salut utk mas Stephanus.... dan pastilah mengerti kaum pengemis/gelandangan/anak jalanan nggak mudah
Contoh nyata mudah nya : ada sebuah rumah singgah yg di beritakan di koran di tutup krn nggak disukai atau dianggap mengganggu oleh penduduk lingkungannya.. ketika sy konmentar dimilis , saya bilang kok gitu ya lingkungannya..nggak mau bantu menmbantu kaum susah.. maka sy malah di jawab.. : pak Haniwar nggak pernah ngalami sih betapa mengganggunya mrk..., anak anak yg disitu banyak yg benar benar mengganggu , bahkan bisa bisa merusak moral anak di sekitar lingkungan.. Kasihan juga ya. gerakan semacam yg dilakukan Mas Stephanus inibahkan sulit dapat dukungan dr lingkungan.. Salut buat pekerja sosial yg nggak pernah menyerah... , rasanya diri jadi kecil deh.. bertemu dgn orang spt mas Stephanus ini.. Salam Haniwar At 11:30 PM 9/13/2007, you wrote: >Rekan FPK yth, >seperti pernah saya katakan, masalah pengemis (juga pengamen) >merupakan masalah yang sangat kompleks. Tidak mudah memahami pengemis, >dan oleh karena itu, bagi saya pribadi, juga tidak mudah untuk >menghakimi mereka, menebak-nebak pikiran mereka dan menilai perilaku >mereka. Pengemis sendiri tidak seragam, baik dari segi penyebab atau >motivasi mereka mengemis maupun latar belakang mereka. > >Karena tidak mudah memahami pengemis, maka tidak mudah pula mencari >solusi dari problem pengemis itu. Banyak hal yang harus ditangani >secara kasus per kasus. Penerapan UU, yang mengandaikan perlakuan yang >sama karena posisi yang sama di depan hukum, seperti menjatuhkan >hukuman bagi siapa saja yang mengemis, dengan sendirinya meniadakan >prinsip penanganan masalah pengemis secara kasus per kasus itu. Di >sinilah letaknya bahaya dari penerapan UU tersebut. Pukul rata. > >Saya ingin sharing, agak panjang (kalau tak mau membaca ya abaikan saja) > >sharing 1: >Ketika mempelajari teologi sosial, saya beruntung bisa mengukti kuliah >tersebut dengan metode proyek, di mana mahasiswa sebagai peneliti >menempatkan diri dalam posisi orang/kelompok yang diteliti. >Saat itu saya masuk dalam komunitas pemulung dan pengemis di sebuah >kota di Jawa Tangah. Dalam proyek itu saya tidak berdiri atau >berfungsi sebagai pengamat atau pensurvey, melainkan saya menjadi >bagian dari mereka, mengalami secara langsung kahidupan mereka. Saya >ikut memulung dari pagi sampai malam. Ikut tidur dalam gubuk, makan, >minum bersama mereka. Saya pernah ikut di garuk, diburu oleh aparat. >Saya pernah ikut menangis bersama sebuah keluarga yang menunggui >anaknya mati pelan-pelan hanya karena tidak punya uang untuk membeli >obat. Suatu hari kami mengumpulkan seluruh uang yg kami peroleh >sepanjang hari untuk membawa teman yang mengalami kecelakaan ke >puskesmas. Dari pergumulan hidup langsung bersama mereka itu saya jadi >mampu merasakan apa yang mereka rasakan:kesedihan, ketakutan, >kemalasan,kegembiraan,keberanian,dll., dan sedikit mampu berpikir dari >sudut pandang mereka. Dari situlah saya merasa sedikit mampu memahami >para pengemis dan pemulung.Pemahaman itu yang saya jadikan dasar >refleksi dan dasar penilaian, dan dasar ketika saya berbicara tentang >orang miskin, di antaranya tentang pengemis. > >Setelah Pembimbing kuliah saya membaca laporan proyek sosial saya,dia >berkata: " Sekarang kamu mengerti, mengapa orang tidak boleh >berkhotbah tentang arti kemiskinan, kalau orang tidak pernah mengalami >kemiskinan itu secara langsung. Karena, kalau orang tidak pernah >merasakannya, orang tidak mengerti apa-apa tentangnya. Mungkin saja >pengkhotbah itu akan bicara banyak dan enak didengar, tetapi >kebanyakan isi pembicaraanya adalah dongeng ngawur belaka...". > >Saya ambil contoh Pak AB menanggapi korban banjir: >Saya bertanya: mengapa Aburizal Bakrie bisa mengeluarkan komentar >menjengkelkan mengenai korban banjir di Jakarta beberapa waktu lalu? >Barangkali karena dia sendiri tidak pernah mengalami menjadi korban >banjir. >Barangkali dia tidak bermaksud melecehkan korban banjir, tapi karena >dia mendasarkan pernyataannya atas apa yg dia lihat di layar TV, dia >bisa keliru. Dan benar, dia keliru. > >-------- >Sharing 2 >Ketika saya menjadi pengamen, saya melihat ada beberapa teman pengamen >yang sering main dingdong di dekat tempat kami mangkal. Umumnya yang >masih kecil-kecil. Kadang uang mereka habis hanya untuk main dingdong. >Saya tidak mungkin melarang mereka. Itu hak mereka. Mereka butuh >bermain. Sedangkan mereka tidak punya kesempatan menikmati fasilitas >permainan lainnya yg lebih baik. > >Saya mulai mengumpulkan mereka. Kami membuat paguyuban pengamen. Nama >kami didaftar. Kami membuat aturan untuk kelompok kami sendiri. Antara >lain: kami wajib menabung setiap hari di sebuah bank kecil di tempat >kami mangkal.Kami juga wajib berlaku tertib,tidak mengganggu >ketertiban umum dan berlaku sopan. Lalu saya usahakan supaya paguyuban >kami didaftar di departemen sosial. Dari Depsos kami mendapat kartu >anggota paguyuban pengamen dan diijinkan main bola di sebuah tanah >kosong dekat pangkalan ngamen. > >Hasilnya: Sejak ada kewajiban menabung dan ada tanah lapang untuk >bermain itu semakin hari semakin berkurang anak-anak yg bermain >dingdong. Tidak lagi ngamen di lampu merah, melainkan ngantri, >bergantian ngamen di bis.Dan kelompok kami tidak lagi pernah digaruk >aparat.Beberapa teman yg berbakat dapat beasiswa kursus musik dari >Depsos. Yang lain dapat pelatihan kerajinan di pusat penampungan dan >akhirnya bisa kerja . >------ >Sharing 3 >Saya pernah hidup dan terlibat di sebuah pusat penampungan anak-anak >jalanan (pengemis, pengamen, dll.) di Yogyakarta. Dengan segala >keterbatasannya, pengelola rumah tsb berusaha mendidik dan melatih >anak-anak jalanan. Di sana ada bengkel, ada kursus menjahit, membuat >kerajinan,kursus masak, kebun,ternak, dll. > >Hasilnya: Sekarang ada yg sudah punya bengkel sendiri, ada yg sudah >sukses jadi petani di Kalimantan,ada yg buka warung, ada yg sudah jadi >sarjana dan bekerja. > >Memang tidak semua bisa dididik atau diarahkan. Mereka yg tidak bisa >dididik ini ada yg memang pemalas atau secara psikologis tidak punya >orientasi. Penyebabnya bisa macam-macam. Saya tidak tahu mengapa, dari >kelompok yg tak punya orientasi ini kebanyakan laki-laki. Mereka lebih >senang mabukan dan ada juga yg akhirnya terlibat kriminal.Bahkan ada >yg mencuri motor milik rumah penampungan tsb. Ada juga yang kembali >lari ke jalanan, menggelandang dan mengemis. >------- >Apa artinya sharing panjang lebar ini? >Saya hanya ingin menunjukkan: >1. penilaian yg diberikan berdasarkan pendapat umum terhadap kaum >miskin jalanan (pengemis, pengamen,dll) bisa keliru. Kekeliruan itu >bisa terjadi akibat kurangnya pemahaman mengenai kelompok miskin tsb. >2. Mencoba memahami pengemis secara pukul rata, apalagi hanya >dengar-dengar dari hasil survey kelompok ttu,rasanya perlu diperbaiki. >3. kebijakan yg bersifat hukum (UU, perda, dll.) yg diambil dan >diterapkan tanpa dasar pemahaman yg baik akan akar masalahnya justru >bisa menimbulkan masalah baru. >4.Mengatasi masalah pengemis (kaum miskin jalanan) secara "gampang" >ala perda Ketertiban Umum DKI tsb.,justru berpotensi membahayakan >ketertiban umum sendiri. >5. Kalau pemerintah mau bekerja keras, masih ada jalan untuk >mengalihkan kaum miskin jalanan tersebut, yaitu dengan menggalakkan >pusat penampungan yg di dalamnya ada pelatihan dan membuka lapangan >kerja baru yg memberikan kesempatan pada lulusannya untuk bekerja. >Saya kira banyak juga masyarakat/orang mampu yg mau membantu >pemerintah dalam hal itu. > >Kalau misalnya ada pengemis yg sudah tiga kali dilatih di tempat >penampungan, sudah diberi peluang untuk bekerja, eh, masih juga lari >dan mengemis, kalau dia ketangkap baru bisa diadili dan dipenjara. > >Salam >Mulyadi
