Mungkin bisa menambahkan. Yang diresmikan SBY seperti saya baca di koran 
ternyata adalah Rumah Sehat, bukan Rumah Sakit - walau kalau disingkat 
sama-sama RS. Jadi SBY tidak melanggar apa pun.
   
  Mungkin pengelolanya tahu, kalau ngurus perizinan Rumah Sakit bakal 
bertele-tele dan musti suap kiri kanan, makanya terus diberi nama Rumah Sehat 
saja. Aku pikir bagus juga ya istilah Rumah Sakit diganti saja menjadi Rumah 
Sehat......:))
   
  

Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas Haniwar, saya heran mengapa SBY mau meresmikan rumah sakit (atau 
rumah
sehat) yang diakui belum mendapat ijin dari pemerintah (Menkes)? Padahal
Menkes kan representasi pemerintah, jadi juga representasi SBY sebagai
Presiden. Ini preseden yang tidak baik. Ini kan pelanggaran terhadap
peraturan pemerintah sendiri. Lain kali SBY (atau pejabat negara yang lain)
juga harus bersikap sama jika ada kelompok lain yang mendirikan rumah sakit
tanpa ijin.
Saya tidak tahu bagaimana reaksi Kadinkes DKI ataupun Gubernur melihat
peristiwa ini.
Yang kedua, gagasan memberikan layanan medis secara gratis kita hargai. Ini
satu terobosan yang oleh pemerintah sendiri belum sepenuhnya berhasil
dilakukan. Adanya askes gakin memang menoloong tetapi untuk mendapatkan
surat gakinnya banyak orang miskin yang tidak mampu. Bahkan ada yang tidak
miskin dapat memperoleh kartu gakin (ini cerita dari seorang dokter di
sebuah kecamatan di Jawa Timur). Demi untuk menang dalam pilkades, kades
yang ingin maju lagi itu membagi-bagikan kartu (askes) gakin kepada warganya
dengan janji akan memilih dia.
Tetapi gagasan terobosan ini toh dapat dilakukan tanpa harus melanggar
peraturan pemerintah? Lalu buat apa gembar-gembor lebih dulu?
Yang ketiga, masalah kesehatan di ibu kota bukan hanya diatasi dengan
menyediakan pengobatan gratis bagi yang miskin. Yang utama adalah bagaimana
agar mereka yang miskin itu dibantu supaya dapat tetap sehat sehingga tidak
memerlukan rumah sakit atau dokter. Dengan demikian maka mereka juga akan
dapat hidup lebih produktif.
Yang keempat, meletakkan rumah sakit (eh, sehat) di tengah-tengah Menteng
untuk orang miskin bukan menjadi jembatan antara miskin dan kaya, karena
untuk ke sana mereka yang miskin harus mempunyai uang untuk transportasinya
Yang kelima, yang saya dengar klinik ini bukan rumah sakit (sehat) karena
tidak mempunyai ruang perawatan. Yang ada hanyalah ruang periksa, termasuk
pemeriksaan spesialistik. Jadi lebih mirip klinik spesialis. Untuk bagian
kelima ini saya belum tahu pasti karena belum melihat sendiri.
Begitu loh mas Haniwar,
KM

Kirim email ke