Kalau ada perempuan kritis memang masyarakat menganggapnya galak,
penyebar aliran sesat dan sebagainya. Lalu laki-laki biasanya tampil
sebagai orang suci untuk menaklukkan perempuan yang sesat itu. Tapi
kalau ada laki-laki kritis masyarakat selalu memujinya sebagai
pahlawan, tokoh kritis, reformis dan sebagainya.

Seperti kisah Calon Arang, dari perspektif patriakhal cerita itu
menggambarkan sosok tokoh perempuan, janda yang jahat, yang
menyebarkan teluh kepada masyarakat, sampai akhirnya  datanglah
laki-laki sebagai pendeta suci untuk menghancurkannya. Namun demikian,
dalam perspektif Toety Heraty, calon arang bukanlah tokoh jahat. Toety
melihat Calon Arang dalam pandangan yang kompleks menyangkut situasi
perempuan. Calon arang  adalah perempuan kritis yang mencoba melawan
ketidakadilan yang membelenggu melalui sebuah kultur. Namun karena
kekuasaan patriakhal yang kuat, daya kritis dan perlawanan perempuan
sering dianggap sebagai pemberontakan dan kejahatan yang harus di
tumpas. Kalau toh akhirnya Calon Arang harus kalah dalam kisah itu,
kematiannya hanya untuk menjaga martabat patriakhi, bukan karena dia
tokoh yang jahat.

Salam,
EBS


Pada tanggal 01/10/07, Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>
>
>
>
>
> Pak Manneke, ternyata ada yang lebih galak dari feminis. Hehehe.
>
>  Mariana

Kirim email ke