Salah satu berita di halaman muka Kompas edisi Rabu 16 Januari 2008 (hari ini), adalah tentang kunjungan Habibie dan istri ke RSSP untuk membezoek Soeharto. Saya kutipkan penggalannya di bawah ini. Di berita itu tercantum kalimat yang "menggantung": Habibie tak menyebutkan siapa dari pihak keluarga Soeharto yang menerima kedatangannya. Mengapa Kompas tidak mencoba memastikannya? Kelihatannya ini remeh-temeh, namun menurut hemat saya publik perlu tahu bagaimana persisnya, karena ini akan menunjukkan wujud hubungan Habibie dan Soeharto. Kita tahu, hubungan keduanya tidak mulus lagi tak lama setelah Soeharto mengundurkan diri. Keingintahuan publik mengenai masalah ini bisa terjawab di Koran Tempo, juga edisi Rabu ini. Pada halaman A-3, Koran Tempo menurunkan berita yang sama, namun selangkah lebih maju karena Koran Tempo kelihatannya cukup berhasil menerapkan jurnalisme investigatif dalam bentuk kecil-kecilan. Reporternya mendapatkan narasumber yang tak diungkapkan jatidirinya. Informasi dari narasumber ini menyiratkan bahwa Habibie seperti "ditelantarkan" oleh keluarga Soeharto. Ada kalimat di bagian menjelang akhir berita Koran Tempo tersebut: Sementara itu, anak-anak Soeharto yang berada di ruang perawatan tak satu pun menemui Habibie dan istrinya. "Bu Ainun (istri Habibie) berusaha menenangkan Habibie," ujar sumber itu tadi malam.
Jika kita menganggap informasi Koran Tempo ini benar, berarti Kompas memang telah tertinggal selangkah. Dalam istilah slang jurnalistik: Kompas "kecolongan". Salam, Arya Gunawan Soeharto Sakit Habibie Menengok Bersama Keluarga Jakarta, Kompas - Mantan Presiden RI BJ Habibie bersama istrinya Ny Ainun Habibie, Selasa (15/1) malam, menengok mantan Presiden Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Habibie bersama istrinya bertolak dari Jerman dan setibanya di Bandar Udara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, langsung menuju RSPP. Dalam keterangan persnya di lobi bawah RSPP, Habibie mengatakan tidak bisa berdialog dengan Soeharto karena yang bersangkutan masih tidur. "Tujuan saya datang ke sini untuk menengok dan berdoa, semoga Pak Harto lekas sembuh," ujarnya. Karena Soeharto masih tidur, demikian Habibie, ia bersama keluarganya berdoa di ruang sebelah kamar tempat Soeharto dirawat. Doa dipimpin Quraish Shihab. Dalam kunjungan itu, Habibie didampingi Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Muladi. Saat ditanya bagaimana perasaannya bisa mengunjungi Soeharto, Habibie yang mengenakan batik berwarna coklat menjawab," Silakan baca buku saya." Buku Habibie berjudul "Detik-detik yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi", terbitan tahun 2006. Habibie tak menyebutkan siapa dari pihak keluarga Soeharto yang menerima kedatangannya. [Non-text portions of this message have been removed]
