenapa tidak memulai bermusyawarah dan menetapkan MAU DIBAWA KEMANA NIH ARAH PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN NUKLIR DI INDONESIA? Sehingga penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini oleh ilmuwan2 tidak sia-sia atau hanya menjadi sejarah, ataupun arsip belaka. Melainkan apa yang telah ilmuwan teliti dan kembangkan dapat juga dinikmati manfaatnya untuk bangsa ini. Atau pilihan terakhir Indonesia cukup menjadi penonton dunia saja dalam penelitian dan pengembangan teknologi nuklir. p --- In [email protected], "MetNet" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear rekan2 milist yth, > > Saya pikir diskusi/forum yg difasilitasi oleh anti-PLTN-Muria > akan menghasilkan kesimpulan yg sama spt diskusi sebelumnya. > Demikian juga sebaliknya diskusi pro-pltn. > > Mungkin kita bisa memulai sesuatu yang baru. > > Bagaimana kalau diskusi dilakukan lebih spesifik/detail, > misalnya hal ttg resiko PLTN. Berapa besarnya, bagaimana > pengaruhnya, dan apa faktor penyebabnya. > Menurut literatur, resiko terbesar kecelakaan PLTN > adalah kecelakaan reaktivitas meskipun probability-nya > 10 pangkat minus 7-8. > > Hal ini bagus untuk menguji apakah betul masyarakat kita > memang sudah mengerti PLTN, kalau sudah ya syukur, kalau > kurang mengerti resiko PLTN, semoga menjadi hal positif, > pemahaman yang lebih dalam dan persatuan. > > Muhammad Subekti
