Bukan hanya bidang ekonomi saja yang bisa mengalami resesi. Hari ini KOMPAS
memuat beberapa halaman yang menyoroti kisah tragis sepakbola nasional tanah
air. Sudah bosan kalau dibilang bahwa pembenahan mustinya dimulai dari pimpinan
puncak pengurus PSSI. Ya, mana mungkin sich Tuhan bakal “merestui” ketua
organisasi besar dikepalai oleh terpidana. Waktu dia hendak dilantik jadi
anggota parlemen saja bisa tahu diri, eh untuk sepakbola nggak malu tuch kena
tegur FIFA.
Maka jadilah “teladan” mengangkangi aturan dan etika mewabah ke berbagai
pihak. Pengurusnya main gonta-ganti aturan, tokh nggak ada hukumannya. Wasit,
pelatih, dan pemain saling adu jotos paling hanya dihukum beberapa jam saja
sebelum kemudian dianulir. Suporter bola, udah masuk stadionnya nggak bayar,
juga merasa paling punya hak menghakimi pertandingan dengan tindakan anarkisme.
Dan itu semuanya tanpa tedeng aling muncul di layar kaca. Lama kelamaan pemirsa
akan menganggap segala kerusuhan itu bukan sesuatu yang salah, karena dalam
pengertiannya klub kebanggaannya sedang di-zhalimi pihak lawan.
Banyak saksi, bahkan wajah provokator pun sebenarnya bisa kelihatan ( sambil
merasa prihatin lalu kerja panpel dan aparat keamanan apa ? ), namun sedikit
yang diadili secara pidana. Mirip2 dengan kasus memilukan IPDN, video
kebrutalan para praja tersebut begitu terang benderang bisa kita lihat di
televisi, namun berapa sich dari mereka yang dihukum sepantasnya.
Sialnya lagi, APBN daerah dikuras untuk membayari pemain impor yang justru
kerapkali menebar benih2 kerusuhan dan bukannya menularkan sikap
profesionalisme + ketrampilan mengolah bola. Taruhan yuk, seandainya Liga
Indonesia hanya muncul di tv kabel, apakah para pemirsanya akan buru2 pasang tv
berlangganan tersebut seperti ketika siaran langsung EPL tiba2 raib dari
pantauan kita ? Atau tv swasta kita melakukan boikot saja untuk tidak ikutan
tender hak siar liga nasional, selama mental bobrok masih menghinggapi insan2
sepakbola negeri ini. Biar tahu rasa, gimana rasanya dicuekin karena rakyat
disuguhkan tontonan tidak berbobot.
Bagaimana kalau format liga super yang bakal digelar tahun ini cukup
mempertemukan klub yang diisi 100% pemain lokal melawan klub local yang 100%
pemain asing untuk lawan tanding. Jadi nggak perlu repot2 bikin pelatnas atau
dikirim berlatih ke luar negeri kalau timnas hendak berlaga dengan tim negara
lain, he he he…. Tampaknya perlu juga dibentuk : KPS = Komisi Penyelamatan
Sepakbola.
PS : ditunggu kapan lengsernya NH dari jabatan ketua PSSI, nggak perlu nunggu
diopname ke RSPP khan seperti pak Harto ? Jadi nggak sich munas PSSI untuk
menggusur NH dari “tahtanya” ?
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]