----- Original Message ----
From: teguh luhur <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, January 15, 2008 11:55:29 AM
Subject: Para Kroni Bersuka-ria Kalau Kasus Soeharto Dibekukan

Para Kroni Bersuka-ria Kalau Kasus Soeharto Dibekukan
http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=9683&c_id=3&param=Q9jDniokuZMxIMdr5jyM 

(berpolitik.com): Gencarnya berbagai pihak mendesak agar ada kata maaf buat 
Soeharto, termasuk membekukan semua perkara hukumnya, tak ayal menerbitkan 
tanya. Apalagi, desakan itu begitu menggebu, serupa koor setuju yang biasa 
dilafalkan anggota MPR semasa Soeharto berkuasa. Dari mulai dalih hukum, 
politik hingga agama dipergunakan untuk membenarkan. 

Mulanya, hanya motif ekonomi yang diduga sebagai dasarnya. Ya, mereka 
ditengarai hendak mencari muka dihadapan keluarga besar Cendana. 
Harapannya,putra-putri Soeharto mau mengguyurkan pundi-pundinya kepada mereka. 
Apalagi, pemilu sudah dekat. 

Tapi, belakangan, ada yang menduga motifnya tak sekadar fulus. "Coba 
perhatikan. Sebagian besar yang bilang Soeharto harus dimaafkan itu adalah 
orang-oraang yang juga punya andil dalam kebangkrutan politik, sosial dan 
ekonomi di negeri ini. Sepertinya mereka berharap, kalau kasus Soeharto 
dibekukan, pun dengan mereka," seru ekonom Faisal Basri kepada berpolitik.com 
Senin sore (14/1).

Yang dimaksud Faisal tak lain para kroni Soeharto. Selain anak-anaknya, ada 
banyak politikus dan pengusaha yang menghamba pada diri penguasa orde baru 
selama 32 tahun lebih ini. Tingkah polah Soeharto selama berkuasa tentu saja 
tak dinikmati oleh dirinya sendiri. Para kroninya tak sekejap meluangkan 
kesempatan. Bahkan, yang tak mungkin bisa dijadikan mungkin. 

Para Kroni

Selain putra-putri dan kerabatnya (Sudwikatmono, Probosutedjo), dari kalangan 
pengusaha, nama Liem Sioe Liong alias Sudono Salim ada dalam urutan teratas 
sebagai kroninya. Kerjasamanya bersama Soehartolah yang membuatnya menjadi 
salah satu pengusaha terkaya di Asia. Yang paling sering disebut, Liem berjaya 
berkat konsesi penggilingan gandum yang diberikan Soeharto kepada dirinya. 
Konsesi itu membuat dirinya bisa membeli murah gandum yang diimpor Bulog 
(dibawah harga pembelian alias diberi subsidi) dan kemudian menjualnya lagi ke 
Bulog dengan harga pasar dan sekaligus memakainya sendiri untuk membangun 
kerajaan makanannya. 

Yang juga selalu disebut bagaimana kebijakan Soeharto begitu ramah terhadap 
bisnis Om Liem adalah momen ketika Indocemen Tungal Perkasa Oleng. Pemerintah 
tak sungkan memompakan duit untuk membantunya! Lantas bagaimana kabar Liem saat 
ini? Saat Soeharto menuai badai kecaman, Liem sudah tertirah dengan tenang di 
Singapura. Berseberangan dengan nasib Liem, kroni terdekat lainnya, Bob Hasan, 
justru sudah pernah meringkuk di Nusakambangan. 

Dari kalangan politisi, namanya cukup berderet. Pada generasi awal, ada nama 
Ali Murtopo yang berjasa membersihkan setiap kekuatan demokratik yang 
mempersoalkan lagam kekuasaan Soeharto. Lantas, setelah itu, ada Sudomo selaku 
Kopkamptib yang punya peran serupa dengan Ali Murtopo, meski kekuasaannya tak 
lagi sebesar Ali Murtopo. Tak boleh dilupakan Harmoko yang selalu mendahului 
kalimatnya dengan ungkapan, "Menurut petunjuk Bapak Presiden..." . Harmoko 
patut disebut sebagai arsitek breidel gaya baru yang melindas semua media massa 
yang berkisah miring mengenai Soeharto dan keluarganya. 

Ini belum menyangkut nama-nama seperti Benny Moerdani, Moerdiono, Sudharmono 
hingga yang masih mentas: Wiranto, SBY hingga Ginandjar Kartasasmita. Dari 
Ginandjar, beranak-pinak sejumlah pengusaha pribumi yang besar berkat 
kontrak-kontrak di dunia pertambangan yang diberikan olehnya. Salah satunya 
yang kini berkibar adalah Aburizal Bakrie (Menko Kesra). 

Secara institusional, tak pelak ada Golkar. Meski sudah melantunkan maaf, 
Golkar secara konsisten tak pernah secara terbuka mengecam Soeharto, apalagi 
meminta bekas bos besarnya ini diadili. Meski begitu, Golkar secara konsisten 
selalu menyebut bahwa di masa lalu mereka hanyalah alat dari penguasa. Dengan 
kata lain, Golkar membuang salah kepada Soeharto. Padahal, banyak dari mereka 
yang turut menikamati buah kekuasaan itu, termasuk melakukan manuver-manuver 
pribadi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri. 

Ini baru nama-nama yang masih tampil di ruang publik. Masih berderet nama-nama 
pengusaha, politisi, birokrat yang turut andil dalam kebringasan dan kerakusan 
rejim orde baru. Merekalah semua yang bakal belega hati kalau kasus Suharto 
ditutup. Jika kasus ditutup mereka berharap begitu pula adanya dengan kasus 
mereka, baik yang sedang diusut atau belum sempat diusut. Dari mulai kejahatan 
ekonomi hingga kejahatan terhadap kemanusiaan. 

Sekurang-kurangnya, kalau kepepet, mereka bisa buang badan dengan bilang: semua 
atas petunjuk dan perintah Soeharto. Pada saat itu, Soeharto besar kemungkinan 
sudah di liang kubur, hingga tak mungkinlah jaksa atau aparat KPK 
menyambanginya. 

Tapi, apakah dengan begitu, mesti surut menyeret para kroni Soeharto?


      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke