Pak Edy Pur, salam kenal dari saya, yang juga bernama edi, yang lahir
dan besar di kaki Gunung Sindoro-Sumbing, di wilayah Temanggung.

Yang saya tahu, ada banyak (keluarga) petani yang bernasib buntung
seperti cerita Pak Edy Pur itu. Yang ndak pernah buntung ya para
pengusaha-pabrikan tembakau yang punya gudang maha luas di berbagai
wilayah Temanggung. Semua perusahaan rokok besar yang pemiliknya
termasuk orang terkaya di Indonesia itu, punya gudang-pembelian di
wilayah temanggung.

Sementara, para petaninya, saat mau musim tanam, dan tidak punya
modal, mereka meminjam ke para tengkulak (atau siapa saja yang
meminjamkan modal) dengan sistem "limolasan". Kalau si petani pinjam
10 di awal musim tanam, maka, diakhir musim panen, harus
mengembalikannya sebanyak 15.

Saat mau menjual (atau istilahnya: setor) tembakau ke pembeli (ke
tengkulak atau juga ke gudang-pembelian dari pabrik rokok besar),
mereka terkena sistem "cemolan", sistem pengurangan (koreksi) berat
timbangan karena penggunaan wadah ("ketipung" istilah Temanggungnya).
Dan koreksi ini bisa-bisa mengambil sekitar 10 kg sendiri untuk berat
"ketipung" yang sekitar 1 kuintal....

salam,
edi

--- In [email protected], "Edy P" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Dalam  sarasehan di sebuah dusun di lereng Gunung Sumbing Wonosobo
ada seorang bapak yang mengeluhkan biaya pendidikan anaknya yang masih
ada di kelas III SD karena dirasa terlalu berat membebani. Ketika
ditanya "berapa uang SPP anak bapak di SD tersebut" bapak itu menjawab
Rp 7.000 / bulan sambil dia mengisap rokok yang terselip di sela
jari-jari tangan kirinya.
> 
> Sang pemandu sarasehan yang tidak lain adalah seorang konsultan UNDP
di Jateng itu kemudian bertanya: "Bapak merokok habis berapa bungkus
per harinya? Berapa harga rokok itu per bungkus?" Bapak itu mulai
hitung-hitung jumlah uang yang dihabiskan untuk beli rokok dalam
sebulan karena dia rata-rata menghabiskan satu setengah bungkus per
hari dengan harga rata-rata rokok yang dikonsumsinya Rp 5.500 /
bungkus.  Setelah agak lama menghitung kemudian bapak itu teriak:
"Saya habis Rp 247.500 / bulan". 
> 
> Konsultan UNDP tersebut tidak menyalahkan sang bapak tadi. Dia hanya
kembali bertanya: "Apakah masih keberatan membayar SPP yang tidak
mencapai sepertigapuluh dari uang yang bapak bakar melalui rokok?"
> 
> Menghidupkan? Mematikan? Baik? Jelek? Menguntungkan? atau Merugikan?
Pertimbangkan sendiri dengan kebebasan akal budi yang dikaruniakan Tuhan.
> 
> edy pur 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke